Chapter 31

13 6 0
                                        

Beberapa saat kemudian ibunda Hyunjin dan Sia sudah menyelesaikan masakan mereka, para pembantu sudah menyiapkan meja makan yang juga dibantu Hyunjin. Obrolan ringan dan tawa canda menghiasi area dapur malam itu. Tidak ada lagi perasaan canggung dan kecemasan yang hinggap di masing-masing orang, kecuali rasa penasaran Hyunjin yang kian memuncak saat beberapa kali bundanya dan Sia mengobrol dengan sangat akrab.

Meja makan sudah ditata, piring dan peralatan makan lainnya sudah di siapkan dengan rapi, begitu juga dengan masakan hasil karya Sia dan bundanya sudah tersaji dengan platting yang indah. Ibunda Hyunjin dan anaknya duduk berhadapan dengan Sia yang duduk di kursi samping kekasihnya, tempat duduk yang sudah disiapkan pria itu sedari tadi.

"Oke~ Mari makan!" Ucap bundanya saat semuanya sudah siap.

Hyunjin dan bundanya langsung mengambil pasta buatan Sia, meletakkannya di piring masing-masing sebelum akhirnya menyendokkannya kemulut mereka.

"Semoga tante dan Hyunjin suka." Ujar Sia yang tampak khawatir dengan rasa masakannya.

Gadis itu gugup akan masakan pertamanya untuk Hyunjin dan bundanya.

Apakah rasanya pas? Apakah sesuai selera? Batin Sia cemas.

"Wah! Ini enak sekali, Sia." Puji bunda Hyunjin sambil tersenyum.

"Wow~ Ini akan menjadi pasta favoritku mulai hari ini!" Ucap Hyunjin yang sangat bersemangat hingga menutup matanya dengan mulut yang penuh dengan creamy pasta.

Sia tersenyum lega. Masakannya sesuai selera Hyunjin dan bundanya.

"Syukurlah." Ucap Sia yang menampakkan senyum manisnya dan rona merah wajahnya setelah membersihkan sisa pasta di sudut bibir kekasihnya. Hal yang selalu dia lakukan jika pria itu makan dengan berantakan.

"Ayo coba bulgogi ini!" Kata bunda Hyunjin yang sedikit terkejut dengan tindakan kedua anak didepannya itu.

Bunda Hyunjin bisa merasakan hal itu adalah kebiasaan yang sering dilakukan Sia, bahkan Hyunjin tidak terkejut atau tampak canggung dengan perlakuan kekasihnya yang terkesan tiba-tiba.

Gadis itu mencoba masakan bunda Hyunjin dan segera membelalakkan matanya saat merasakan kelezatan daging bulgogi itu.

"Wah! Sepertinya ini harus mendapatkan penghargaan Tiga Bintang Michelin, tante!" Seru Sia yang kembali mengambil beberapa potong daging itu.

"Ini adalah salah satu masakan terbaik bunda." Puji Hyunjin bangga dengan masakan bundanya.

"Benarkah? Sepertinya aku harus sering-sering berkunjung agar bisa merasakan masakan lezat lainnya." Jawab Sia spontan sambil menatap wajah kekasihnya.

Namun jawaban itu membuat Hyunjin langsung tersipu malu dan berupaya menghindari tatapan mata Sia, pria itu sepertinya masih terjebak dengan situasi berbahaya yang mereka lakukan dikamarnya tadi. Membayangkan seringnya kunjungan Sia untuk makan malam dirumahnya dan apa yang mereka lakukan tadi membuat Hyunjin tidak bisa menutupi rasa bahagianya, sudut bibirnya yang naik dan wajahnya yang memanas.

Gadis yang tidak sadar akan ucapannya yang membuat Hyunjin malu itu hanya tersenyum dan kembali meneruskan makan malamnya dengan tenang. Piring diatas meja sudah hampir kosong, makanan hanya tersisa beberapa suapan di piring masing-masing.

"Jadi― Apa yang kalian lakukan?" Tanya bunda Hyunjin tiba-tiba.

Membuat Sia yang baru saja menyuapkan satu suapan terakhir dari creamy pasta ke dalam mulutnya itu langsung tersedak karena terkejut.

Hyunjin yang menyadari hal itu segera memberi segelas air putih untuk Sia minum, pria itu juga sesekali menepuk punggung kekasihnya dan mengelap bekas air yang tersisa di sudut bibir si gadis.

Love UntoldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang