Udara pagi di Pattaya menyelimuti vila dengan aroma laut dan embusan angin lembut. Sinar matahari jatuh di permukaan meja sarapan di balkon lantai dua, tempat paling indah di seluruh vila itu. Dari sana, laut terlihat biru jernih, dan suara burung laut seolah menjadi musik latar yang romantis.
Meja sarapan sudah tertata rapi. Seporsi croissant hangat, omelet keju, salad buah segar, jus jeruk dingin, dan dua cangkir kopi.
Kritt duduk lebih dulu, rambutnya masih sedikit basah karena baru mandi. Ia mengenakan kaus putih tipis dan celana pendek linen warna krem. Sederhana. Tapi di mata Maxky yang baru keluar dari kamar dan nyaris tersandung karpet karena melihat pemandangan itu—Kritt terlihat seperti poster iklan parfum paling mahal sedunia.
"Tenang, Maxky. Kau masih Buddha. Kau cuma habis dipeluk semalaman. Kau enggak jatuh cinta lebih parah, kan?"
Sayangnya, jatuh cinta itu bukan pilihan.
Apalagi ketika Kritt menoleh dan menyambutnya dengan senyum kecil. Bukan senyum formal, bukan senyum kaku. Tapi senyum hangat, yang hanya muncul ketika seseorang bangun tidur dalam suasana hati yang sangat baik.
"Pagi, Paus," ucap Kritt pelan.
Maxky nyaris muntah glitter.
"Pagi," jawabnya pendek, duduk di seberangnya. Ia menjaga posisi duduknya hati-hati, seperti orang yang habis keluar dari battlefield.
Kritt mengambil croissant dan mulai mengolesinya dengan selai stroberi.
Tak ada yang berkata apa-apa untuk beberapa menit.
Hanya denting alat makan, dan suara debur ombak di kejauhan.
Tapi bagi Maxky, itu bukan pagi yang tenang.
Itu pagi yang mengerikan.
Karena dia sedang menyusun strategi agar tidak tersenyum bodoh tiap kali Kritt mengambil sendok. Atau mengunyah pelan. Atau... menyapanya "Paus" dengan nada menggemaskan.
"Jadi..." Kritt membuka suara. "Apa tidur kamu nyenyak?" Terkadang dia memanggil abang dan terkadang tidak. Tapi sepertinya mulai sekarang dia tidak akan memanggil Maxky dengan sebutan Abang. Mungkin saja panggilan itu mengingatkan dia pada Joss.
TIK.
Pisau mentega yang dipegang Maxky langsung nyangkut di tengah gerakan.
Panik. PANIK.
"T-tentu saja," jawabnya cepat.
Senyum Kritt melengkung pelan.
"Benarkah? Kamu gak merasa... dipeluk semalaman? Atau—tersiksa, mungkin?"
Maxky langsung menatap Kritt. Matanya tajam. Suaranya mantap.
"Aku tidur mati. Tidak sadar apa pun."
Kritt mengangkat alis. "Begitu ya... padahal aku mimpi peluk boneka paus biru. Mirip banget sama kamu."
DEG.
Maxky hampir menjatuhkan gelas jus.
Kritt tertawa pelan. Bukan karena dia sengaja menggoda, tapi memang ekspresi Maxky sangat lucu.
Wajahnya dingin. Tapi kupingnya... merah padam.
"Jadi, kamu kayak boneka tidurku semalam," gumam Kritt santai.
"Kritt... tolong..." pikir Maxky, "Aku sudah tidak kuat. Aku Buddha, tapi hatiku bukan patung."
Maxky menarik napas panjang. Menyeruput kopi tanpa bicara.
Tapi Kritt masih melanjutkan, dengan tatapan jujurnya yang tenang.
"...Tapi terima kasih. Karena kamu nggak kabur semalam."
KAMU SEDANG MEMBACA
2Moons
FanficKapal yang berlayar : JossKritt & PinSanta Ghostship Area ⏩ LGBT area☠️ so, HOMOPHOBIA dilarang mendekat. ⏩Area dewasa🔞 ⏩MPreg Area ⏩Kapal hantu bertaburan ☠️, jangan harap kapal benar berlayar disini. ⏩TYPO & kata yang hilang bertebaran. ⏩ Update...
