Pattaya – Hari Ke Dua Pulih Satu Liburan
Langit Pattaya sedang cantik-cantiknya hari itu. Matahari bersinar terang, tapi angin laut membuat udara tetap sejuk. Suara ombak memecah pantai seperti irama alam yang menyambut tawa riang dari seorang Pin yang berdiri dengan pelampung berbentuk unicorn warna-warni di pinggangnya.
"TYPE! AKU MAU NAIK BANANA BOAT LAGI!" teriak Pin sambil melompat-lompat di pasir.
Type yang baru saja membuka botol air mineral, hanya melirik dengan satu alis terangkat. "Tadi udah dua kali, Pin. Kamu yakin nggak pingsan kalau jatuh lagi?"
"Enggak akan! Sekarang aku pegangan ke kamu! Soalnya tadi jatuh karena aku pegangan sama kak Kritt, dan dia tuh dingin banget kayak tiang listrik!" sahut Pin, merajuk sambil menyenggol bahu Kritt yang duduk tenang di kursi pantai dengan kacamata hitamnya. Dia sudah susah payah membujuk Kritt, tapi Kritt tetap saja dingin bak batu karang di musim salju.
Kritt tak menjawab. Hanya menyilangkan kaki dan mengalihkan pandangan ke laut. Tapi senyum tipis sekilas sempat muncul di sudut bibirnya.
Type menghela napas panjang—bukan karena kesal, tapi karena terlalu sayang. Ia berjalan ke arah Pin dan memakaikan helm pelindung ke kepala bocah cerewet itu dengan pelan.
"Nah, kalau jatuh, ini nyelametin otak kamu yang udah penuh drama," gumamnya pelan.
Pin tertawa, lalu langsung menarik tangan Type dengan semangat. "YUK! Aku janji kali ini nggak nyusahin!"
Satu jam kemudian, mereka bertiga sudah naik banana boat, tertawa dan berteriak di atas ombak. Pin menjerit tiap kali boat berbelok tajam, dan tiap kali itu terjadi, tangan Type selalu menariknya lebih dekat ke tubuhnya.
"Pegang yang kuat, Pin. Jangan kamu pikir ini pelukan gratis terus kamu manja-manja!" seru Type.
Pin justru menunduk malu dan memeluk pinggang Type lebih erat. "Kalau pelukan gratis dari kamu sih... aku terima tiap hari juga mau!"
Kritt yang duduk paling belakang, basah kuyup, hanya menggeleng. Tapi dalam hatinya—ini mungkin kali pertama sejak menerima pesan-pesan menyakitkan dari Gawin, ia bisa benar-benar tertawa dalam diam.
———...———
Sore harinya, saat matahari mulai turun dan warna langit berganti jingga, mereka duduk di gazebo tepi pantai untuk sesi foto yang sudah dipesan Pin jauh-jauh hari. Ia sudah siap dengan gaun tipis putih yang ditiup angin, rambutnya dikepang dua, dan Type mengenakan kemeja linen putih yang dibuka dua kancing paling atas.
Kritt? Tentu saja tetap dengan kemeja hitam dan celana panjang, berdiri di samping sambil sesekali melihat jam. Tapi saat melihat Type memegang dagu Pin dan mencium keningnya dengan ekspresi senyum jahil—Kritt memutar wajah, menyembunyikan geli di balik tangan.
"TYPE! Jangan cium terus! Aku belum makeup ulang!" teriak Pin dengan pipi semerah udang.
"Bukan urusan aku. Mukamu lucu, ya aku cium. Emang gitu hukum alam," jawab Type santai.
Fotografer tertawa geli. Kritt menyelipkan tangan di saku. "Cukup lucu buat jadi komedi romantis level ABG," gumamnya tanpa menatap.
"Eh? Kakak Kritt akhirnya ngomong." bisik Pin ke Type dengan mimik dramatis. "Coba colek, dia manusia kan?"
"Dia ngomong kalo topiknya masuk akal," jawab Type. "Jangan berharap dia jawab pertanyaan kayak 'kalau aku jadi putri duyung, kamu tetep mau aku nggak'."
Pin mencibir, lalu menempelkan tubuhnya ke Type. "Ya udah, kamu aja yang jawab. Kamu mau nggak?"
"Kalau kamu jadi putri duyung, aku tinggalin kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
2Moons
FanfictionKapal yang berlayar : JossKritt & PinSanta Ghostship Area ⏩ LGBT area☠️ so, HOMOPHOBIA dilarang mendekat. ⏩Area dewasa🔞 ⏩MPreg Area ⏩Kapal hantu bertaburan ☠️, jangan harap kapal benar berlayar disini. ⏩TYPO & kata yang hilang bertebaran. ⏩ Update...
