61 : Meja Bundar di Sudut Dunia

109 22 11
                                        

Santa kembali duduk di atas ranjang besar yang terlalu empuk untuk disebut rumah. Kamar ini tampak mewah bagi orang luar—langit-langit tinggi, lampu kristal yang menggantung seperti bintang mati, dan perabotan mahal berlapis beludru merah tua serta ukiran hitam berdesain klasik barok. Tapi di mata Santa, semua kemewahan itu tak ubahnya sel penjara yang dibungkus kain sutra.

Denting rantai kaki yang tadi sempat dilepas di rumah sakit kini kembali berbunyi lirih. Mengikatnya lagi pada tiang besi di kaki ranjang, seolah mengingatkan bahwa dunia luar hanya mimpi sejenak, dan ini—ini kenyataan yang harus dia jalani tiga tahun ke depan.

Arthit berdiri di ambang kamar mandi, menyeringai kecil saat melihat Santa sudah membuka piyamanya tanpa disuruh. "Tunggu dengan baik aku di sini, dan jangan banyak tingkah," ucapnya ringan, seperti memberi instruksi pada pelayan rumah. Tidak ada kelembutan. Tidak ada kepedulian. Hanya kendali.

Santa menaiki ranjang perlahan, menarik selimut hingga sebatas pinggang, lalu duduk diam membelakangi pintu kamar mandi. Tubuhnya tegang, namun wajahnya tetap tenang. Ia sudah mengunci emosinya jauh di dalam. Di tempat yang tidak bisa dijamah Arthit.

Sementara itu, di balik suara gemericik air hangat yang mengalir di kamar mandi, Arthit tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dinding marmer dingin seakan menyerap amarah yang mendidih dalam dadanya.

Bukan Santa yang membuatnya geram hari ini. Tapi Kritt Kaiden.

Nama itu menghantam kesadarannya berkali-kali seperti palu godam. Sepupu Kengkla, Kritt Kaiden Pemuda minim ekspresi dengan lidah tajam dan cerdas. Arthit membencinya bukan hanya karena keberanian Kritt mengganggu Santa, dia bahkan tak tahu tentang hal itu. Tapi karena kedekatan Kritt dengan Kengkla.

Kengkla... pria muda dengan mata lembut dan suara tenang yang selalu membuat Arthit berpikir tentang Aran.

Aran, kekasih pertamanya. Lelaki polos yang mengisi celah kosong di hatinya, sebelum akhirnya mengakhiri hidup karena tekanan dunia. Aran dan Kengkla adalah kembar identik, dipisahkan sejak bayi, dan tumbuh dalam dunia yang sangat berbeda. Aran mati bunuh diri, di kamarnya sendiri. Sementara Kengkla tumbuh jadi pewaris kerajaan bisnis media, cerdas dan player.

Arthit tahu semua itu. Ia sudah membayar cukup banyak untuk mengetahui sejarah hidup Kritt. Sekarang tinggal satu hal: eksekusi.

Satu jam kemudian, Arthit keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan tubuh polos tanpa sehelai kain pun. Ia berjalan seperti biasanya—angkuh dan penuh kontrol. Santa segera membuang muka, menunduk dalam diam.

Sudut bibir Arthit terangkat. Ia menghampiri ranjang, duduk di pinggirannya lalu menarik dagu Santa dengan kasar agar menatap wajahnya. Mata mereka bertemu—tatapan kosong dengan tatapan penuh kekuasaan.

"Kau memang cantik," gumamnya pelan, nadanya nyaris lembut tapi tak menyamarkan racun di balik kata-katanya. "Tapi kenapa kau tak pernah tersenyum padaku?"

Santa tahu harus menjawab. Ia tahu kalau diam bisa berakibat fatal. Maka ia tersenyum... atau setidaknya berusaha.

Namun senyumannya terlihat aneh. Terpaksa. Palsu. Bibirnya bergerak, tapi matanya tetap mati.

Arthit langsung menamparnya. Keras.

Suara tamparan itu menggema di seluruh ruangan yang hening, dan Santa limbung, nyaris terjatuh. Sudut bibirnya pecah. Rasa perih menyebar, tapi dia tetap tak mengeluarkan suara. Tidak menangis. Tidak berteriak. Hanya kembali menunduk.

"Apa kau sedang mencemoohku?" bentak Arthit.

Santa tidak menjawab. Tidak membela diri. Ia hanya memandang lantai, mengabaikan rasa logam di mulutnya. Darah menetes perlahan dari bibirnya, mengotori selimut putih yang baru saja diganti pelayan tadi siang.

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang