48 : Saat Matahari Tak Lagi Hangat

75 21 5
                                        

Musik menghentak pelan di bar langganan mereka malam itu. Aroma alkohol, asap rokok, dan keputusasaan bercampur dalam udara yang pengap. Dan di sudut paling ujung, Joss duduk bersandar pada meja, tubuhnya sedikit limbung, namun mulutnya masih lancar meracau.

"Aku tuh beneran sayang sama Kritt, paham nggak sih kalian? Tapi... dia selalu bikin aku merasa salah. Gawin nggak pernah kayak gitu. Dia lihat aku seperti... manusia yang pantas dicintai."

Bright menatap kosong ke gelasnya. Max, yang duduk di sebelah Joss, hanya mengusap wajahnya lelah.

"Kamu udah bilang itu dua puluh kali sejak kita sampai, Jos," ujar Max dengan nada jengah. "Dan setiap kali kamu bilang, aku makin pengen nyumpel mulut kamu pakai serbet bar."

"Kenapa sih kalian kayak gitu?" suara Joss meninggi. "Gawin itu baik, Max! Dia ngerti aku. Dia selalu ada buat aku. Nggak kayak Kritt yang... yang selalu bikin aku merasa harus milih!"

"Kamu memang milih, Jos," ujar Bright akhirnya, tenang tapi jelas. "Kamu milih Gawin. Bukan karena dia lebih baik... tapi karena kamu terlalu percaya pada topeng yang dia pakai."

Joss mendengus, meneguk birnya, lalu berkata, "Kalian cuma nggak ngerti. Gawin butuh seseorang yang percaya padanya. Dan aku... aku orang itu."

Max memutar bola mata. "Jos, tolong... ini bukan pertama kalinya kamu jatuh di lubang yang sama. Tiap kamu percaya Gawin, kamu akhirnya nyakitin orang lain—termasuk dirimu sendiri."

Joss menggeleng cepat. "Aku nggak nyakitin siapa-siapa! Kritt yang nyakitin Gawin! Kau nggak tahu apa yang dia lakukan padanya!"

Bright menarik napas panjang. "Dan kamu nggak tahu apa yang Gawin lakukan di balik punggungmu."

"Tutup mulutmu, Bright," suara Joss mulai parau. "Kau nggak tahu apa-apa tentang Gawin."

"Aku tahu cukup banyak," Max menyambar. "Dan aku tahu cukup banyak juga soal kamu. Kamu terlalu gampang percaya. Terlalu yakin semua orang itu baik. Tapi dunia nggak sebaik hati kamu, Jos."

Joss menunduk. "Kalau sayangku yang tulus ini salah, biar Tuhan aja yang hukum aku..."

"Ya Tuhan pun mungkin sekarang udah tepok jidat," celetuk Max tajam, membuat Bright tertawa getir.

Max bangkit dari kursinya. "Aku nggak sanggup lagi. Kita harus panggil Lee dan Nan. Kalau nggak, besok pagi kita bakal nemuin dia telanjang di tengah jalan sambil nyanyi lagu patah hati."

Bright mengangguk, langsung mengirim pesan. "Mereka bilang lima belas menit sampai."

———...———

Ketika Lee dan Nan masuk ke bar, suasana makin riuh—bukan karena keramaian, tapi karena kehadiran dua pria dengan kepribadian ekstrem.

Lee langsung menyipitkan mata melihat Joss. "Kenapa aku harus nyeret makhluk tolol ini malam-malam begini?"

"Karena makhluk tolol ini lagi mabuk cinta sama iblis bersayap putih bernama Gawin," jawab Max datar.

"Aku nggak tolol!" bantah Joss sambil berdiri sempoyongan. "Aku cuma... aku cuma sayang."

"Sayang yang buta itu bukan cinta, tolol. Itu ketololan premium," Lee mendengus.

Nan cepat-cepat menahan tubuh Joss yang hampir jatuh. "Ayo, sayang. Kita pulang, ya? Kamar kamu udah siap. Gawin nunggu kamu, mungkin."

Mata Joss berbinar. "Dia... dia nunggu aku?"

"Pasti," jawab Nan manis tapi dusta.

Setelah beberapa bujukan dan manipulasi kecil, akhirnya mereka berhasil membawa Joss keluar dari bar. Di sepanjang perjalanan menuju asrama, Joss masih bergumam tidak jelas.

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang