"Apa aku sedang jatuh— cinta?" Lanjut si pria. Dia dengan segera menggeleng karena malu mengatakan hal yang masih terasa aneh untuk dirinya sendiri.
Namun jawaban si pria yang terkesan malu-malu dan ragu itu mampu membuat debaran jantung Sia semakin kencang. Tangan si gadis yang awalnya berada di wajah Hyunjin langsung terlepas, dia merasa sangat malu dengan ucapan pacar pertamanya yang tiba-tiba itu.
Hyunjin yang masih tertawa pelan karena melihat ekspresi gadisnya itu langsung menarik tangan Sia, membawanya dalam genggaman tangannya.
"Sia—" Ucapnya, membuat gadis itu mendongkak, menatap sang kekasih.
"Kamu masih mau bersabar menungguku menyatakan perasaanku kan?" Tanya Hyunjin pelan.
Sia mengangguk.
"Meski butuh waktu lama?" Tanya Hyunjin lagi.
"Seberapa lama? Satu minggu? Satu bulan? Satu tahun? Atau― sampai kehidupan selanjutnya―?" Tanya Sia balik dengan wajah usilnya.
"Yoon Sia―" Ucap pria itu. Dia sedikit mengerucutkan bibirnya, kesal dengan keusilan sang kekasih.
Gadis itu tersenyum dan kembali menangkup wajah Hyunjin, "Aku akan menunggumu selama apapun waktu yang kamu butuhkan, Hyun. Aku hanya ingin kamu jujur dan mengatakan semua pikiran serta perasaanmu padaku."
"Aku akan tetap menunggu, selama kamu juga menunjukkan perasaanmu tanpa perlu mengatakannya secara gamblang."
"Aku akan terus menunggu selama kamu hanya menjadikan aku nomor satu dan satu-satunya untukmu. Membuatku meyakini bahwa hanya aku dan tidak ada yang lain. Menegaskan bahwa tidak ada yang kamu sembunyikan dariku."
"Aku hanya perlu tahu apapun yang kamu rasakan dan pikirkan. Jangan membuatku menebak dan berakhir dengan salah paham." Jawab Sia tegas.
Hyunjin mengangguk memahami maksud gadisnya.
"Berjanjilah, kamu akan mengatakan apapun itu. Berjanjilah bahwa tidak ada kebohongan yang kamu ucapkan walaupun itu kebohongan putih. Berjanjilah tidak ada kebenaran yang mungkin menyakitkan untukku, yang kamu tutupi dariku dengan pemikiran bahwa itu lebih baik untukku, yang kamu pikir itu adalah yang terbaik daripada aku tahu yang sebenarnya." Tegas Sia menatap Hyunjin.
Hyunjin terdiam sesaat lalu mengangguk.
"Aku berjanji." Balasnya tegas meski dengan nada lembut.
Pria itu kemudian mengecup tangan Sia yang menangkup wajahnya sambil mengelus punggung tangan si gadis.
"Jadi— apa ada yang kamu sembunyikan dariku saat ini, Hyun?" Tanya Sia tiba-tiba.
Hyunjin menatap wajah gadisnya, pria itu tampak bingung.
"Tentang— Giselle." Kata Sia hati-hati.
Hyunjin terdiam beberapa saat, kekasih Sia itu membalikkan badannya dan kembali menatap langit-langit kamarnya.
"Dia—" Ucap Hyunjin ragu.
"Dia pernah meminta ayahnya menjodohkan kami."
DEG
Sia langsung terduduk di atas ranjang, menatap prianya yang juga terkejut dengan tindakan tiba-tibanya.
"Tapi itu dulu, Sia. Saat kami masih kecil. Masih berusia sepuluh tahun." Jelas Hyunjin yang langsung menggenggam tangan si gadis, pria itu ikut duduk di hadapan kekasihnya yang masih terdiam menatapnya, seakan-akan masih menunggu penjelasannya lagi.
"Lagipula aku juga sudah menolaknya dengan tegas. Karena bagiku, saat itu— aku tidak tertarik pada apapun maupun siapapun selain melukis dan lukisan. Kamu tahu itu, kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Untold
FanfictionDi depan orang yang mencintaiku, aku bahkan tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintainya Itu menyakitkan Aku tak tahu seperti ini adanya Karena jantungku yang berdebar kencang di hadapanmu Itu membuatku ingin menghela nafas tanpa alasan Air mata yan...
