66 : Hari H: Kencan

96 18 8
                                        

Tawa semua tamu meledak bersamaan dengan letupan akhir di langit malam. Kali ini, kembang api tidak lagi berbentuk atau berpola. Mereka hanya meledak satu per satu dalam keindahan acak, seolah memberi ruang pada semua perasaan yang hadir malam itu.

Rasa syukur.

Rasa bangga.

Rasa lega.

Dan... harapan.

Salju buatan masih turun perlahan, menutupi permukaan taman dengan lapisan tipis yang berkilau. Cahaya kembang api terakhir menari-nari di genangan salju, menciptakan pantulan warna-warni seperti mimpi yang belum selesai.

Kritt menunduk, menatap bayangan dirinya sendiri yang dipantulkan salju. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama... dia tidak merasa sendiri.

Pin berdiri di sampingnya, lalu meraih tangan Kritt perlahan—tanpa memaksa, tanpa berkata. Kritt tidak menolak.

Dan dalam hening itu, dengan langit yang baru saja meledak menjadi seribu warna, pesta ulang tahun "Kerajaan Elf di Negeri Es Kristal" ditutup dengan satu perasaan yang menelusup pelan ke dalam hati setiap orang yang hadir:

Bahwa di balik dingin dan terang... selalu ada rumah.

———...———

Di luar kediaman keluarga Khajornborirak, malam masih terang oleh sisa-sisa kembang api yang membekas di langit. Tapi untuk Joss, dunia sudah gelap sejak tadi. Ia berdiri diam di depan gerbang besi tinggi yang memisahkan dirinya dari dunia yang dulu terasa begitu akrab, begitu hangat dan kini, begitu asing. Di tangannya, sebuah kotak kecil berbalut kertas perak dengan pita biru muda nyaris terjatuh karena jemarinya sudah mati rasa.

Joss menarik napas pelan. Udara dingin menusuk kulitnya, tapi bukan itu yang membuat dadanya nyeri.

Itu karena penjaga gerbang menolak kedatangannya.

"Kami minta maaf, Tuan Joss," suara penjaga terdengar sopan tapi tegas. "Tuan Kritt sudah memberikan instruksi. Tidak ada yang boleh diterima dari Anda. Tidak kado, tidak pesan, bahkan tidak kehadiran."

Joss sempat mengira ini hanya salah paham. Tapi dia tahu betul... ini bukan.

Ini keputusan Kritt. Keputusan yang dibuat dengan sadar dan penuh ketegasan. Keputusan yang pada akhirnya menegaskan satu hal yang selama ini Joss tolak untuk benar-benar percaya:

Mereka sudah selesai.

Dia bisa saja memohon. Bisa saja bersujud kalau itu yang dibutuhkan. Tapi Joss tahu, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan malam ini. Bahkan air mata pun tak akan membuat pintu itu terbuka.

Ia memutar badan, melangkah pelan ke trotoar sepi. Suara musik pesta terdengar jauh di belakangnya, seperti gema dari masa lalu yang tak bisa dia capai lagi.

Perlahan ia duduk di bangku kecil tak jauh dari gerbang, kado masih dalam genggaman. Matanya kosong menatap cahaya lampu jalan yang temaram. Dulu, kalau ada pesta seperti ini, Kritt akan menyelipkan jemarinya di antara jemari Joss dan menariknya masuk, walau Joss mengeluh tak suka keramaian. Kritt tahu bagaimana menenangkan hatinya. Tapi malam ini... bahkan bayangan Kritt pun enggan menemaninya.

Joss mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menghalau air mata yang terus menggenang. Tapi percuma. Hatinya remuk, dan itu tidak bisa ditutupi oleh napas panjang atau cengiran palsu.

Ia mengingat ulang tahun Kritt yang lalu—saat mereka masih bersama. Kritt menyiapkan pesta kecil di balkon apartemennya, lengkap dengan kue buatan sendiri yang bentuknya miring sebelah tapi rasanya luar biasa. Joss ingat tawa Kritt, mata bulat yang berbinar saat meniup lilin, dan bisikan lembut yang tak pernah ia anggap cukup penting saat itu:

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang