59 : Aku Tidak Akan Melupakanmu

122 23 18
                                        

Malam di kediaman keluarga Peraya selalu terasa hangat, bukan hanya karena arsitekturnya yang klasik tropikal dengan dominasi kayu jati dan kaca lebar, tapi juga karena atmosfer keluarga kecil itu yang tenang dan intim. Namun malam ini, aura berbeda menguar dari ruang tengah, tempat Maxky duduk di sofa panjang berwarna krem, bersila di atas karpet wol sambil memandangi ponselnya dengan ekspresi seperti baru saja gagal lulus ujian akhir nasional.

Tasbih hitam melingkar di tangannya, berpindah jari demi jari seperti kebiasaannya saat berpikir keras atau sedang cemas. Di depannya, layar ponsel menyala terang menampilkan halaman ChatGPT dengan pertanyaan yang terdengar sederhana tapi menjadi dilema besar di kepalanya: "Hadiah ulang tahun terbaik untuk sepasang anak orang super kaya raya yang bahkan punya dua harimau peliharaan."

Di sebelahnya ada sticky notes penuh coretan. Nama barang mewah, jam tangan custom, lukisan pribadi, koleksi batu langka, bahkan tanah di Mars—semuanya sudah terpikirkan. Tapi semuanya terasa... tidak cukup personal.

Saat itulah Singto dan Krist, yang baru saja pulang dari acara amal di galeri kota, masuk ke ruang tengah. Krist masih mengenakan jas abu-abu muda yang elegan, sedangkan Singto sudah melepas dasi hitamnya dan menggulung lengan kemeja putihnya hingga siku.

Singto berhenti di balik sofa, lalu mengerutkan alis. "Abang kenapa? Sampai keningnya kusut tujuh turunan itu?"

Maxky melirik sekilas tanpa menjawab. "Diamlah, Dad."

Singto melotot ke Krist, seolah berkata "Dengar itu anakmu." Tapi Krist hanya menahan tawa sambil berjalan ke dapur mengambil air mineral.

"Lagi mikirin apa, sayang?" tanya Krist lebih lembut, sambil duduk di sofa menyebelah Maxky.

Maxky menatap layar ponselnya lagi, frustasi. "Ulang tahun Kritt dan Pin akhir pekan ini. Aku belum nemu hadiah yang pas."

"Ah, si kembar yang punya segalanya itu?" sahut Singto dari balik sofa.

"Termasuk dua macan Benggala peliharaan," tambah Krist sambil terkekeh.

"JD dan Azzu," gumam Maxky, masih tanpa ekspresi. "Yang lebih jinak daripada pemiliknya sendiri."

"Ya ampun," Krist menahan tawa. "Kamu serius mikirin hadiah buat mereka kayak mikirin mau ngelamar anak presiden?"

"Karena ini bukan soal barang mahal, Dad. Kritt itu... terlalu pintar buat dikasih hal biasa. Dan terlalu tertutup buat dikasih hal personal," jawab Maxky pelan. "Aku nggak mau ngasih sesuatu cuma karena aku mampu beli. Aku mau kasih sesuatu yang bisa nunjukin aku ngerti dia."

Krist dan Singto saling melirik. Itu pernyataan yang dalam dan kalau itu keluar dari mulut Maxky yang biasanya datar dan logis, berarti perasaannya ke Kritt mungkin jauh lebih dari sekadar suka.

Singto duduk di sandaran sofa, menatap anaknya dari atas. "Kalau kamu ngerti dia... mungkin kamu juga ngerti kalau Kritt bukan tipe yang butuh hadiah. Dia butuh tempat aman. Orang yang ngerti dia tanpa dia harus jelasin semuanya."

Maxky menghela napas, akhirnya meletakkan ponsel dan tasbih di atas meja. "Justru itu, Dad. Aku pengen jadi tempat itu. Tapi aku juga sadar, aku bukan siapa-siapa di hidupnya. Cuma teman... teman dari jaringan sosial yang muncul di saat dia baru selesai patah hati. Aku gak mau jadi tambalan."

Krist menepuk bahu Maxky pelan. "Kalau kamu gak mau jadi tambalan, jadilah landasan. Gak usah paksa dia jatuh cinta. Cukup biarin dia tahu bahwa kamu ada... dan kamu tinggal."

"Gimana caranya?" tanya Maxky lirih.

Singto menyilangkan tangan. "Kamu pernah tanya dia... hadiah apa yang gak bisa dia beli?"

2MoonsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang