Pintu mobil tertutup dengan bunyi klik yang lembut. Dunia luar terpotong seketika. Kritt bersandar pelan ke jok kursi belakang yang empuk, menghela napas panjang, seperti melepaskan beban yang selama ini bersemayam di dada. JD duduk di lantai mobil dengan kepala diletakkan di pangkuannya, sementara Azzu melingkar di sisi lain dengan tenang.
Suara mesin nyaris tak terdengar, hanya irama AC dan napas macan-macan itu yang mengisi ruang. Lampu-lampu jalan berkelebat di jendela, tapi Kritt tidak melihat ke luar. Matanya tertuju ke depan, kosong—namun bukan karena sedih. Tapi karena lega.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Kritt merasa lebih tinggi dari Joss. Bukan karena sombong. Tapi karena sadar... dia sudah bisa berdiri sendiri, tanpa bayangan pria itu membebani langkahnya.
Ia mengelus kepala JD perlahan, lalu berkata dengan suara pelan namun penuh makna, "Lihat, JD... aku tidak menangis."
JD mendengus pelan, seolah menjawab bahwa ia bangga pada pemiliknya.
"Aku tidak lari. Aku tidak goyah. Dan yang paling penting..." Kritt menatap refleksi dirinya di jendela, "...aku tidak minta dia tinggal."
Ia tersenyum tipis.
Bukan senyum sinis, bukan senyum penuh amarah—tapi senyum seorang pria yang tahu bahwa luka tidak harus diobati dengan dendam. Ada kekuatan dalam menolak menyentuh kembali apa yang telah membakar habis dirinya.
"Aku pernah mencintai dia lebih dari siapapun," lanjut Kritt, suaranya nyaris seperti bisikan. "Tapi malam ini... untuk pertama kalinya aku bisa melihat matanya tanpa ingin kembali."
Tangannya mengepal pelan di pangkuan.
"Dia yang mengajariku tentang cinta. Tapi dia juga yang mengajariku untuk tidak percaya pada cinta yang tidak melindungi."
Ia memalingkan wajah, menatap Azzu yang mulai tertidur di pojok mobil.
"Mulai malam ini, aku berhenti bertanya 'kenapa dia memilih orang lain'. Karena aku tahu... orang yang memilih untuk tidak percaya padaku—dia bukan untukku."
Senyap sejenak.
Mobil melaju pelan melewati jalanan kota yang mulai sepi. Sopir tidak berkata apa-apa. Ia sudah tahu aturan tak tertulis: jangan mengganggu saat tuannya sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"JD..." Kritt memanggil pelan.
JD membuka matanya, menatap pemiliknya dengan tenang.
"Kalau suatu hari aku lemah lagi... tolong ingatkan aku tentang malam ini."
Macan putih itu menggerakkan telinganya pelan, lalu menutup mata lagi seolah berkata, "Tidak perlu. Kamu tak akan lemah lagi."
Kritt tersenyum kecil. Ia menatap tangannya sendiri, tangan yang dulu gemetar saat kehilangan Joss. Tangan yang pernah merobek foto mereka berdua dengan amarah dan air mata. Kini tangan itu tetap tenang, bahkan setelah melihat Joss lagi... mendengar pengakuan cinta itu lagi.
Dari layar kecil di depan, muncul pesan dari Pin:
"Gimana? Dia muncul kan? Gue yakin dia pasti datang malam ini."
Kritt mengetik balasan dengan satu tangan:
"Iya. Tapi dia datang sebagai orang asing. Dan akan tetap jadi orang asing."
Ia mengirim pesan, lalu mematikan ponselnya. Cukup untuk hari ini. Tidak ada yang lebih memuaskan daripada menatap orang yang dulu menjatuhkanmu... dan menyadari bahwa kamu sudah tidak butuh mereka lagi untuk merasa utuh.
Mobil mulai masuk ke kawasan rumah Khajornborirak. Gerbang besar terbuka perlahan menyambut kepulangan pewaris muda mereka.
JD dan Azzu bangkit saat mobil berhenti. Sopir membuka pintu belakang, dan Kritt turun dengan langkah anggun penuh wibawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
2Moons
FanfictionKapal yang berlayar : JossKritt & PinSanta Ghostship Area ⏩ LGBT area☠️ so, HOMOPHOBIA dilarang mendekat. ⏩Area dewasa🔞 ⏩MPreg Area ⏩Kapal hantu bertaburan ☠️, jangan harap kapal benar berlayar disini. ⏩TYPO & kata yang hilang bertebaran. ⏩ Update...
