45 : Ketakutan Sang Manipulator

76 20 8
                                        

Kamar hotel tempat Gawin menginap terasa terlalu sunyi malam itu. Lampu redup menyala lembut dari sisi meja, tapi tidak memberi kehangatan apa pun. Tirai jendela tertutup rapat, menyembunyikan pemandangan kota yang seharusnya menjadi latar kemenangan. Tapi malam ini, bahkan langit pun terasa seperti menertawakannya.

Gawin duduk di ujung ranjang, menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong. Untuk kesekian kalinya, ia membuka pesan terakhir yang ia kirim ke Kritt—sebuah video berdurasi dua menit yang berisi potongan kenangan mereka, disisipkan dengan narasi manipulatif yang ia rekam sendiri. Semua diedit rapi, dikemas penuh nostalgia, diselipkan sedikit luka agar Kritt meragukan hubungannya dengan Joss. Ia bahkan menyelipkan satu foto lama yang pasti menyentuh sisi sentimental Kritt.

Tapi apa balasan dari semua itu?

"Pesan gagal dikirim. Pengguna telah memblokir Anda."

"Akun tidak ditemukan atau dibatasi oleh pengguna."

Ia mencoba segala cara—nomor baru, akun alter, email palsu, bahkan menghubungi salah satu teman Kritt yang dulu sempat akrab dengannya. Tapi semuanya mentok. Kritt benar-benar menghilang dari genggamannya.

Atau lebih tepatnya, disembunyikan.

Gawin mengepalkan tangan. "Sial... Meen... Perth... Bajingan kalian..."

Ia bangkit, mondar-mandir di dalam kamar seperti singa terkunci dalam kandang. Napasnya mulai memburu. Rencana yang ia susun selama hampir satu tahun terakhir—rencana memisahkan Joss dan Kritt, membuat Kritt hancur dan sendirian agar mudah ia hancurkan hingga akhirnya dia sendiri yang menyingkir dari hidup Joss—semuanya terancam bubar hanya karena satu tindakan gila dari keluarga Khajornborirak.

Bukan hanya diblokir. Ini lebih dari itu.
Ini seperti... penghapusan digital total.

Gawin tahu hanya satu pihak yang bisa melakukan itu sebersih ini: tim hacker internal keluarga Khajornborirak. Ghost. Orang-orang itu bisa menghapus keberadaan siapa pun dari dunia digital dalam hitungan menit. Dan kini, mereka menjadikan dia target.

Tangannya bergetar saat mengambil ponsel lagi. Ia membuka profil Joss. Masih bisa diakses. Masih bisa dikirimi pesan.

Satu-satunya celah yang tersisa.

Dan itulah yang membuat Gawin semakin takut.

"Kalau Joss juga mulai menjauh... kalau dia sadar... aku... habis."

Ia duduk kembali di ranjang, memeluk lututnya. Tak ada yang tahu betapa besar ketakutannya sebenarnya. Ketakutan akan kehilangan kontrol. Selama ini, Gawin hidup dari kemampuannya membaca celah orang lain, mempermainkan emosi, dan mengatur langkah demi langkah tanpa terlihat seperti dalang. Tapi sekarang, Kritt sudah tak bisa disentuh. Dan Joss... Dia takut Joss mulai berubah.

Dia tak sanggup jika Joss menatapnya dengan ragu, tak lagi seantusias dulu.

"Aku harus cepat." Suaranya terdengar kecil, seperti bisikan yang hampir putus. "Sebelum semuanya terlambat... sebelum Joss balik ke Kritt sepenuhnya... sebelum semua sia-sia..."

Pikirannya bekerja keras. Ia harus mempercepat skenario. Tidak cukup dengan membuat Kritt sedih. Ia harus membuat Joss merasa dibohongi, dikhianati, dan dimanipulasi oleh Kritt. Ia butuh sesuatu yang besar. Skandal. Bukti palsu. Rekayasa pesan.

Gawin membuka laptopnya dan mulai membuka folder-folder manipulatif yang selama ini ia simpan. Screenshoot percakapan editan. Foto-foto Kritt bersama beberapa laki-laki yang bisa ia ubah konteksnya. Bahkan video suara tangisan Kritt yang pernah ia rekam secara diam-diam.

Ia akan buat seolah-olah Kritt selingkuh.

Atau lebih parah: Kritt mempermainkan dua hati sekaligus.

"Kalau Joss merasa dikhianati, dia pasti akan datang padaku," bisik Gawin, lebih pada dirinya sendiri. "Dan saat dia datang, aku akan jadi satu-satunya tempat pelariannya."

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang