Setelah menyelesaikan makan malamnya, mereka membantu para pembantu untuk meringkas peralatan makan ke dapur. Bunda Hyunjin meminta salah satu pembantunya untuk menyiapkan teh di taman belakang rumahnya sembari mengajak Sia untuk melihat sekeliling rumahnya.
"Jadi― sudah berapa lama kalian berpacaran?" Tanya bunda Hyunjin saat mereka sudah duduk santai di taman belakang.
Wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu tersenyum saat melihat Hyunjin dan Sia yang terlihat malu-malu dipandang bergantian oleh sang ibunda.
"Baru tiga puluh tiga hari, tante." Jawab Sia malu-malu.
"Wah sudah lama ya." Ujar bunda Hyunjin tersenyum.
"Kenapa tante baru tahu jika kamu yang menjadi pacarnya Hyunjin, ya?" Lanjut bundanya.
Sia dan Hyunjin saling memandang lalu tersenyum malu. Pria itu menggenggam tangan gadisnya, tampak sekali mereka sedang kasmaran.
Bunda Hyunjin yang melihat itu tampak sangat bahagia melihat anaknya menjadi kekasih gadis yang sangat ingin dia jodohkan dengan Hyunjin.
"Jadi Yoon Sia yang sudah mengubah kamu, Hyun?" Tanya bunda menatap Hyunjin lembut.
Hyunjin dan Sia saling tatap tak mengerti.
"Anak bunda sekarang terlihat lebih tenang dan dewasa. Lukisan-lukisanmu juga tidak hanya indah tapi juga memiliki perasaan yang tersirat. Mungkin karena kamu sedang mengalami perasaan itu." Jelas bunda pelan lalu menyeruput teh-nya.
"Bunda jadi ingat, Hyunjin dulu menjadi suka melukis sejak melihat lukisan senjamu. Katanya dia ingin melukis seperti apa yang terlukis di lukisanmu itu. Kalau di pikirkan lagi sekarang, melihatnya memang membuat perasaan lebih tenang." Lanjut bunda Hyunjin sambil seakan melamun.
"Sungguh karena lukisan itu, Hyun?" Tanya Sia penasaran.
Gadis itu menoleh dan menatap Hyunjin yang duduk di sampingnya. Tidak menyangka jika lukisannya yang membuat kekasihnya ingin menjadi pelukis.
Hyunjin tersenyum dan mengangguk.
"Aku menyukai perasaan saat pertama kali melihatnya. Aku kira lukisan itu di lukiskan oleh seseorang yang sudah dewasa, karena aku selalu merasa tenang saat melihat lukisan Senja itu. Ada perasaan yang menenangkan, yang membuatku nyaman dan merasa hangat meski aku kadang aku juga bisa merasakan udara dingin dari lukisan tersebut."
"Tapi ternyata pelukisnya kamu, gadis yang seumuran denganku." Jawab Hyunjin tersenyum menatap Sia.
Sia terdiam tampak mengingat sesuatu, "Aku melukis itu saat mengingat kalau aku pernah melihat senja yang indah dari lantai teratas gedung perusahaan papaku. Aku melukisnya karena aku merasa rindu melihat senja dari sana." Jelas Sia sambil tersenyum.
Hyunjin dan bundanya mengangguk. Mereka seakan mengerti kenapa lukisan itu terasa hangat dan menggambarkan perasaan Sia yang begitu menyukai senja itu.
"Jadi tulisan June dilukisan itu adalah kamu?" Tanya Hyunjin ingin tahu.
Sepertinya dia pernah melihat beberapa lukisan dengan mana inisial yang sama, June― maka dari itu dia berpikir jika pelukisnya adalah seseorang yang sudah dewasa dengan banyak pengalaman.
Sia tersenyum malu lalu mengangguk.
"Aku lahir dibulan Juni. Dan aku menggunakan nama bulan kelahiranku untuk menunjukkan identitas saja." Jelas Sia lembut.
Hyunjin mengangguk, masih dengan tatapan takjub pada kekasihnya. Banyak yang dia pikirkan, yang ingin dia tanyakan kepada Sia-nya― satu-satunya pelukis yang membuatnya menyukai seni lukis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Untold
FanfictionDi depan orang yang mencintaiku, aku bahkan tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintainya Itu menyakitkan Aku tak tahu seperti ini adanya Karena jantungku yang berdebar kencang di hadapanmu Itu membuatku ingin menghela nafas tanpa alasan Air mata yan...
