Langit Pattaya siang itu cerah seperti biasanya, tapi suasana di dalam vila honeymoon yang disewa keluarga Khajornborirak justru terasa sedikit muram. Bukan karena ada pertengkaran atau masalah, melainkan karena waktu liburan mereka telah mencapai akhir.
Besok adalah hari Senin. Maxky kembali ke rumah sakit sebagai dokter muda yang sibuk dan disegani. Sementara Kritt kembali ke dunia kampusnya di Bangkok University, melanjutkan kehidupan sebagai mahasiswa tahun ketiga yang sebentar lagi akan mulai magang, rencananya di perusahaan Meen, ayahnya sendiri, bersama si kembarannya, Pin.
Waktu berlalu dengan pelan dan pasti. Suara koper diseret, lipatan baju yang disusun ulang, dan langkah kaki di lantai kayu terdengar beriringan. Maxky sudah selesai lebih dulu berkemas. Koper hitam elegannya sudah berdiri manis di sisi tempat tidur, menunggu saat keberangkatan.
Sementara itu, Kritt masih duduk bersila di depan kopernya, menyusun tumpukan kemeja, celana, dan pernak-pernik lainnya dengan wajah santai seperti biasa—tidak terlalu cepat, tapi juga tidak terlalu lambat. Seperti seseorang yang mencoba menyembunyikan bahwa dia sebenarnya enggan pulang.
Maxky berjalan pelan dari kamar mandi sambil membawa sebuah botol sunblock.
"Hey, sunblock yang kamu pinjam kemarin," katanya lembut, menghampiri Kritt.
"Oh, makasih..." Kritt menoleh, tersenyum ringan, lalu—clack! Sebuah bunyi kecil yang mengubah suasana drastis.
Mata Maxky tertumbuk pada sesuatu di dalam koper Kritt yang terbuka.
Sesuatu yang sudah lama mereka hindari dibahas sejak insiden pagi itu.
Sesuatu yang membuat oksigen terasa lebih tipis dari biasanya.
Kondom dan pelumas.
Dua benda ajaib yang seharusnya tak muncul lagi ke permukaan, kini kembali menyapa keduanya dalam diam. Tergeletak manis di antara lipatan sweater navy milik Kritt. Seolah sengaja muncul untuk menguji iman Buddha hidup bernama Maxky dan malaikat-iblis bernama Kritt.
Kritt membeku.
Maxky juga.
Tatapan mereka saling bertemu dalam hening yang terlalu ramai.
Tatapan Kritt berkata, "Sumpah ini bukan salahku. Ini ulah papa."
Tatapan Maxky menjawab, "Aku tahu. Tapi jantungku tidak tahu, dan dia sekarang sedang ngibrit ke Himalaya."
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
"Eh, aku—" Kritt akhirnya bergerak duluan. Ia menutup koper itu dengan kecepatan supersonik, seolah sedang menyembunyikan benda terlarang.
Maxky langsung berbalik badan seperti robot yang sedang disuruh menghadap tembok, wajahnya merah padam, bahkan sampai ke telinga.
Ia berjalan kaku ke arah koper miliknya, padahal sebenarnya tidak ada alasan logis untuk pergi ke sana, hanya tuk menghindar.
Kritt menunduk, menekan bibirnya, menahan senyum yang semakin sulit dikendalikan.
Maxky sendiri... berusaha keras untuk tetap tenang. Tapi di dalam dirinya, pasukan Buddha sedang kalang kabut.
Aku tidak boleh ketawa. Aku harus tenang. Aku harus... jangan bayangin hal yang bukan-bukan!
Ia membuka resleting kopernya dengan tangan gemetar. Padahal isinya hanya baju, charger, dan satu pasang sandal hotel.
"Maxky..." Kritt memanggil pelan, masih menahan tawa.
Maxky tak menoleh. "Hmm?"
"Maaf."
KAMU SEDANG MEMBACA
2Moons
FanfictionKapal yang berlayar : JossKritt & PinSanta Ghostship Area ⏩ LGBT area☠️ so, HOMOPHOBIA dilarang mendekat. ⏩Area dewasa🔞 ⏩MPreg Area ⏩Kapal hantu bertaburan ☠️, jangan harap kapal benar berlayar disini. ⏩TYPO & kata yang hilang bertebaran. ⏩ Update...
