Di depan orang yang mencintaiku, aku bahkan tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintainya
Itu menyakitkan
Aku tak tahu seperti ini adanya
Karena jantungku yang berdebar kencang di hadapanmu
Itu membuatku ingin menghela nafas tanpa alasan
Air mata yan...
"Kalian yakin bisa menjaga hubungan kalian, kan?" Tanya mama Sia yang sekali lagi meyakinkan Sia dan Hyunjin mengenai keputusan pertunangan yang terasa terlalu terburu-buru ini.
Sia dan Hyunjin saling pandang sejenak sebelum kemudian tersenyum dan mengangguk yakin.
"Baiklah segera kabari kami jika kedua orangtuamu punya waktu senggang agar kita bisa segera bertemu dan merencanakan pertunangan kalian." Kata mama Sia pada Hyunjin.
Hyunjin akhirnya berpamitan― sekali lagi, setelah pelukan hangat papa Sia yang menyiratkan sejuta makna dan juga tepukan halus mama si gadis pada pipinya yang terasa masih menyimpan kegelisahan.
Kekasih Sia itu kemudian membungkuk sopan dan pergi meninggalkan ruang keluarga dengan tangan Sia yang masih mengalun di lengannya. Gadis itu sekali lagi mengantarnya kembali ke mobil Hyunjin.
Di sana, disamping mobil si pria, masih berserakan buket bunga lily putih yang dibawa Seungmin dan juga beberapa kelopak mawar merah yang terjatuh ketika Sia dan Seungmin saling mendorong. Sedang buket pemberian Hyunjin, saat ini sudah aman berada di atas meja ruang keluarga kediaman Sia.
"Aku pulang ya, princess." Pamit Hyunjin setelah mengecup pundak kepala kekasihnya.
Namun gadis yang masih memegang pergelangan tangan Hyunjin dengan erat itu menahan kekasihnya yang sudah akan masuk ke dalam mobil, membuat Hyunjin menoleh dan menatap ke arah Sia.
"Hyun― kamu mencintai aku, kan?" Tanya Sia lembut.
Dari suaranya, Sia tidak terdengar dia meragukan perasaan Hyunjin. Dari raut wajahnya, Sia hanya ingin menegaskan keputusan yang mereka ambil adalah benar, meyakinkan lagi perasaan keduanya.
Hyunjin lalu mengangguk dan tersenyum, mengiyakan pertanyaan Sia.
Sia yang awalnya ingin mendengar lagi penyataan cinta sang kekasih pun hanya bisa tersenyum dan memeluk Hyunjin-nya.
"Terima kasih, prince." Kata Sia dalam pelukan kekasihnya.
"Aku yang berterima kasih karena kamu mencintai aku, Yoon Sia." Ujar Hyunjin lembut.
Gadis itu lalu melepas pelukannya dan mengecup bibir Hyunjin pelan, menyalurkan rasa aman dan nyaman pada kekasihnya.
"Hati-hati dijalan― my future fiancé." Lirih Sia dengan senyum manisnya.
Namun Hyunjin masih menatap bibir lembut si gadis, dirinya masih ingin merasakan sentuhan mendebarkan dari bibir Sia-nya.
"Can I kiss you again, my princess?" Tanya Hyunjin dengan tatap mata masih fokus pada bibir tebal si gadis.
Sia kemudian tersenyum dan mengangguk sebelum akhirnya menyerahkan bibirnya dalam lumatan basah mengairahkan sang cinta pertama.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Sia terbangun dengan mood yang sangat baik. Meski hanya tidur selama empat jam, kekasih Hyunjin itu tidak merasa lelah. Selain karena semalam dia menemai Hyunjin hingga prianya sampai dengan selamat di rumahnya, pagi itu Sia di bangunkan dengan dering panggilan pacar pertama setelah sang kekasih berbicara dengan sang ibunda.