46 : Penghapusan Tanpa Ampun

78 19 10
                                        

Joss duduk di sudut ruang tamu rumah kakeknya, memandangi secangkir teh yang perlahan dingin tanpa pernah disentuh. Wajahnya kusut, penuh keraguan, tapi ia tak punya waktu untuk menelusuri keraguan itu lebih jauh. Hari-harinya penuh dengan upaya menghibur Gawin yang kini terlihat semakin rapuh, seolah dunia telah runtuh di sekelilingnya.

Gawin, yang dulu ceria dan penuh semangat, kini berubah menjadi sosok yang berbeda. Setiap kali Joss menatapnya, ia melihat bayangan kegagalan yang menyelimuti sahabatnya itu. Bisnis keluarga Gawin yang dulu begitu kuat, kini tinggal cerita yang mulai memudar dan hancur berantakan.

"Ini semua gara-gara Meen," gumam Joss dalam hati, meski belum sepenuhnya yakin. Ia tahu Meen—ayah Kritt—adalah orang yang penuh kekuasaan dan pengaruh, tapi sampai sejauh apa dia mengorbankan keluarga lain demi melindungi Kritt?

Setiap kali Gawin membuka pembicaraan, nada suaranya penuh kepedihan. Ia bercerita tentang bisnis keluarga yang terus-menerus gagal, tentang hutang yang menumpuk tanpa henti, dan tentang tekanan dari orang tuanya yang dulu dengan bangga mengadopsinya dari panti asuhan, tapi kini menyesal.

"Kadang aku merasa terjebak," kata Gawin suatu malam, suaranya hampir serak. "Seperti... hidupku ini cuma boneka yang dimainkan oleh nasib dan orang-orang di sekitarku."

Joss mencoba menghibur, memberinya pelukan yang hangat, tapi hatinya juga penuh kegelisahan. Ia tahu, jika Meen memang sudah menggerakkan roda kehancuran itu, Gawin bukan satu-satunya yang kehilangan. Tapi juga, ia sadar, Kritt sedang terperangkap dalam pertempuran yang tak pernah ia pilih.

Namun Joss tak pernah berani menggali lebih dalam tentang apa yang sebenarnya terjadi antara Meen dan keluarga Gawin. Ia terlalu sibuk menguatkan Gawin yang kini semakin kehilangan harapan.

Hari demi hari, Joss menemani Gawin menghadapi kenyataan pahit. Mereka pergi ke sana ke mari, mencari peluang baru, mencoba bangkit dari kehancuran yang terjadi. Tapi Meen seakan hadir dalam setiap langkah, memastikan tak ada satu pun usaha yang benar-benar berhasil.

"Kalau mereka nggak pindah ke luar negeri, bisnis itu nggak akan pernah hidup lagi," kata Gawin suatu saat dengan mata yang merah. "Ayahku marah besar, aku juga. Tapi kita nggak bisa berbuat apa-apa."

Joss menggenggam tangan Gawin erat. "Kita harus kuat, Gawin. Aku di sini, kita akan melalui ini bersama."

Tapi dalam hati kecilnya, Joss merasa berat. Berat memikirkan Kritt yang entah di mana, yang mungkin juga merasakan luka dan keterasingan yang sama. Namun perasaan itu selalu disingkirkannya. Ia memilih fokus pada Gawin, yang kini jadi satu-satunya orang yang benar-benar membutuhkan dirinya.

Di mata Tuan Sangngern, kakek Joss, keluarga Gawin pun menjadi tanggung jawab yang besar. Ia menerima mereka dengan tangan terbuka, tapi juga tak bisa menutupi keprihatinan. Kakek sering terlihat muram di ruang kerjanya, membicarakan nasib keluarga Gawin kepada orang-orang terdekat.

"Ini beban yang berat," ucap Tuan Sangngern pada Joss suatu hari. "Tapi aku yakin, dengan dukungan yang tepat, mereka bisa bangkit kembali."

Joss ingin percaya itu, tapi hatinya sering kali bertanya-tanya: Apakah ini benar-benar jalan yang baik? Apakah Gawin benar-benar bahagia, atau sekadar bertahan di atas reruntuhan harapannya?

Di tengah semua ini, Gawin tetap berusaha tersenyum saat bersama Joss. Ia mencoba menjadi orang yang kuat, meskipun terkadang sorot matanya mengisyaratkan keputusasaan yang dalam. Dan Joss, dengan segala kekuatannya, berusaha menutupi kepedihan itu agar sahabatnya tak semakin tenggelam.

Namun tanpa disadari, jarak dengan Kritt semakin melebar. Pesan-pesan yang dikirim Gawin ke Kritt tak lagi sampai, karena Meen dan Perth telah memutus semua jalur komunikasi yang bisa membuat Kritt terhubung dengan dunia lama yang menyakitkan.

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang