25 : Dia Siapanya Abang?

112 23 5
                                        

"Adek mau makan apa? Mau abang masakin apa? Atau adek kita makan siang di luar? Katakan saja, adek mau makan di mana?" Tanya Joss dengan beberapa pertanyaan, mencoba mengalihkan pembicaraan dan berusaha tuk melupakan masalah tadi dari pikiran Krit.

"Tidak usah! Urus saja dirimu sendiri!" Kesal Kritt kemudian panggilan pun berakhir. Dia pikir Kritt anak kecil yang akan langsung luluh dengan perhatian seperti itu.

Lagi-lagi Joss menghela nafas panjang yang berat. Pikirannya kacau, padahal nanti malam dia ada pertandingan MMA.

[Abang minta maaf... sumpah, hanya adek yang Abang cintai!] Pesan dia kepada Kritt yang tak dibalas oleh Kritt.

Kritt menghela nafas lelah, "Apa aku terlalu kekanak-kanakan?" Batinnya bertanya-tanya. Entah kenapa, untuk masalah hati ini, dia tak bisa menguasai diri dengan baik. Mungkin karena rasa sukanya pada sudah teramat dalam, sampai diapun kesulitan tuk mengontrol diri jika dia sudah cemburu.

Dia membaca pesan Joss tetapi dia tidak berniat tuk membalasnya, nanti saja dibalas kalau dia sudah tenang. Bicara di saat emosional lagi meledak-ledak itu sama saja dengan bunuh diri.

———.......———

Menjelang malam, Pin sudah siap berangkat ke tempat pertandingan MMA diadakan. Dia mengenakan bawahan kulot berbahan denim dengan atasan kemeja warna navy serta riasan natural pada wajahnya yang manis. Membuat dia terlihat cantik dan juga tampan dalam waktu bersamaan.

Baru saja dia sampai di ruang keluarga, Meen dan Perth memandanginya sambil melipatkan tangan di dada. Membuat sang pangeran manis itu grogi seketika. Sorot mata orangtuanya terlihat tidak baik. Sepertinya mereka tahu Pin mau pergi kemana.

Sementara Kritt terlihat cool dan tampan, wajar saja jika Joss jatuh hati. Kritt menyeduh coklat hangat lalu mendudukkan dirinya di sofa mengabaikan orang tuanya yang terlihat akan mengomeli Pin.

"Manis banget anak bujang papa, bahkan kata manis aja belum cukup tuk memuji paras adek malam ini. Emangnya adek mau kemana, hembn? Kakak aja gak kemana-mana malam ini?" Perth berjalan mendekat lalu merapikan sedikit pakaian Pin. Wajah sang anak terlihat bersemu merah. Tentu saja dia merasa senang dengan pujian papanya, tetapi sekarang dia merasa pujian itu hanya seperti sindiran yang keras.

"Papa baru sadar ya, kalau anak papa memang selalu manis menggoda hati." Ucapnya mengulas senyum indah tuk meluluhkan hati papanya sebelum dia minta izin tuk pergi.

Sudut bibir Perth naik, lantas dia membelai pipi Pin yang sendikit tinggi dari tubuhnya. "Adek mau kemana, hembn? Nonton Gulf tanding, ya? Pergi sama siapa? Sendiri? Kalau sendiri gak boleh! Nanti ada yang grepe-grepe adek." Perth dan Meen memang sangat protektif dengan Pin, mengingat si bungsu sangat polos.

Pin melirik Kritt, berharap kakak kesayangannya itu bersedia membantunya walaupun rencananya harus cancel jika Kritt ikut.

Kritt menyadari tatapan memelas adiknya itu, kasihan dia. "Adek pergi sama kakak, pa." Imbuh Kritt membuat Pin tersenyum lebar.

"Beneran?" Selidik Meen tidak percaya mengingat pakaian Kritt hanya pakaian rumahan.

"Iya, dan. Ini kakak mau ganti baju. Iyakan, dek!" Bukan Kritt namanya jika dia tak menyadari kecurigaan daddynya.

"Iya, dad! Adek pergi sama kakak!" Tanggap dia full senyum.

"Ya udah, hati-hati ya dan jangan kemalaman pulangnya." Putus Meen juga di setujui oleh Perth.

⏩️⏩️

"Biar aku yang bawa motornya, Bang." Tawar Gawin pada Joss.

"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri!" Joss mengambil kunci motornya di lokernya lalu berlalu menuju pintu. Gawin mengikutiku dari belakang dan berlari kecil menyusul langkah kaki Joss yang cepat.

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang