Pagi yang Basah – Di Depan Gerbang Kediaman Keluarga Khajornborirak
Jam menunjukkan pukul 08:12 pagi saat Joss memarkir mobilnya di sisi jalan yang menghadap ke gerbang besar berukir emas itu. Di sebelahnya, Gawin duduk diam, memegang botol air mineral yang belum ia buka.
Udara masih sejuk, sisa hujan semalam belum sepenuhnya menguap. Pohon-pohon besar di sepanjang jalan kompleks elite itu bergoyang tertiup angin pagi.
"Yakin mau ke sini lagi?" tanya Gawin akhirnya.
Joss hanya mengangguk. Wajahnya terlihat lebih kurus dari sebelumnya, kantung matanya dalam, rambutnya berantakan. Tapi sorot matanya masih menyimpan tekad yang belum padam.
"Aku harus minta maaf langsung ke Kritt. Harus."
Gawin menghela napas pelan. Ia tahu tujuan Joss bukan dirinya. Belum. Tapi entah kenapa, ia tetap ikut.
Mereka turun dari mobil, berjalan menyusuri batu kerikil putih menuju gerbang besi besar itu. Dua penjaga berbadan tegap langsung menegakkan tubuh begitu melihat kedatangan mereka.
Salah satu penjaga mengenali Joss. "Maaf, Tuan Joss..." katanya, bersuara keras namun sopan. "Kami sudah mendapat instruksi. Anda tidak boleh masuk, siapa pun yang bersama Anda juga tidak diizinkan."
Joss menghentikan langkahnya. "Tolong... setidaknya sampaikan ke Kritt, aku datang. Aku cuma mau bicara sebentar, minta dia dengar klarifikasi, itu saja."
"Maaf, perintah dari Kepala Rumah Tangga, langsung dari Tuan Meen. Kami tidak berwenang melanggar."
"Kamu tahu aku gak akan macam-macam, kan?" Joss mencoba bersikap tenang, meski suaranya nyaris bergetar.
Penjaga itu menunduk pelan, menunjukkan rasa hormat, namun tetap tak memberi celah.
"Kami tahu, Tuan. Tapi perintahnya sangat tegas. Maaf."
Joss menggertakkan rahangnya. Frustrasi begitu nyata di sorot matanya. Ia memalingkan wajah, menarik napas dalam-dalam.
Gawin yang berdiri setengah langkah di belakangnya kini maju. "Kalau begitu... mungkin saya yang bisa bicara langsung ke Tuan Meen? Saya... saya yang salah dalam kejadian itu. Biarkan saya jelaskan, tolong."
Penjaga menggeleng. "Maaf, Tuan. Anda bahkan tidak terdaftar dalam nama-nama yang boleh mendekati rumah ini. Kami tidak bisa bantu."
Keheningan menggantung sesaat.
Hanya suara burung dan dedaunan yang terdengar. Joss menunduk, meninju udara kosong dengan kepalan tangan di samping tubuhnya. Gagal. Lagi-lagi gagal. Kali ini bahkan tak bisa sampai halaman depan.
Gawin mendekat, meletakkan tangannya di bahu Joss.
"Bang..." ujarnya pelan. "Udah... jangan paksa diri. Ini semua nggak akan selesai dalam satu hari. Tapi aku di sini, ya? Kita pelan-pelan hadapi ini. Bareng-bareng."
Joss menatap Gawin sejenak. Matanya berkaca, tapi tak ada air mata. Hanya letih yang tak terbendung.
"Maaf, Win... aku bawa kamu ke sini buat bantu aku, tapi malah jadi sia-sia."
Gawin menggeleng cepat. "Nggak sia-sia. Aku... aku senang bisa nemenin abang. Aku tahu sekarang abang butuh seseorang, dan selama abang izinkan aku ada, aku nggak akan pergi."
Joss hanya menatapnya, tak bisa berkata apa-apa. Hatinya masih menggantung pada sosok yang tidak bisa ia temui. Tapi di saat yang sama, pundaknya kini bersandar—secara tak sadar—pada sosok lain yang terus menawarkan diri untuk tetap tinggal.
———...———
Matahari sudah sepenuhnya terbit ketika Kritt terduduk di kursi rotan kecil yang menghadap ke jendela kamarnya di lantai dua. Tubuhnya masih dibalut selimut, pipinya masih panas karena demam yang belum sepenuhnya turun. Tapi bukan suhu tubuhnya yang membuatnya sulit bernapas pagi itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
2Moons
FanfictionKapal yang berlayar : JossKritt & PinSanta Ghostship Area ⏩ LGBT area☠️ so, HOMOPHOBIA dilarang mendekat. ⏩Area dewasa🔞 ⏩MPreg Area ⏩Kapal hantu bertaburan ☠️, jangan harap kapal benar berlayar disini. ⏩TYPO & kata yang hilang bertebaran. ⏩ Update...
