Siang hari di Pattaya menyengat, tapi vila Khajornborirak diliputi kesejukan dari AC premium dan aroma harum masakan seafood yang sedang disiapkan oleh kepala pelayan keluarga. Meja makan sudah ditata sempurna, lengkap dengan lobster bakar, salad segar, dan sup krim jamur yang menguarkan aroma surgawi. Chef pribadi yang dibawa dari Bangkok bahkan sedang sibuk menata saus foie gras buatan tangan.
Namun di ruang tengah vila mewah itu, seorang pria berkaki terkilir sedang duduk di sofa dengan ekspresi khusyuk seperti baru saja menerima wahyu.
"Aku mau makan mie instan," kata Kritt pelan, penuh keyakinan, sambil memandang iklan TV yang menampilkan mangkuk mie instan berkuah pedas dengan telur setengah matang dan cabai iris melayang di atasnya. Visual yang sungguh menggoda jiwa.
Maxky, yang sedang membaca jurnal medis di sebelahnya, menghentikan aktivitasnya seketika.
"Apa?" tanyanya tanpa berkedip. "Kamu bilang... mie instan?"
Kritt mengangguk dengan polos. "Yang pakai telur. Dan sosis. Dan sayur juga kalau bisa. Tapi jangan terlalu matang, aku suka yang sedikit kriuk."
Dokter muda itu memandang Kritt seolah baru mendengar seseorang dari keluarga Khajornborirak ingin naik bus kota tanpa pengawal.
"Kritt... kamu sadar nggak, makanan di meja makan itu bernilai jutaan baht? Chef pribadi keluarga kamu yang sekolah di Paris masak khusus buat hari ini. Tapi kamu malah pengin—mie instan?"
Kritt hanya menaikkan bahu kecilnya. "Lagi pengin aja."
Maxky menutup jurnalnya dengan satu gerakan dramatis. Ia berdiri, memandangi sahabatnya—atau lebih tepatnya, iblis manis berkaki terkilir yang duduk dengan wajah tak berdosa di sofa.
"Kamu ini anak konglomerat," katanya tegas, "punya segalanya, dan kamu minta aku—aku yang juga anak orang kaya, tujuh generasi dokter—buat masak... mie instan?"
"Ya." Kritt menatapnya polos. "Soalnya kamu jago masak. Lebih enak kalau kamu yang buat."
Maxky menghela napas panjang. Ia menatap langit-langit vila, seakan memohon pertolongan dari dewa-dewa langit agar diberi kesabaran menghadapi makhluk satu ini.
"Ini... penghinaan terhadap intelektualitas dan kebudayaan kuliner Thailand."
Kritt hanya tersenyum sambil mengangkat kakinya yang diperban. "Kakiku masih sakit, loh..."
Dan seperti sebuah mantra pemanggil malaikat, Maxky langsung kalah.
"Astaga... kamu tega banget main kartu itu." Maxky menggerutu sambil berjalan menuju dapur. "Tahu nggak, kalau orang lain yang minta, aku udah lempar panci ke mukanya."
"Tapi aku bukan orang lain," jawab Kritt dengan senyum kemenangan.
"Justru itu masalahnya," balas Maxky setengah putus asa. "Aku nggak bisa nolak kamu, Kritt. Bahkan kalau kamu minta aku bakar vila ini pun, mungkin aku akan nyalain koreknya sambil menangis."
Kritt tertawa pelan. "Tenang, aku nggak segila itu. Aku cuma pengin mie instan."
———...———
Beberapa menit kemudian, dapur vila yang mewah itu berubah menjadi arena kecil keajaiban. Maxky, mengenakan celemek bertuliskan "Hot Chef, Cold Heart" (pemberian Pin—yang selalu iseng), memasak dengan wajah serius seperti sedang melakukan operasi jantung terbuka.
Dia membuka bungkus mie instan merek lokal favorit semua mahasiswa Thailand, merebus air mineral premium (karena dia nggak rela pakai air keran), dan mengiris sosis dengan ketelitian seperti sedang membedah arteri. Sayur bayam organik yang biasanya untuk salad diblansir sebentar, sementara telur direbus setengah matang dengan waktu presisi 6 menit 30 detik.
KAMU SEDANG MEMBACA
2Moons
FanfictionKapal yang berlayar : JossKritt & PinSanta Ghostship Area ⏩ LGBT area☠️ so, HOMOPHOBIA dilarang mendekat. ⏩Area dewasa🔞 ⏩MPreg Area ⏩Kapal hantu bertaburan ☠️, jangan harap kapal benar berlayar disini. ⏩TYPO & kata yang hilang bertebaran. ⏩ Update...
