49 : Hadiah Yang Dikembalikan

72 21 3
                                        

Suasana sore itu di sasana tinju, yang biasanya tenang dan hanya diisi suara orang latihan, berubah menjadi panas dan penuh ketegangan. Di ruang tamu yang luas dengan dinding kaca menghadap jalanan, empat sahabat Joss—Max, Lee, Nan, dan Bright—duduk saling berhadapan, wajah-wajah mereka tak bisa menyembunyikan kemarahan.

Joss berdiri, bersandar di sisi rak buku kayu tua, dengan tangan menyilang dan tatapan defensif. Ia tahu ini akan datang. Ia tahu cepat atau lambat mereka akan tahu, dan kini saatnya menghadapi badai.

"Kau serius, Joss?" suara Max meledak pertama. "Kau masukin Gawin ke kartu keluargamu? Secara resmi?!"

Joss tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, mencoba tetap tenang. "Iya. Aku udah daftarin dia. Dia... sekarang bagian dari keluarga Sangngern."

"Bagian dari—" Bright berdiri dari kursinya, nyaris menjatuhkan bantal kecil di pangkuannya. "Apa kamu dengar dirimu sendiri, Joss? Itu gila! Dia bukan adikmu. Dia bukan keluargamu. Dia Gawin!"

Lee, yang biasanya tenang dan bijak, bahkan tak bisa menyembunyikan ekspresinya yang gelap. "Aku benar-benar nggak habis pikir. Kita semua tahu apa yang udah dia lakukan ke Kritt. Dia penyebab utama semuanya rusak. Dan sekarang kamu justru kasih dia tempat di keluargamu?"

"Gawin bukan cuma penyebabnya," bantah Joss dengan suara yang tak kalah keras. "Semua orang salah dalam hal ini. Kritt juga nggak mau denger penjelasanku. Aku udah milih Gawin. Aku bertanggung jawab." Di sini Joss sedikit berbohong, karena pada kenyataannya Joss yang tak mau mendengar penjelasan Kritt.

Nan—yang dari tadi diam, akhirnya bicara, dan itu membuat ruangan menjadi lebih dingin. "Tanggung jawab?" tanyanya pelan, namun menusuk. "Kamu ngira kamu bertanggung jawab atas Gawin, Joss? Padahal yang kamu lakukan justru makin nyakitin Kritt. Kamu bukan tanggung jawab Gawin. Kamu bukan... dewa penyelamat."

"Gawin nggak punya siapa-siapa lagi!" Joss akhirnya meledak. "Dia ditinggal keluarganya. Dia nggak punya tempat buat pulang. Mau kalian bilang apa pun tentang dia, dia tetap orang yang pernah jadi segalanya buatku. Waktu aku nggak punya siapa-siapa, dia yang selalu ada."

"Tapi itu dulu, Joss!" Max membalas cepat. "Dulu waktu kalian masih bocah panti. Sekarang Gawin udah berubah. Dia manipulatif. Dia tahu caranya buat bikin kamu kasihan dan terikat. Dan dia udah berhasil."

"Dia pura-pura sakit!" tambah Bright. "Depresi bohongan. Tangisan palsu. Kamu pikir itu cinta? Itu jerat, Joss." Jelas Bright tentu saja Joss menyangkal itu, sampai kapanpun—walaupun sahabatnya berkata jutaan kali tentang Gawin yang manipulatif, dia takkan pernah percaya. 

Joss menunduk. Seketika semua kata-kata itu menancap di dadanya. Tapi ia tetap mengangkat wajahnya, mencoba menguatkan diri.

"Aku tahu kalian benci dia. Aku tahu kalian masih berpihak ke Kritt. Tapi aku udah milih. Aku nggak bisa biarin Gawin sendirian lagi."

Bagi Joss, teman-temannya berkata Gawin itu manipulatif, karena mereka membenci Gawin.

"Jadi kamu lebih milih orang yang menghancurkan hidup Kritt, daripada sahabat-sahabatmu sendiri?" tanya Lee tajam. "Kamu tahu Kritt belum move on. Dia nahan semua rasa sakit sendirian, karena kamu nggak pernah kasih penjelasan. Dan sekarang kamu malah sahkan Gawin jadi bagian hidupmu?"

"Dia sekarang keluargaku," ujar Joss lirih, nyaris tak terdengar.

Nan berdiri perlahan, memandang Joss dengan mata merah. "Keluarga bukan sekadar nama di kertas, Joss. Keluarga itu soal kepercayaan. Dan kamu baru saja ngerusak kepercayaan kita semua."

Tak ada yang bicara setelah itu. Hanya suara laut yang kembali mengisi ruangan, seperti ejekan pada keheningan yang mencekam. Joss menatap keempat sahabatnya—orang-orang yang dulu selalu membelanya tanpa syarat. Kini, tatapan mereka hanya berisi luka, kecewa, dan marah.

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang