Maxky tak pernah tahu seperti apa bentuk wajah ibunya.
Atau suara ayahnya.
Atau aroma rumah di pagi hari saat matahari menyelinap masuk melalui jendela.
Yang ia tahu hanyalah aspal panas, suara klakson yang membisingkan telinga, dan tatapan acuh tak acuh dari manusia-manusia yang berlalu lalang di pinggir jalan.
Itulah rumahnya—jalanan kota yang tak pernah ramah. Tempat di mana tangis anak-anak hanya dianggap sebagai suara bising yang harus dihindari. Dan tempat itu juga yang pertama kali mengajarkannya bahwa hidup bukan tentang berharap... tapi tentang bertahan.
Maxky dibuang saat masih bayi. Bayi haram—anak dari dua remaja SMA yang terlalu muda untuk mengerti arti tanggung jawab. Wanita yang melahirkannya saat itu baru berusia enam belas tahun, dan lelaki yang memberinya kehidupan sama-sama belum tahu bagaimana caranya mencintai dengan benar. Mereka memilih jalan yang paling mudah: membuangnya dalam diam. Tak ada yang tahu. Tak ada yang harus tahu. Hanya mereka berdua... dan bayi kecil itu.
Maxky diserahkan ke sindikat pengemis jalanan. Mungkin dijual. Mungkin dibuang begitu saja dan dipungut oleh mereka yang melihat anak kecil sebagai mesin uang. Di tempat itu, bayi seperti dirinya bukanlah manusia. Mereka adalah "aset."
Dan aset harus menghasilkan.
Saat anak-anak lain belajar menghitung dan membaca, Maxky belajar cara memohon dengan mata memelas. Cara mencuri dompet dengan tangan ringan. Cara berbohong dengan air mata.
Jika gagal, dia tak akan makan. Jika menolak, dia akan dipukuli. Dan malam-malam tanpa tempat tidur adalah hal biasa. Luka di lutut, perut kosong, suara cambuk—itu semua adalah bagian dari hari-harinya. Hidupnya diciptakan untuk bertahan, bukan untuk berkembang.
Tak ada sekolah.
Tak ada pelukan.
Tak ada nama yang dipanggil dengan kasih sayang.
Hanya dunia yang terus menuntutnya menjadi tangguh... atau mati.
———...———
Usianya baru tujuh tahun ketika suatu hari ia mencopet dompet dari pria berbadan pas dengan porsinya sedang berdiri di tepi pasar. Dompet itu tebal, mewah, dan tampaknya penuh uang. Mata Maxky berbinar. Dengan langkah cepat, dia menyelinap dan menariknya dari saku belakang.
Namun langkahnya berhenti saat sebuah tangan besar mencengkeram bahunya dari belakang.
"Anak sialan, kamu pikir aku nggak ngerasa?" suara pria itu terdengar kasar.
Maxky membeku.
Tapi pria itu, alih-alih memukulnya, malah menatapnya lurus-lurus. Mata tajam itu memandang seolah bisa menembus semua pertahanan Maxky. Seolah tahu... bahwa bocah ini lebih dari sekadar pencopet jalanan.
Dia adalah luka yang disembunyikan dunia.
Dan pria itu adalah Gulf Kanawut—seorang polisi senior yang menyamar sebagai warga biasa. Sudah berbulan-bulan Gulf menyelidiki sindikat yang memperbudak anak-anak di jalanan. Dan hari itu, Maxky tanpa sadar menjadi kunci untuk membongkar semuanya.
"Bawa aku ke tempatmu tinggal," ujar Gulf singkat.
Maxky awalnya takut. Tapi sesuatu dalam diri Gulf membuatnya menurut.
Dan begitulah... semua terbongkar.
Polisi menyerbu tempat persembunyian sindikat itu. Anak-anak diselamatkan. Beberapa pelaku ditangkap. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Maxky merasakan udara tanpa rasa takut.
KAMU SEDANG MEMBACA
2Moons
Fiksi PenggemarKapal yang berlayar : JossKritt & PinSanta Ghostship Area ⏩ LGBT area☠️ so, HOMOPHOBIA dilarang mendekat. ⏩Area dewasa🔞 ⏩MPreg Area ⏩Kapal hantu bertaburan ☠️, jangan harap kapal benar berlayar disini. ⏩TYPO & kata yang hilang bertebaran. ⏩ Update...
