Kesan pertama setelah sampai rumah: Maxky seperti Buddha turun dari surga.
Langkahnya ringan. Mata sedikit berkaca-kaca. Mulutnya diam, tapi senyum tidak mau lepas dari wajahnya. Wajah yang biasanya tenang seperti dokter jaga IGD yang tak pernah panik kini terlihat seperti remaja lulus ujian negara. Bahagia. Terlalu bahagia sampai-sampai... mencurigakan.
Singto, sang daddy, baru saja selesai meeting dengan dekan fakultas kedokteran. Begitu melihat putranya melangkah masuk rumah, pria paruh baya itu langsung berhenti mengaduk kopinya.
"Sayang..." panggilnya pada suaminya yang sedang menyusun jurnal di ruang baca. "Itu anak kita pulang..."
"Lalu?"
"Tapi dia tersenyum."
"Maxky memang selalu senyum."
"Ini beda. Senyumnya kayak... senyum orang yang habis dipeluk Malaikat," jawab Singto dramatis.
Suaminya, Kritt, menurunkan kacamatanya. "Astaga, abang ini. Maksudnya apa lagi?"
"Lihat sendiri."
Mereka berdua mengintip dari balik ruang baca. Dan benar saja, Maxky berjalan seperti sedang mengambang. Tatapannya kosong tapi damai. Tangan masih memeluk helm seolah itu adalah harta paling berharga. Bahkan saat pelayan rumah menyapanya pun, ia hanya mengangguk tanpa suara lalu naik ke lantai dua.
Kritt, sang papa, memutar bola matanya. "Fix. Ini pasti gara-gara Kritt."
Singto terkekeh. "Ya jelas. Mana ada anak kita bisa kayak gitu kalau bukan karena seseorang. Biasanya habis operasi jantung aja ekspresinya tetap kayak patung Buddha."
———...———
Di kamar Maxky.
Bunyi pintu dikunci pelan. Helm diletakkan dengan hati-hati di meja. Sepatu ditata, jaket dilipat, lalu tubuh Maxky jatuh ke kasur empuk ukuran king yang menghadap langsung ke jendela besar dengan pemandangan kolam renang keluarga.
Namun pandangannya tak tertarik pada apapun... kecuali kamera analog di tangannya.
Ia duduk, membuka penutup lensa, memeriksa hasil fotonya. Lalu berhenti di tiga foto terakhir.
Satu per satu ia tatap lama-lama. Terutama yang tengah, Kritt duduk di tengah ladang bunga liar, memandangi tangkai cosmos ungu, dengan senyum samar yang jarang sekali muncul. Senyum itu bukan untuk kamera. Tapi senyum yang muncul karena kenyamanan. Karena ketenangan.
Senyum yang... untuk pertama kalinya... ia rasa mungkin sedikit, hanya sedikit saja, muncul karena dirinya.
Maxky mengusap layar kamera dengan ibu jarinya. Lalu berdiri.
Ia membuka laptop, memindahkan foto, mengeditnya sedikit agar warnanya lebih lembut, lalu mengirimnya ke studio cetak foto terbaik di Bangkok. Ukuran yang ia pilih? 100x150 cm. Dibingkai kayu mahoni. Kualitas museum.
Tidak sampai tiga menit, ia dapat konfirmasi balasan. Foto akan selesai dicetak dan dikirim besok pagi pukul delapan tepat.
Maxky tersenyum lagi. Hari ini sempurna.
———...———
Satu jam kemudian...
Maxky masih duduk di ranjangnya. Laptopnya menyala, tapi dia tidak bekerja. Tidak membaca jurnal. Tidak menyusun presentasi. Dia hanya memandangi wallpaper laptopnya yang baru, foto Kritt di ladang bunga.
Ia menyandarkan dagunya di lutut, lalu memeluk kakinya seperti anak kecil yang sedang dimabuk cinta.
"Aku bisa patah hati kapan saja, tapi hari ini... aku dikasih mimpi yang jadi nyata."
KAMU SEDANG MEMBACA
2Moons
FanfictionKapal yang berlayar : JossKritt & PinSanta Ghostship Area ⏩ LGBT area☠️ so, HOMOPHOBIA dilarang mendekat. ⏩Area dewasa🔞 ⏩MPreg Area ⏩Kapal hantu bertaburan ☠️, jangan harap kapal benar berlayar disini. ⏩TYPO & kata yang hilang bertebaran. ⏩ Update...
