Langit malam berpendar lembut di atas kepala mereka, penuh bintang, seolah Tuhan sedang menumpahkan butiran glitter ke kanvas langit. Angin laut mengusap pelan rambut Pin yang berantakan, sementara kepala bocah itu bersandar manja di dada Type yang sedang setengah pasrah, setengah bahagia.
Gemerisik ombak jadi pengiring percakapan absurd mereka malam ini.
"Type..." suara Pin pelan, manja, tapi sudah cukup bikin jantung Type berdetak ekstra tiga kali—satu karena gemas, dua karena waspada.
"Hm?" sahut Type singkat, seperti biasa.
"Kalau misalnya... kebenaran itu relatif, gimana caranya kita bisa yakin kalau yang kita anggap benar itu... nggak sepenuhnya salah?"
Type membuka sebelah mata. Ia menatap langit. Lalu menatap rambut Pin. Lalu langit lagi. Lalu... menghela napas seperti orang yang baru saja ditampar tagihan listrik.
"Pin..."
"Ya?" sahut Pin cepat. Tangannya menggambar lingkaran khayal di dada Type seperti anak kecil yang tidak sadar dia baru saja menjatuhkan bom nuklir eksistensial.
"Kamu tahu nggak itu pertanyaan kayak gimana?"
Pin berpikir sebentar. "Kayak... sok bijak?"
"Kayak nyebelin," koreksi Type datar.
"Tapi kan aku pengen tahu," Pin mengerucutkan bibirnya, menggeliat sedikit seperti anak kucing yang mencari posisi nyaman. "Kan... kayaknya penting juga buat mikirin. Gimana kalau ternyata semua yang aku percaya selama ini tuh... salah?"
Type menahan diri buat nggak mengeluh. Atau meledak. Atau nyemplung ke laut. Tapi melihat wajah Pin yang serius (dan sedikit bego), dia mengatur ulang napasnya. Lagi.
"Pin, denger ya. Yang namanya benar atau salah itu... kadang tergantung sudut pandang. Tapi bukan berarti semuanya bisa dibilang relatif terus. Ada hal-hal yang emang... dasar. Fondasi. Nggak bisa diganggu gugat."
Pin mengedip. "Contohnya?"
"Contohnya... kamu, napas, terus hidup. Itu fakta. Kamu nggak bisa tiba-tiba bilang, 'Eh, menurutku aku bukan manusia, tapi segelas bubble tea.'"
Pin langsung terkikik. "Tapi aku kan manis kayak bubble tea!"
Type menutup mata, menarik napas panjang, lalu membuka mata lagi. "Pin..."
"Iya-iya, maaf." Pin tertawa lagi. "Lanjut, lanjut."
Type melanjutkan. "Jadi gini. Meskipun banyak hal bisa beda penafsiran, bukan berarti semua interpretasi itu valid. Kita bisa mempertanyakan segalanya, tapi kalau semua kita anggap bisa salah, kita juga nggak akan pernah punya pegangan buat hidup."
Pin diam. Jarang-jarang dia benar-benar berpikir, dan Type tahu itu saat dahi Pin mulai mengerut kayak croissant.
"Tapi... kalau orang jahat ngelakuin sesuatu dan dia yakin itu benar... itu gimana dong? Kayak, menurut dia itu benar, padahal menurut kita salah. Jadi siapa yang benar?"
Type menoleh, menatap wajah Pin dari samping. "Orang jahat sering kali merasa benar karena mereka nggak mikirin akibatnya buat orang lain. Benar itu bukan cuma soal keyakinan pribadi, tapi juga... dampaknya ke sekitar. Kalau keyakinan kamu nyakitin orang lain, besar kemungkinan itu salah, nggak peduli kamu se-yakin apapun."
Pin menatap Type lama. "Kamu pinter juga ya."
"Jangan mulai—"
"Tapi kamu tetap pacar aku, kan?"
Type mendesah. "Sayangnya, iya."
Pin nyengir lebar, lalu mencubit pipi Type. "Nggak usah pura-pura nyesel. Aku tahu kamu senang punya aku."
KAMU SEDANG MEMBACA
2Moons
FanficKapal yang berlayar : JossKritt & PinSanta Ghostship Area ⏩ LGBT area☠️ so, HOMOPHOBIA dilarang mendekat. ⏩Area dewasa🔞 ⏩MPreg Area ⏩Kapal hantu bertaburan ☠️, jangan harap kapal benar berlayar disini. ⏩TYPO & kata yang hilang bertebaran. ⏩ Update...
