Di depan orang yang mencintaiku, aku bahkan tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintainya
Itu menyakitkan
Aku tak tahu seperti ini adanya
Karena jantungku yang berdebar kencang di hadapanmu
Itu membuatku ingin menghela nafas tanpa alasan
Air mata yan...
Hyunjin mengendurkan pelukannya dan menatap gadisnya dengan bingung.
"Detak jantungmu sangat cepat." Ucap Sia kemudian.
Pria itu tersenyum dan mengikis jarak antara dirinya dan Sia, mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat bibir yang sedari tadi sudah ingin dia lumat.
CUP
"Ya― Aku sangat bahagia." Kata Hyunjin yang kembali memeluk gadisnya.
Aku bahagia, kan? Batin Hyunjin kemudian.
"Hyun― Jangan pernah membiarkan gadis manapun memelukmu. Jangan biarkan gadis lain mencuri ciuman darimu. Jangan biarkan gadis lain membuatmu ragu akan perasaanmu padaku."
"Aku tidak akan memaksamu mengatakan kata cinta."
"Tapi―" Sia melepas pelukannya dan menatap Hyunjin. Sorot matanya tampak tegas meski ada ketakutan yang bisa Hyunjin rasakan.
"Berjanjilah bahwa aku satu-satunya gadis untukmu."
"Yang akan kamu cium, kamu peluk dan kamu miliki. Yang akan selalu kamu khawatirkan, kamu cemaskan dan selalu kamu rindukan."
"Hanya aku― gadis satu-satunya dihidupmu."
"Jangan beri kesempatan gadis lain untuk merasakan semua itu. Walaupun untuk merasakan kecemasan-mu atau kekhawatiran-mu." Lanjut Sia dengan mata berkaca-kaca.
Hyunjin mengangguk tegas dan menarik Sia dalam dekapannya.
"Hanya kamu Sia. Satu-satunya seumur hidupku, hanya akan ada Yoon Sia."
"Aku berjanji." Tegas Hyunjin yakin.
"Dan―"
"Jangan pernah menutupi apapun dariku. Katakan apapun yang terjadi. Terutama apapun yang kamu rasakan dan pikirkan tentang gadis lain. Gadis manapun." Kata Sia.
Hyunjin mengangguk. Tangannya masih membelai lembut rambut kekasihnya itu.
"Dan Seungmin― aku dan dia― Hmmphh!"
Perkataan Sia dihentikan Hyunjin dengan ciuman di mulutnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hyunjin mencium Sia dengan begitu menggebu. Lumatan, gigitan lembut, bahkan hisapannya terasa sangat berbeda. Seakan ada perasaan rindu dan rasa cemburu yang menggebu lebur menjadi satu. Membuat ciuman Hyunjin terasa penuh emosi.
Sia yang hampir kehabisan nafas, memukul lembut lengan Hyunjin, menyadarkan pria-nya itu untuk menghentikan lumatan basahnya itu.
Hyunjin yang menyadari hembusan nafas berat Sia di sela ciuman merekapun melepas kaitan bibirnya, meski tangannya masih berada di pipi si gadis. Seakan-akan dia hanya memberi Sia waktu untuk bernafas sebelum kembali melumat bibir tebal yang sangat dia rindukan itu.