73 : Liburan Untuk Kritt

94 21 2
                                        


Langkah Joss terburu-buru menyusuri lorong luar gedung perpustakaan. Langit sore mulai berubah abu-abu, dan udara mengandung aroma hujan yang tertahan. Matanya menelisik ke segala arah, mencari sosok yang tadi sempat menghubunginya panik.

Gawin.

Ia mengabari Joss tidak sampai satu jam yang lalu, suaranya gemetar di seberang telepon. Gawat. Mendesak. Penuh ketakutan yang tak biasa. Bahkan kata-katanya nyaris tak terbentuk dengan jelas, hanya "tolong segera ke perpustakaan" dan "aku takut, Joss... aku butuh kamu."

Namun ketika Joss membuka pintu utama perpustakaan, ia mendapati ruangan kosong. Tak ada Gawin. Tak ada tanda-tanda kepanikan. Meja tempat biasa Gawin duduk di sudut ruangan sudah bersih—hanya kursi yang sedikit miring, seolah seseorang telah berdiri tergesa.

Joss berdiri di sana beberapa saat. Mencoba menghubungi ponsel Gawin. Tidak aktif.

Ia menggigit bibir bawahnya, kesal. Mungkin Gawin sedang di kamar mandi. Mungkin dia panik lalu pergi begitu saja. Tapi, menghilang tanpa jejak?

Joss keluar lagi, berjalan menuju tempat parkir motor tempat mereka biasa meninggalkan helm. Begitu sampai di sana, ia menghela napas lega melihat motornya masih terparkir rapi. Ia membuka loker helmnya, hendak mengambil helm saat sesuatu menarik perhatiannya.

Sebuah amplop putih.

Polos. Tak berlabel. Tidak ada tulisan nama, tidak ada alamat, tidak ada tanda tangan. Tidak terlihat bekas jari, atau sedikit pun lipatan kasar.

Joss mengangkatnya perlahan. Rasanya aneh. Terlalu ringan. Terlalu bersih.

Curiga, ia merobek ujung amplop itu dengan hati-hati dan mengeluarkan selembar kertas tipis di dalamnya. Kertas biasa, namun sangat bersih dan halus. Tak ada tulisan tangan, melainkan hasil ketikan digital yang dicetak dengan printer.

"Jika kau ingin mengetahui siapa Gawin sebenarnya, maka... temui ibumu!"

Kalimat itu berdiri sendiri. Tegas. Singkat. Menampar. Dan di akhir baris, tidak ada tanda nama. Tidak ada cap. Tidak ada ancaman eksplisit—namun nuansanya... terasa dingin. Seperti racun yang tidak berbau.

Untuk beberapa detik, Joss hanya menatap kertas itu.

Diam.

Kemudian ia tertawa pelan.

"Di zaman serba canggih ini, masih saja ada orang yang kurang kerjaan seperti ini." gumamnya sambil menggeleng kecil. Bibirnya menyungging senyum remeh, namun matanya menyipit dengan keraguan yang samar.

Ia meremas kertas itu, hendak melemparnya ke tempat sampah, tapi berhenti di tengah jalan.

"Temui ibumu..."

Ia mengulang kalimat itu di kepalanya.

Ibunya—Esther—perempuan yang kini mendekam di penjara, perempuan yang nyaris tak pernah ia sentuh dalam hidupnya. Sosok yang ia kagumi sekaligus takuti. Sosok yang telah lama menjadi bayang-bayang kelam dalam kehidupannya—dan kini... seseorang menyuruhnya kembali ke sana?

"Siapa yang nulis ini?" gumamnya lagi, lebih lirih. Ia memeriksa amplop itu sekali lagi, kali ini lebih serius. Tidak ada apa-apa. Tidak ada jejak sidik jari, bahkan aroma parfum pun tak ada.

Dan itu... justru yang membuatnya gelisah.

Sebab surat-surat palsu biasanya berisik. Terlalu banyak ancaman. Terlalu banyak simbol. Tapi ini... terlalu hening. Terlalu... sengaja.

Untuk sesaat, bayangan wajah Gawin melintas di benaknya. Panik. Ketakutan. Menghilang. Dan sekarang surat ini muncul, tanpa sebab.

Tawa Joss memudar perlahan. Matanya kembali menatap amplop kosong itu.

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang