Malam Hari...
Langit malam bertabur bintang, tapi tidak cukup terang untuk menenangkan dada yang gaduh. Udara dingin menyusup perlahan, membungkus tubuh yang duduk diam di tangga belakang rumah. Joss memeluk lututnya sendiri, kepala disandarkan di atasnya, napasnya berat. Hanya suara jangkrik dan bisikan dedaunan yang terdengar, sebelum suara rendahnya memecah keheningan.
"Aku kirim pesan ke Kritt tadi sore..." Joss membuka suara, pelan. Hampa. "...Dia balas cuma satu kalimat. Pendek. Dingin banget, Win. Kayak... aku orang asing."
Gawin melangkah pelan, lalu duduk di sampingnya. Tidak terlalu dekat. Tapi cukup dekat untuk menunjukkan bahwa ia ada di sana. Bahunya tidak menyentuh, tapi keberadaannya terasa. Ia menoleh, menatap sisi wajah Joss yang diselimuti bayangan.
"Mungkin dia butuh waktu, bang," ucapnya lembut. "Atau... mungkin dia bingung harus gimana."
Joss tertawa kecil, getir. "Atau mungkin dia udah benar-benar selesai sama aku. Selesai dan enggak akan balik lagi."
Diam. Jawaban Gawin tak langsung datang. Ia menatap langit sebentar, seolah mencari kata di antara bintang-bintang, lalu berkata dengan suara nyaris berbisik.
"Kalau abang dan dia selesai..." Ia ragu sejenak, tapi akhirnya menoleh, menatap Joss dengan jujur. "...ada aku, Joss."
Joss tak langsung merespon. Matanya masih menatap lurus ke depan, namun tubuhnya menegang pelan.
"Aku enggak minta apa-apa," lanjut Gawin. Suaranya makin dalam, makin lirih. "Aku cuma mau abang tahu... abang enggak sendiri. Meski semua orang pergi. Aku enggak akan."
Kalimat itu menggantung di udara. Membeku di antara napas mereka yang bertabrakan pelan dalam dingin malam.
Tak ada jawaban dari Joss. Tidak juga penolakan.
Namun Gawin tahu, kata-katanya masuk ke dalam. Diam-diam. Seperti racun yang manis. Yang tidak membakar, tidak memaksa, tapi meresap perlahan, menyusup ke celah-celah hati yang retak.
Dan di dalam kegelapan, hanya Gawin yang bisa melihat... betapa rapuhnya Joss malam ini.
Betapa ia sedang tergelincir di ambang kehilangan dan ingin sekali ditahan.
Joss masih tak berkata apa-apa, tapi bahunya perlahan turun. Napasnya panjang dan berat, seakan menyerah pada rasa lelah yang tak bisa lagi ia tahan.
Dan pada akhirnya, tanpa suara, Joss menyandarkan kepalanya ke bahu Gawin. Tubuhnya hangat, namun terasa kosong. Seperti seseorang yang sudah tak berharap apa-apa—hanya ingin merasa aman, untuk malam ini saja.
Gawin tak bergerak. Ia hanya menarik napas pelan, lalu membungkus tubuh Joss dengan lengannya. Pelan. Penuh hati-hati. Ia menunduk, merasakan helaan napas lembut yang mulai teratur di dadanya. Joss tertidur.
Seketika itu, Gawin membuka matanya perlahan.
Ia tak banyak bergerak, tapi tangannya yang satu menyelip ke saku hoodie-nya. Mengambil ponsel. Dengan sangat tenang dan lambat, ia mengangkat kamera. Ia pastikan wajah Joss terlihat—lelah, damai, dan ada dalam pelukannya.
Klik.
Satu foto.
Gawin menatap layar ponsel sesaat. Tangannya tak gemetar, tak ragu. Ia membuka aplikasi pesan. Mencari satu nama yang tersimpan di dalam: Kritt.
Ia tidak mengetik kata-kata. Tidak butuh narasi.
Hanya satu foto.
Dikirim.
Sent.
Lalu Gawin mengunci layar. Napasnya tenang. Tatapannya kembali pada Joss yang masih tertidur di dadanya. Ia menyapu beberapa helai rambut yang menempel di kening Joss, lalu membisikkan sesuatu yang nyaris tak terdengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
2Moons
Fiksi PenggemarKapal yang berlayar : JossKritt & PinSanta Ghostship Area ⏩ LGBT area☠️ so, HOMOPHOBIA dilarang mendekat. ⏩Area dewasa🔞 ⏩MPreg Area ⏩Kapal hantu bertaburan ☠️, jangan harap kapal benar berlayar disini. ⏩TYPO & kata yang hilang bertebaran. ⏩ Update...
