42 : Pesan Penuh Rencana

67 21 4
                                        

Pov Gawin ...

Sudah tujuh hari sejak mereka tiba di Phuket. Dan selama tujuh hari itu, Gawin tidak pernah berhenti bermain peran—dan mencatat setiap langkahnya seperti seorang seniman menyusun masterpiece. Tapi bukan untuk dikenang. Bukan untuk dibanggakan.

Semua ini... untuk dihancurkan. Untuk dikirim pada satu orang yang ia tahu masih berdiri di ujung tebing: Kritt.

Malam pertama, saat Joss tertidur di bale-bale kayu belakang rumah, Gawin mengambil foto diam-diam. Joss dengan rambut basah setelah berenang, napas teratur, kepala bersandar di lengan—terlalu damai untuk seseorang yang katanya masih patah hati.

Foto itu dikirim jam 2 pagi. Tanpa teks. Hanya gambar. Tapi maknanya? Penuh.

Esoknya, Gawin mengambil video. Joss sedang memijat kaki Tuan Sangngern sambil tertawa—tawa yang tak pernah Gawin dengar ketika nama Kritt masih disebut-sebut di rumah ini. Ia potong videonya, biarkan bagian Joss tersenyum dan menyeka keringatnya masuk. Lalu ia kirim.

Caption:
"Lucu ya, bagaimana orang bisa terlihat lebih bahagia setelah ditinggalkan?"

Hari ketiga, Gawin mengambil foto mereka bertiga makan malam. Ia sengaja meminta pelayan mengambil dari angle yang menunjukkan kedekatan. Tangannya menyentuh tangan Joss—tidak disengaja, tapi tidak ditarik juga. Sangngern tersenyum di tengah mereka.

Foto itu masuk ke ponsel Kritt pukul 19.04.

Caption:
"Di sini, enggak ada yang nanyain kamu. Bahkan Joss enggak pernah sebut namamu lagi. Tenang aja."

Hari keempat, Joss sakit kepala karena kepanasan setelah berkebun. Gawin yang membawakan handuk dingin. Ia rekam dari balik cermin—momen Joss menunduk dan menggumam "terima kasih" dengan suara pelan.

Video itu berdurasi 8 detik. Cukup untuk menunjukkan kelembutan.
Cukup untuk menusuk lambat.

Caption:
"Kamu pasti pernah liat wajah itu, ya? Tapi sekarang... bukan untuk kamu lagi."

Hari kelima, Gawin menulis pesan panjang. Ia tahu Kritt mungkin akan mengabaikannya. Tapi itu bukan tujuannya. Tujuannya: membuat Kritt membaca. Dan merasakan setiap hurufnya menghantam.

Pesan:

Kritt,
Kadang aku berpikir, kamu tahu nggak sih betapa mudahnya kamu disingkirkan? Bukan karena Joss mudah berpaling. Tapi karena kamu terlalu percaya diri bahwa dia akan tetap nunggu.

Selama kamu sibuk dengan ego, aku ada di sini. Dengerin dia cerita. Ngeliat dia nangis, meski dia pura-pura kuat. Kamu enggak tahu, kan, bahwa malam kedua di sini, Joss tidur sambil meluk bajumu yang dia bawa diam-diam? Tapi pagi ketiga, dia lipat dan taruh di lemari. Sendiri.

Joss berubah. Tapi bukan karena aku merusak. Aku cuma datang saat kamu pergi. Dan sepertinya... dia enggak butuh kamu buat kembali jadi dirinya sendiri.

Aku enggak minta kamu mundur. Aku cuma minta kamu sadar diri. Tempat itu sudah terisi. Dan aku pastikan... dia akan bahagia tanpamu.

Gawin menekan "kirim" dengan tenang. Ia tahu pesan itu tidak akan dibalas. Tapi ia membayangkan wajah Kritt saat membacanya. Mungkin diam. Mungkin hancur. Mungkin hanya menggenggam ponselnya dengan tangan gemetar.

Bagus. Biarkan dia merasa itu.

Hari keenam, Gawin kirim voice note. Singkat, hanya tiga detik.
Suara Joss tertawa lepas saat melihat seekor kucing liar naik ke pangkuannya di kafe pinggir pantai. Tawa yang nyaring. Ringan. Seolah tak ada luka tersisa.

Caption:
"Dengar, kan? Itu suara orang yang sudah selesai mencintaimu."

Hari ketujuh. Gawin tidak kirim apa-apa. Tapi ia menulis satu kalimat di catatan, lalu menghapusnya. Tapi sebelum itu, ia sempat menyalin dan mengirimkannya.

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang