"Sia. Aku rasa kita harus segera bertunangan." Simpul Hyunjin dengan pikiran yang masih beradu hebat itu.
"Jika bisa, aku ingin segera mengikatmu dengan status yang jelas sebelum kita berangkat ke Jeju akhir pekan ini." Hyunjin berusaha mengeluarkan pemikirannya.
"Aku― aku tidak mau Seungmin atau pria manapun meremehkan hubungan kita." Lanjut Hyunjin yang tampak tegas, meski tatap matanya masih terlihat sedang menahan amarah.
Sia yang awalnya terkejut dengan pemintaan Hyunjin berangsur memahami maksud perkataan kekasihnya. Dia sangat amat bahagia sebab Hyunjin ingin mengikatnya dengan status yang lebih jelas, menjadikannya gadis satu-satunya yang bisa memiliki Hyunjin seutuhnya, namun Sia juga paham jika Hyunjin-nya saat ini sedang emosi.
Kecemburuan yang tampak menggebu dalam tatap mata pria-nya dan juga amarah yang dia rasakan dalam lumatan basah mendebarkan tadi membuat Sia yakin jika kekasihnya itu butuh di tenangkan.
Bukan penolakan atau malah pertanyaan tentang perasaan yang Hyunjin butuhkan sekarang. Menolak ide bertunangan yang tiba-tiba sebab emosi yang memuncak malah akan membuat kekasihnya semakin gelisah. Apalagi jika dia mempertanyakan perasaan Hyunjin― membuat pria-nya akan berpikir jika dia meragukan perasaannya.
"Hyun―" Sia memanggil kekasihnya dengan begitu lembut sambil mengelus dada Hyunjin, berusaha meredakan emosi si pria.
Hyunjin yang dipanggil begitu lembut malah tampak semakin gelisah. Takut jika permintaannya akan ditolak, takut jika Sia pada akhirnya akan memilih pria yang sudah dijodohkan oleh keluarganya.
Sia masih menunduk dan terdiam, mencoba merangkai kata yang tepat agar Hyunjin-nya tidak salah paham.
Pria itu lalu mendongakkan kepala Sia dengan kedua tangannya, tampak tidak sabar menunggu jawaban Sia.
"Aku mau bertunangan denganmu karena aku mencintaimu, Hyun." Ucap Sia sambil menatap mata Hyunjin lekat.
Pria yang sempat tersenyum itu kemudian meluruhkan otot wajahnya, memasang wajah gelisah sebab perkataan si gadis.
"Aku mencintaimu, karena itu aku mau bertunangan denganmu." Tegas Sia lagi.
Dia hanya ingin Hyunjin meyakini perasaannya, perasaan yang sama besarnya dengan miliknya, perasaan cinta yang menjadi dasar suatu hubungan, perasaan yang membuatnya yakin melangkah ke jenjang berikutnya dengan Hyunjin. Namun pria di depannya itu masih terdiam.
"Hyun―" Panggil Sia lagi, kali ini tangan yang sedari tadi mengelus lembut dada kekasihnya beralih ke pipi Hyunjin. Mencoba menyadarkan pria-nya dari apapun yang mengusik pikirannya.
"So let's get engaged, Hyun." Kata Sia kemudian.
Gadis itu tampak bahagia. Hyunjin bisa merasakan itu, tapi ada yang berbeda dari sorot mata Sia-nya.
"Sia― Ak-Aku―" Hyunjin bimbang.
Dia meyakini perasaannya pada Sia, namun jika cinta yang Sia minta, Hyunjin masih belum bisa mengatakannya.
Bukannya dia tidak mencintai Sia, namun dia takut jika ucapan cinta yang dinanti Sia, perkataan tulusnya itu akan ternodai dengan emosi dan kecemburuan yang masih menguasai dirinya. Takut jika pernyataan cintannya di salahpahami hanya karena dirinya sedang tidak baik-baik saja.
"Apa kamu meragukan ku?" Tanya Sia.
Hyunjin segera menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak pernah meragukanmu, Sia. Hanya saja―" Jelas Hyunjin terhenti.
"Kalau begitu ayo bertunangan, Hyun. Itukan yang kamu minta, mengikatku dengan status yang jelas." Sia berkata dengan tenang.
Hyunjin yang tampak bimbang itu, menganggukkan kepalanya. Yakin jika dia mau bertunangan dengan Sia, tapi―
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Untold
FanfictionDi depan orang yang mencintaiku, aku bahkan tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintainya Itu menyakitkan Aku tak tahu seperti ini adanya Karena jantungku yang berdebar kencang di hadapanmu Itu membuatku ingin menghela nafas tanpa alasan Air mata yan...
