Langit sore di Phuket perlahan berubah dari jingga ke emas pucat. Awan menyapu lembut langit, seperti sapuan kuas di atas kanvas yang malas disentuh. Angin laut bertiup tenang, membelai pohon kelapa dan menggoyangkan tirai tipis di jendela rumah panggung itu. Aroma garam, tanah basah, dan dedaunan tropis menyatu menjadi satu kesatuan yang membuat dada sesak oleh kenangan.
Joss berdiri di depan rumah, koper besar di tangannya. Matanya menyapu setiap sudut bangunan kayu tua itu—cat putih yang sedikit memudar, pagar bambu yang mulai berlumut, dan lonceng angin tua yang masih berdenting setiap kali angin menyentuhnya. Rumah ini tak pernah berubah.
Tapi hatinya, ya... hatinya jauh dari yang dulu.
"Rumah ini enggak pernah berubah," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada pada Gawin.
Gawin yang berdiri di sampingnya, dengan ransel besar di punggung dan topi bundar yang sedikit miring di kepala, tersenyum kecil. Matanya menyapu halaman dan teras dengan rasa takjub pura-pura, lalu ia berkata dengan nada yang ringan namun tajam.
"Dan semoga orang-orang di dalamnya juga belum berubah."
Joss menoleh sebentar, tak membalas. Tapi Gawin tahu—ucapan itu masuk. Karena sejak perjalanan dimulai, Joss tidak berhenti menyentuh gelang kulit yang dulu diberikan oleh Kritt. Tangannya gemetar tiap kali nama itu disebut. Dan Gawin—ah, dia tahu. Luka itu belum kering. Dan luka seperti itu paling mudah disentuh dengan nostalgia.
Pintu rumah terbuka.
Seorang pria tua muncul dengan senyum lebar, mengenakan sarung biru lusuh dan kemeja putih longgar. Tongkat kayu tua menopang tubuh kurusnya, tapi matanya tetap tajam seperti elang.
"Joss! Cucu bandel ini akhirnya pulang juga!" serunya, suaranya serak namun penuh semangat.
"Pho!" seru Joss, berlari kecil dan memeluk tubuh tua itu erat-erat. Helaan napasnya terdengar berat, seperti anak kecil yang akhirnya kembali ke pelukan rumah setelah terluka.
"Aku kangen..." bisiknya pelan.
Sangngern menepuk-nepuk punggung cucunya dengan lembut. "Kamu makin kurus. Siapa yang bikin kamu sedih, hah?"
Pertanyaan itu membuat tubuh Joss menegang sebentar. Ia tersenyum kaku. Tidak menjawab.
Lalu mata Sangngern menatap ke belakang, pada sosok yang berdiri sopan dengan kepala sedikit menunduk. "Dan ini...?"
Joss menarik napas, lalu memperkenalkan. "Ingat Gawin, kan, Pho? Teman SMA-ku. Dia mau liburan semester bareng aku di sini."
Sangngern menyipitkan mata, mencoba mengingat. Namun sebelum ia bisa bertanya lebih jauh, Gawin langsung melangkah maju dan membungkuk sangat dalam, nyaris menyentuh tanah.
"Atsamee Khun Pho Sangngern. Terima kasih sudah mengizinkan saya tinggal di rumah indah ini. Saya merasa sangat terhormat."
Bahasanya halus, sopan, logatnya dibentuk sedemikian rupa agar terdengar tulus. Tapi tiap kata sudah dipilih dan dipelajari jauh-jauh hari.
Sangngern terkejut. Alisnya terangkat. "Hm. Anak ini... tahu adat, ya?"
Gawin tersenyum. Matanya menunduk, tidak menatap langsung, penuh hormat. "Ayah saya selalu bilang, kalau bertamu ke rumah orang yang kita hormati, kita harus bersikap seperti keluarga, bukan sekadar tamu."
Sangngern tertawa kecil, senang. "Kamu dari keluarga mana?"
Gawin menjawab dengan rendah hati, menyebutkan nama keluarga kecilnya di Chiang Mai. Tidak bohong, tapi tidak menyebut satu pun dari koneksi ibunya yang pejabat daerah atau ayahnya yang pengusaha ekspor teh. Ia tahu—Tuan Sangngern lebih menghargai kerendahan hati daripada pamer kekayaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
2Moons
Hayran KurguKapal yang berlayar : JossKritt & PinSanta Ghostship Area ⏩ LGBT area☠️ so, HOMOPHOBIA dilarang mendekat. ⏩Area dewasa🔞 ⏩MPreg Area ⏩Kapal hantu bertaburan ☠️, jangan harap kapal benar berlayar disini. ⏩TYPO & kata yang hilang bertebaran. ⏩ Update...
