Pria tinggi berotot itu berdiri bersandar di dinding luar kelas, sengaja datang lebih awal untuk menunggu seseorang yang sangat ingin ia temui—Kritt. Wajahnya menyiratkan kelegaan begitu pintu kelas terbuka dan sosok yang dinantikannya muncul dari balik kerumunan mahasiswa. Tanpa sadar, senyum hangat merekah di wajahnya.
Namun, Kritt yang melihat Joss menunggunya hanya bisa menarik napas pelan. Hatinya sedikit berdesir, entah karena senyum pria itu atau karena masih ada sisa ganjalan dari kejadian kemarin. Ia melangkah perlahan, wajahnya tetap datar. Tidak marah, tapi belum sepenuhnya lega. Seolah dia kembali menjadi Kritt yang dulu—dingin dan menjaga jarak, sebelum mereka menjalin hubungan.
"Gimana ujiannya? Dapat jawabannya?" tanya Joss, tetap berusaha terdengar ceria, meski menyadari ada ketegangan yang belum surut di antara mereka.
"Begitulah," jawab Kritt singkat, tanpa semangat. Ia lalu berjalan menuju kursi besi berderit yang berada di sepanjang koridor kelas. Joss mengikuti langkahnya dan duduk tepat di sebelahnya, menjaga jarak cukup dekat untuk bisa merasakan kehadiran satu sama lain.
"Ada apa abang nungguin aku? Emang nggak ada ujian lagi? Udah pulang?" tanya Kritt, suaranya terdengar datar tapi sopan. Sekesal apa pun dia, ia tetap berusaha menjaga nada bicara. Ia tidak ingin emosinya yang sesaat merusak sesuatu yang selama ini mereka bangun bersama. Apalagi masalah kemarin memang bukan hal besar. Ia sudah memaafkan, tapi belum bisa melupakan sepenuhnya.
"Udah. Hari ini abang cuma ada tiga ujian. Tadi yang terakhir barusan selesai," jawab Joss, matanya tak lepas dari wajah Kritt. "Kalau adek?"
"Aku juga udah selesai," ucap Kritt sambil mengalihkan pandangannya sejenak ke arah mahasiswa yang lewat dan menyapa Joss.
Kritt menatap Joss yang dengan ramah membalas sapaan juniornya. Ada secuil rasa tak nyaman yang menyesak di dada. Ia tahu, Joss adalah sosok yang populer, terbuka, dan mudah didekati. Tapi itulah yang sering kali membuatnya merasa tidak aman. Kritt mencintai Joss dengan dalam, tapi ia juga membenci betapa mudahnya orang lain masuk dalam kehidupan pria itu—dalam hubungan mereka.
Tanpa berkata apa-apa, Kritt bergeser pelan, mendekat. Ia menyandarkan kepala di bahu kekar Joss, merapatkan tubuhnya agar bisa merasakan kehangatan pria yang ia cintai. Ia meraih tangan Joss, menggenggamnya erat dengan kedua tangan seperti tidak ingin dilepas. Joss menoleh dengan tatapan penuh kelembutan, terkejut namun senang dengan inisiatif itu.
"Capek ya, dek?" tanyanya pelan, nyaris berbisik.
Kritt menggeleng kecil, masih bersandar di bahu Joss. "Enggak capek... cuma pengen gini aja sama abang. Lama."
Joss tersenyum kecil. Bukan senyum biasa, tapi senyum yang hanya muncul saat hatinya benar-benar tenang. Ditatapnya wajah manis Kritt yang tampak lebih damai kini, dan semua kekhawatiran tentang pesan yang tak dibalas atau telepon yang diabaikan seolah tak penting lagi.
"Nonton yuk," ajak Joss ringan.
"Tapi aku lapar..." sahut Kritt, suaranya manja, lembut, seperti sedang merengek.
"Ya udah, habis makan kita nonton." Joss langsung mengambil kesempatan itu. Tangannya melingkar di pinggang Kritt, menariknya sedikit lebih dekat sebelum mengecup keningnya singkat tapi penuh rasa.
"Abang yang traktir?" Kritt mendongak sedikit, menatapnya dari bawah dengan mata berbinar.
"Iya..." balas Joss sambil tersenyum.
"Kalau gitu, ayok! Adek tahu tempat makan yang enak, nggak jauh dari kampus," ujar Kritt dengan semangat. Ia berdiri sambil menarik tangan Joss, seakan ingin buru-buru pergi dari suasana kampus yang mulai lengang.
"Kita naik kendaraan masing-masing, atau..." tanya Joss sembari berdiri.
"Adek nggak bawa mobil atau motor. Tadi pagi nebeng Type," potong Kritt cepat. Ia lalu menyerahkan tas ranselnya ke Joss dengan ekspresi tak bersalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
2Moons
FanfictionKapal yang berlayar : JossKritt & PinSanta Ghostship Area ⏩ LGBT area☠️ so, HOMOPHOBIA dilarang mendekat. ⏩Area dewasa🔞 ⏩MPreg Area ⏩Kapal hantu bertaburan ☠️, jangan harap kapal benar berlayar disini. ⏩TYPO & kata yang hilang bertebaran. ⏩ Update...
