47 : Sisa Nafas Yang Memohon

79 20 7
                                        


Pagi menyapa perlahan, menelusup masuk lewat celah jendela kamar asrama Joss. Sinar matahari yang hangat menari di dinding, menyingkirkan sisa-sisa malam yang kelam. Burung-burung berkicau di kejauhan, seolah ingin menghidupkan suasana—tapi kamar itu tetap senyap.

Joss membuka mata perlahan. Kepalanya berat, pikirannya kabur.

Ia menatap sekeliling dengan bingung. Ranjang sempit itu hanya ditempati dirinya sendiri. Tak ada suara. Tak ada sosok siapa pun. Tapi ada sesuatu yang aneh.

Ia duduk perlahan, menyadari tubuhnya dibalut kaus dan celana pendek yang bukan miliknya. Ia kenal pakaian ini... sangat kenal. Ini milik Kritt. Joss menggenggam ujung kaus itu dengan ragu, hatinya berdesir tanpa tahu sebab.

Kenapa aku mengenakan ini?

Ia menatap meja. Sisa makanan malam tadi masih ada di sana. Tapi Gawin sudah tidak ada.

"Kemana dia?" gumam Joss, suara seraknya menggema di kamar kosong. Ia mengucek mata, mencoba mengingat, mencoba merangkai kembali peristiwa malam kemarin. Tapi semua seperti kabut. Samar. Kabur. Sekejap terang, lalu menghilang. Satu-satunya yang ia ingat hanya suara Gawin yang mengatakan ia takut tidur sendirian.

Setelah itu... gelap.

Ia bangkit dari tempat tidur dengan kepala yang masih berat. Entah mengapa ia merasa tidak enak. Tidak nyaman. Ada sesuatu yang mengganjal. Tapi tidak tahu apa.

———...———

Perjalanan menuju kampus pagi itu mereka lalui dengan langkah pelan. Joss berjalan di tengah Bright dan Max, tasnya disampirkan di bahu. Ketiganya tidak banyak bicara, hanya membiarkan derap langkah mereka berbicara atas nama mereka. Udara masih sejuk, dan kampus hanya berjarak sekitar satu kilometer dari asrama mereka.

Max akhirnya membuka suara duluan. "Apa kamu dan Kritt... benar-benar udahan?"

Joss terdiam. Matanya lurus ke depan, tidak memperlambat langkahnya, tapi jantungnya terasa tertusuk. Pertanyaan itu, sejujurnya, adalah sesuatu yang tak ingin ia dengar dari siapa pun. Karena jawabannya, walau sederhana, terasa seperti vonis yang mematikan.

Dia ingin menyangkal. Ingin berkata bahwa mereka hanya bertengkar. Bahwa semua ini hanya kesalahpahaman. Tapi ia tahu kenyataannya tidak sesederhana itu.

Mereka sudah putus.

Ia tidak menjawab. Hanya menunduk sedikit. Dan itu cukup jadi jawaban.

Max dan Bright saling melirik. Max kembali mencoba, sedikit lebih hati-hati. "Kenapa kalian putus? Karena Gawin yah?"

Lagi-lagi tak ada jawaban. Joss hanya menarik napas panjang, matanya mengabur sejenak karena bayangan semalam yang terus gagal ia ingat.

Bright akhirnya angkat suara, nada suaranya datar namun menusuk. "Gawin kembali berulah seperti dulu, ya? Waktu kamu pacaran sama Fah pas SMA... bukankah dia juga berusaha keras menghancurkan hubungan kalian? Dan berhasil."

Joss mengangkat wajah, kali ini ia menoleh, menatap Bright langsung. "Hubunganku sama Fah berakhir bukan karena Gawin," katanya datar. "Tapi karena Fah selingkuh."

Max tertawa kecil, tapi bukan karena lucu. "Kamu yakin Fah selingkuh... atau kamu cuma percaya semua yang Gawin bilang saat itu?"

Joss terdiam. Ucapan itu membuat pikirannya makin buntu. Ia menggeleng pelan, seolah ingin menepis semua keraguan.

Bright menatap langit. "Kamu selalu ngelindungin dia, Jos. Dari dulu. Dari kecil. Bahkan waktu semua orang tahu dia gak sepenuhnya jujur... kamu tetap bela dia. Karena kalian tumbuh bareng di panti asuhan itu."

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang