29 : Jaminan

157 25 29
                                        

"Baiklah, kau aku beri waktu tuk berpikir. Tak perlu tergesa-gesa. Hanya saja satu pintaku, jangan pernah kau buat puraku menangis! Jika sampai aku melihat putraku menangis karenamu, kepalamu aku penggal!" Putus Meen akhirnya Joss bisa juga bernapas dengan lega tanpa beban.

"Terima kasih banyak paman! Aku janji, aku akan menjaga Kritt dengan baik dan aku pastikan dia akan selalu bahagia menjadi kekasihku!" Ini bukan sekedar perkataan kosong tak berarti, tetapi pasti dia tepati dengan pengabdian cintanya yang besar.

———.......———

Joss masih tremor setelah keluar dari ruang kerja Meen, dia baru saja selesai di tatar oleh orang tua Kritt.

"Abang aman kan?" Khawatir Kritt melihat kekasihnya masih tampak pucat.

"Aman." Jawabnya lalu dia memeluk Kritt, penyemangat hidupnya.

Kritt membalas pelukan Joss dengan lebih hangat. Yah, ini bukan pertama kalinya orang-orang tremor setelah di tatar habis-habisan oleh daddy -nya itu.

"Gimana, apa hari ini kita jadi kencan?" Tanya Kritt saat pelukan mereka sudah terurai.

"Jadi dong, butuh hiburan ini setelah di interogasi orang tuamu."

Kritt terkekeh, lalu mencubit pipi prianya yang tinggi berotot. "Tapi kita tunggu Type di cafe ya."

"Emang dia gak bisa datang ke sini tuk jemput kembaran adek?"

Kritt menggeleng sembari menautkan jemari tangannya dengan Joss, lalu dia genggam erat. Telapak tangan Joss yang besar membuat telapak tangannya terlihat kecil. "Dia ada perlu bentar, jadi dia minta kita menunggu di kafe dekat pantai." Papar Kritt kemudian dia terperanjat kaget saat pacarnya mengangkat tubuhnya secara tiba-tiba. "Abang ini, kalau mau gendong itu bilang-bilang!" Omel dia kini melingkarkan kedua tangannya di leher Joss. Pria berotot itu menggendong Kritt apa bridal. Mau gimana lagi, dia memang suka menggendong pacarnya, bahkan posisi sex yang paling dia sukai adalah posisi menggendong pacarnya ala koala.

Joss terkekeh, "Ringan banget sih dek, serasa gak gendong orang abang."

Plak, Kritt memukul dada Joss dengan pelan, "Ringan apanya, abang aja yang kelewat kuat."

Langkah kaki Joss terus melangkah menuju lift, rumah ini terlalu besar, saking besarnya ada liftnya. Dan kini mereka sudah berada di dalam lift menuju basement, tempat Pin sudah menunggu mereka.

"Gak, bukan abang yang kuat. Tapi tubuh adek beneran ringan. Coba tubuh adek lebih berisi, pasti nih pantat lebih kenyal." Kilah dia sempat meremas paha dalam Kritt.

"Jika aku gendut dibilang  jelek, kurus juga gak mau. Sebenarnya mau Abang apa sih?" Rutuk dia seraya meronta-ronta agar dia turun dari gendongan Joss.

Takut Kritt jatuh, akhirnya Joss menurunkan Kritt dengan hati-hati, namun sebelum Kritt berdiri dengan baik, Joss mengecup pipinya. "Gitu aja marah, padahal Abang hanya bercanda." Goda dia malah dipelototi oleh Kritt, kemudian pintu Lift terbuka. Seketika itu juga Kritt berlari kearah Pin yang sudah standby menunggu Kritt di mobil Kritt yang biasa dia pakai.

"Abang yang bawa mobil ya, adek duduk dibelakang aja sama adek."

Joss mengangguk ringan, dia mengerti kenapa Kritt begitu, Kritt tidak mau membuat adek menjadi lalat diantara mereka.

———.......———

Suasana kafe di tepi pantai terasa hangat dan juga ramai oleh pengunjung yang silih berganti.

Meja-meja dikelilingi oleh pasangan yang sedang menikmati kencan mereka.

Di kafe yang ramai, tiga orang itu duduk di meja sambil menunggu kedatangan Type, yang katanya sudah di jalan dan sebentar lagi sampai.

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang