Di depan orang yang mencintaiku, aku bahkan tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintainya
Itu menyakitkan
Aku tak tahu seperti ini adanya
Karena jantungku yang berdebar kencang di hadapanmu
Itu membuatku ingin menghela nafas tanpa alasan
Air mata yan...
"B-biar aku saja yang mengantarnya ke hotel tempatnya menginap, Hyun." Kata Sia masih berusaha menengahi situasi.
Kekasih Hyunjin itu lebih memilih pulang terlambat dan mengantar Giselle ke hotelnya, pasti ada kunci atau apapun yang menjelaskan dimana Giselle seharusnya menginap- jika memang gadis itu berniat pergi dari rumah kekasihnya sedari awal.
Hyunjin menoleh ke arah Sia setelah mendengar ucapan gadisnya, membuat Sia tersenyum dan mengangguk, meyakinkan Hyunjin akan perkataannya.
"Aku akan mengantarnya, Hyun. Aku tahu hotel-hotel di Seoul." Lanjut Sia berusaha meyakinkan Hyunjin.
Sia masih berkata dengan lembut, meski perasaannya saat ini sangat tersakiti dengan dekapan erat Hyunjin pada tubuh Giselle yang bersandar sepenuhnya pada dada prianya. Dia tidak ingin bertengkar dengan kekasihnya hanya karena sandiwara Giselle yang sejujurnya tidak pandai berakting.
Hyunjin masih terdiam melihat Sia. Dia tidak tahu kenapa gadisnya berkata seperti itu. Bukankah tadi dia sudah ditelepon mamanya? Bukankah akan lebih merepotkan untuk mengantar Giselle ke hotel lalu pulang? Sia akan lebih larut sampai dirumah. Cemas Hyunjin.
"Hei― katakan dimana kamu menginap. Aku akan mengantarmu kesana." Kata Sia berusaha melepaskan tubuh Giselle yang bersandar pada dada Hyunjin dengan nyaman.
Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya dan semakin mengeratkan ikatan tangannya pada pinggang Hyunjin sambil menggumam tidak jelas.
"Sia― dia mabuk. Dia lupa hotelnya. Jadi―" Ujar Hyunjin yang masih biasa saja saat gadis itu mengusakkan wajahnya ke dada Hyunjin.
"Jadi kamu akan membiarkannya menginap disini, Hwang?" Tanya Sia menghentikan perkataan Hyunjin dengan nada kesal akan ketidak-pekaan kekasihnya tentang kepura-puraan Giselle.
Hyunjin terdiam. Bukankah seharusnya begitu? Apalagi dia adalah anak teman ayahnya, dan itu akan lebih mudah untuk Giselle, dirinya dan juga Sia. Pikir Hyunjin.
Kekasih Hyunjin itu sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya, dia berusaha menarik tubuh Giselle yang semakin nyaman bersandar di tubuh Hyunjin.
"YOON SIA!!" Bentak Hyunjin melepaskan tangan Sia dari lengan Giselle dengan sentakan kasar.
"APA YANG KAMU LAKUKAN? DIA SEDANG MABUK." Lanjut Hyunjin masih dengan nada tinggi. Dia membenahi kepala Giselle yang sedikit terjatuh, kembali menyandarkannya pada dadanya.
Sia semakin marah melihat Hyunjin bersikap dan berkata sekasar itu padanya hanya untuk membela Giselle yang bersandiwara. Bahkan kekasihnya itu dengan lembut menyandarkan kepala gadis itu pada dadanya, membuat lengan Giselle semakin melingkar pada leher Hyunjin.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"YAH HWANG HYUNJIN!! KAMU-" Sia balas berteriak, air matanya menetes tanpa bisa dia cegah. Tubuhnya yang dia usahakan tetap berdiri tegak itu, melemah. Kakinya melemas, membuat Sia berpegang pada ujung mobilnya agar tidak terjatuh.