"Sejak kapan? Dimana?" Tanya Hyunjin yang memegang lengan ibundanya dan pinggang si gadis, dia tampak sangat penasaran akan kenyataan yang membingungkan ini.
Hyunjin menatap bunda dan Sia-nya secara bergantian, menunggu mereka menjawab pertanyaannya. Pria itu tampak mendecakkan lidahnya karena pertanyaannya tidak kunjung di jawab.
"Bunda mengenal Sia-ku?" Tanya Hyunjin langsung menatap bundanya, tangannya perlahan mengenggam tangan Sia, membuat tangan bundanya dan tangan kekasihnya itu terlepas.
"Tentu saja, Hyun." Jawab bundanya bersemangat dengan senyum bahagia.
Bunda Hyunjin melihat Sia dengan tatapan bahagia dan terharu. Dia kemudian mengelus lembut rambut si gadis dan perlahan sedikit melangkah mundur, melihat anaknya yang mengenggam erat tangan calon menantunya itu, melihat pasangan muda yang turut membuatnya bangga.
Akhirnya— kalian sama-sama saling menemukan. Gadis pilihan ku, gadis yang aku yakini bisa membahagiakan Hyunjin, telah berhasil memenangkan hatimu, nak. Batin bunda Hyunjin bangga
"Sia, kamu suka daging kan? Bunda akan memasakkan makanan yang enak dan special untuk kamu. Kalian―"
"S-saya― Saya akan membantu. Boleh kan, tante?" Tanya Sia terdengar ragu. Dia takut tampak kurang sopan dan seolah-olah malah mengganggu ibunda Hyunjin di dapur.
"Kalian tunggu disini saja. Bunda akan memasak lalu kita makan malam sambil mengobrol banyak. Ya?" Ujar bunda dengan senyum ramah dan bahagia. Dia tidak mau mengganggu pasangan yang sedang kasmaran itu.
Namun kekasih Hyunjin itu melepas genggaman tangan sang cinta pertama dan beralih memegang tangan sang ibunda, menghentikan langkahnya keluar kamar. Dia tidak akan nyaman berduaan dengan Hyunjin yang saat ini penuh rasa penasaran, dia takut malah akan disalahpahami oleh kekasihnya jika dia menjelaskan sendiri.
Maka dari itu dia memilih untuk bersama dengan ibunda Hyunjin, meski dia juga akan merasa canggung karena beliau melihat hal yang tidak senonoh, tapi Sia yakin ibunda Hyunjin lebih logis daripada harus menghadapi kekasihnya dan rasa ingin tahunya yang begitu kuat.
"Sia akan bersama tante di dapur. Boleh ya tante?" Tanya Sia terkesan seperti meminta tolong untuk tidak ditinggal berdua dengan anaknya itu.
Ibunda Hyunjin tampak terkejut namun detik berikutnya, beliau mengangguk dan tersenyum. Membuat Sia langsung mengaitkan tangannya ke lengan ibunda sang kekasih dan segera berjalan cepat keluar kamar Hyunjin.
Sedang si pria yang menyadari jika kedua wanita itu sedang menghindarinya, segera mengekor di belakangnya, mengikuti ibunda dan Sia yang sudah berada di tangga.
"Tunggu~ Aku ikut!" Kata Hyunjin bersemangat.
Dia tidak mau sendirian dan menebak-nebak hubungan bundanya dan Sia. Dia ingin mereka bertanggung jawab dengan rasa penasarannya yang sudah menggebu-gebu itu.
Bagaimana bunda dan Sia saling mengenal? Sejak kapan? Sudah berapa lama? Mengapa aku tidak tahu? Apa yang membuat bundanya terlihat begitu mengenal Sia? Siapa sebenarnya Sia?
Banyak list pertanyaan yang sudah memenuhi isi kepalanya.
Pria itu langsung mengaitkan tangannya ke lengan bundanya, sama seperti yang Sia lakukan. Membuat Hyunjin, bundanya dan Sia berjalan beriringan di tangga. Bundanya tampak terkejut dengan antusisme anakanya, padahal pagi tadi anaknya tampak tidak bertenaga saat disuruh mengantar Giselle.
"Bunda bahagia jika ditemani anak bunda dan dibantu calon menantu bunda seperti ini." Ujar bunda Hyunjin yang membuat si gadis langsung menunduk malu dengan rona merah diwajahnya, sedang kekasih Sia masih tampak bingung dengan situasi yang ada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Untold
FanfictionDi depan orang yang mencintaiku, aku bahkan tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintainya Itu menyakitkan Aku tak tahu seperti ini adanya Karena jantungku yang berdebar kencang di hadapanmu Itu membuatku ingin menghela nafas tanpa alasan Air mata yan...
