63 : Goyahnya Buddha Hidup

104 23 3
                                        

"Malam ini, bagi kalian yang tak sempat pulang ke rumah masing-masing, kami sudah menyiapkan kamar untuk setiap tamu undangan." ujar Meen dengan suara lantang saat pesta perlahan mulai reda, para elf buatan menghilang ke balik mesin, dan musik perlahan meredup jadi senandung lembut.

Meen menepuk bahu Kritt setelah meminta kepala pelayan tuk mengantar tamu undangan ke kamar yang telah disiapkan. "Kritt, bisa antar Maxky ke kamarnya? Lantai tiga, sisi timur. Yang ada lampu gantung dari kristal salju itu."

Kritt hanya mengangguk singkat tanpa kata, menoleh pada Maxky yang sudah berdiri di sisi taman sambil menggenggam lukisannya erat, seolah benda itu bisa mewakili semua perasaannya yang tak sempat diucap.

"Ayo," gumam Kritt pelan.

Maxky tersenyum, meski senyumnya agak kaku. Ia mengangguk dan mulai mengikuti Kritt, melewati taman yang kini nyaris sepi, hanya terdengar gemerisik salju buatan yang masih turun pelan-pelan.

Di belakang mereka, JD berjalan perlahan dengan langkah malas khas harimau besar. Sesekali ekornya menyapu rumput, membuat Maxky waspada agar lukisannya tidak tertabrak.

Kritt tidak banyak bicara, seperti biasa. Tapi kehadirannya dengan jas biru keunguan yang kini tak sepenuhnya tertutup jubah, cukup membuat Maxky mendadak kehilangan akses terhadap logikanya sendiri.

"Tenang," katanya dalam hati. "Ini cuma cowok. Cuma manusia biasa. Cuma..."
"Cuma malaikat dingin berbalut iblis dalam jas elf," bisikan lain di kepalanya mengoreksi.

Kritt membuka pintu samping menuju area dalam mansion. Dinding-dinding tinggi bergaya baroque dengan dominasi warna putih salju dan biru lembut membuat suasana terasa seperti museum istana es. Langkah mereka bergaung ringan di atas lantai marmer.

Mereka naik lewat tangga spiral. JD mendahului mereka dengan malas, mendengus pelan setiap kali kakinya menginjak anak tangga. Di lantai tiga, Kritt berhenti di depan sebuah pintu ganda putih gading dengan ornamen bunga es. Ia membukanya perlahan, memperlihatkan interior kamar tamu yang lebih mirip kamar raja.

Ranjang besar dengan kelambu tipis menggantung di tengah ruangan. Ada meja kecil dengan teh hangat yang baru disiapkan, lilin aroma lavender, dan bahkan sepasang sandal berbulu lembut warna ungu muda.

"Kalau terlalu dingin, selimutnya ada dua lapis," ujar Kritt sambil berjalan ke sisi lemari. Ia membuka satu laci dan mengeluarkan baju tidur.

Maxky berdiri di ambang pintu, tidak masuk. Ia merasa seolah sedang dibawa masuk ke dalam lukisan fantasi, dan Kritt adalah sang pelukisnya.

"Ada celana panjang dan sweater. Tapi kalau kamu lebih nyaman pakai kaus..." Kritt mengganti pilihannya. "Ini."

Ia mengulurkan sepotong kaus putih kebesaran. Terlihat nyaman. Dan... baunya pasti Kritt banget.

Maxky menatapnya sebentar. "Aku... pakai ini aja, deh."

JD merebahkan diri di sudut ruangan, menguap panjang. Maxky baru masuk ke kamar, meletakkan lukisannya dengan hati-hati di atas meja, lalu menerima baju dari Kritt dengan dua tangan seperti menerima benda suci.

"Terima kasih..." bisiknya.

Kritt hanya mengangguk. "Aku di kamar sebelah. Kalau ada apa-apa..."

"Aku bisa ketuk pintu, ya?" sela Maxky cepat.

Kritt mengangguk lagi, pelan. Tapi matanya tak benar-benar menatap Maxky, ia malah sibuk menata remote AC di meja, lalu menyalakan lampu tidur.

"JD bakal di sini. Dia biasa nemenin tamu yang baru pertama kali nginap."

Mendengar namanya disebut, JD mengangkat kepalanya sebentar lalu memejamkan mata kembali seperti mengkonfirmasi.

Maxky menatap harimau itu. "Dia... ngerti bahasa manusia?"

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang