68 : Penguasa dalam Sunyi

79 19 4
                                        

Di pusat kota Bangkok, di dalam sebuah studio kecil milik media independen TrueGround, Maya duduk di depan monitornya. Cahaya biru dari layar menyoroti wajahnya yang serius. Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard, membuka satu demi satu file dari folder "Putri Duri."

Matanya menyipit.

Catatan rumah sakit. Tes DNA tak resmi yang membuktikan hubungan Esther dan Joss. Foto-foto bekas luka Arthit. Transkrip obrolan antara Esther dan seorang detektif bayaran, terlalu jelas untuk disebut kebetulan. Semuanya terlalu rapi, terlalu kuat.

Maya menyandarkan diri, menatap langit-langit studio yang penuh kabel. Ia mengambil napas panjang, lalu membuka siaran langsung khusus di kanal investigasinya.

"Topeng itu tak akan bertahan lama," gumamnya pelan.

Dan di luar sana, di dunia yang sibuk menertawakan selebriti dan politikus—sebuah berita mulai naik pelan-pelan di sosial media:
"Skandal lama, nama besar. Apa hubungan Esther Luangsodsai dengan kasus kematian remaja bernama Aran?"

Retweet pertama muncul.

Lalu yang kedua.

Lalu ratusan. Dalam tiga puluh menit, tagar #TopengLuangsodsai mulai merangkak naik.

⏩️⏩️

Di halaman belakang Mansion Khajornborirak, Kritt menghela napas panjang. JD masih di pangkuannya, sementara Azzu kini berbaring di bawah meja kecil dan mulai mendengkur.

Di layar tabletnya, laporan ringkasan dari bawahannya sudah selesai.

Gawin tahu siapa dirinya.
Orang tuanya tahu siapa Joss.
Dan kini, Esther tahu siapa Gawin.

Kritt tersenyum kecil. Matanya menatap ke kejauhan, ke arah langit yang mulai cerah, seperti seseorang yang tengah menyusun langkah berikutnya dalam permainan catur berdarah ini.

"Langkah selanjutnya?" gumamnya sambil mengelus kepala JD.

JD menggeram pelan. Seolah menjawab. Kritt tertawa kecil.

"Biarkan mereka bunuh-bunuhan dulu. Aku hanya perlu menonton."

Ia menyenderkan punggung. Santai. Tak tergesa. Karena bagi Kritt, kemenangan sejati adalah ketika musuh saling menerkam tanpa ia perlu mengotori tangan.

Dua harimau. Satu manusia.
Satu rumah penuh rahasia.
Dan Kritt—satu-satunya yang tahu semuanya.

⏩️⏩️

Di Kediaman Luangsodsai

Pagi itu seharusnya seperti pagi-pagi lainnya—tenang, teratur, dan indah dalam kesunyian mewah. Esther duduk di balkon lantai dua yang menghadap taman pribadi, mengenakan gaun tidur berbahan sutra warna champagne yang mengilap terkena sinar matahari. Rambutnya disanggul rapi, dan di tangannya, secangkir teh melati yang hangat mengeluarkan uap pelan.

Suara gemericik dari air kolam koi dan semilir angin yang menggerakkan tirai putih membuat pagi itu terasa hampir suci. Tetapi sesuatu terasa ganjil. Dingin. Seolah seluruh rumah sedang menahan napas.

Ponselnya bergetar di atas meja kaca kecil. Sekali. Dua kali. Lalu terus menerus.

Seketika, suasana berubah.

Esther mengambil ponsel dengan alis berkerut. Ia belum sempat melihat layarnya ketika suara asisten pribadinya—panik, terburu-buru—masuk lewat interkom internal.

"Madam... Anda harus melihat ini. Twitter, TikTok, semua platform sosial—nama Anda viral. Ini soal... masa lalu Anda."

Esther membeku. Helaan napasnya terasa berat, seolah paru-parunya tiba-tiba dipenuhi es. Ia membuka ponsel.

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang