27 : Grogi

114 23 4
                                        

Pin membuka mulutnya sedikit, dia melirik Type yang terlihat sudah sangat bergairah sekali. "Jadi, bagaimana?" Goda Type kali ini dia mengangkat dagu Pin dengan ujung jari telunjuknya. Menatap manik gelap itu lekat-lekat penuh puja.

Pin seolah tersihir, namun pikirannya masih waras dan mampu dia mengendalikan dirinya. "Gak, kita ciuman aja." Putus Pin sangat baik penguasaan dirinya walaupun dia sangat minim pengalaman soal beginian.

Type kembali mendekati bibirnya, lalu mencium Pin dengan lembut. Membuat yang dicium tak berdaya dan terbuai.

Tidak ada yang bisa menahan keinginan Type dalam menjelajahi manisnya bibir Pin beserta rongga dalam mulutnya. Pin pun tidak ingin menghentikan niatnya. Kepala mereka bergerak kesana kemari mencari posisi nyaman tuk menikmati momen saat bibir keduanya saling beradu.

Pin memejamkan matanya, menikmati desiran halus yang seketika merajai hatinya. Dadanya berdebar-debar, seperti salah tingkah, tetapi indah dan melenakan.

Beberapa jenak mereka larut dalam keindahan cinta yang sempurna dan manis. Dahaga yang seperti menemukan telaga di gurun pasir.

Mereka sama-sama tak ingin mengakui dan berjanji dalam hati tuk saling menguatkan, berambisi untuk memiliki selamanya sekaligus sumpah tidak akan menyakiti dan akan selalu dijaga bahagia sang terkasih.

Ketika ciuman mereka semakin dalam, tiba-tiba pintu terbuka.

"Eh maaf, abang ganggu kalian," Ucap Saint kikuk namun dia tak bisa segera menutup pintu, sebab Gulf dan Mew kini pun sudah terlanjur masuk. Dua orang tersenyum tipis, seolah tak terkejut dengan apa yang dilihatnya.

Mew menatap Type. "Nak, kalau mau lebih nyaman, sewa hotel. Jangan di sini. Bahaya! Beruntung kami yang masuk, gimana jika yang masuk tadi itu bukan kami? Langsung jadi trending topik kalian besoknya." Oceh Mew akhirnya dia bisa juga menemukan putranya yang langsung ngacir begitu dia berhasil membawa Pin. Padahal tuk merayakan kemenangannya, orang tuanya sudah menyiapkan pesta kecil-kecilan di rumah.

Type langsung gelagapan. "Daddy apa-apaan sih! Terus darimana kalian tahu aku di sini?"

Orang tuanya hanya terkekeh begitupun dengan Saint lantas mereka segera keluar dari ruangan. Dan kini Type melihat Pin yang masih terlihat tersipu malu sehingga Type menatapnya dengan senyum menggoda.

"Gimana, yank? Apa kita pindah ke kamar hotel aja seperti yang di sarankan Daddy, hembn?" Bujuk dia pada kekasihnya yang masih bersih memorinya.

"Type, aku nggak tahu... Ini salah," Jawab Pin bingung dan gelisah. Lebih tepatnya dia tidak mau menjadi pihak bawah setelah melihat video dewasa yang dia dapatkan dari kakaknya. Selama seminggu ini Pin habis di tatar oleh keluarganya tuk hal dewasa agar dia tidak mengalami yang namanya pelecehan seksual dan juga tahu batasan skinship antara keluarga, sahabat, pacar dan orang asing.

"Tapi kamu sayang aku, kan?" Type menggenggam tangan Pin dengan hangat. "Aku berjanji akan bertanggung jawab, apa pun yang terjadi." Dia serius .

Pin mengangguk ringan, "Aku sayang kamu, tapi... aku belum siap dan aku juga gak tahu caranya." Cicit dia dengan mata berkaca-kaca, takut Type marah kemudian pergi meninggalkannya.

Setelahnya Type terkekeh, dia hanya bercanda mengajak Pin berhubungan badan, dia hanya ingin mendengar kata sayang terucap dari bibir Pin tuk dirinya. "Gak apa-apa sayang, aku hanya bercanda. Jadi kamu jangan merasa terbebani." Hibur dia pada kekasihnya yang kini maju bibirnya lalu mengomel, hanya sebentar karena Type segera mengecup bibir ranumnya dan memeluknya.

"Kita pelan-pelan saja, karena aku lebih mengutamakan kenyamanan mu." Jelas Type memberikan ketenangan di hati Pin.

"Terima kasih." Tulus Pin lantas mereka kembali berciuman dengan mesra.

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang