55 : JD dan Azzu

68 17 4
                                        

Esok harinya...

Langit Bangkok sore itu sedang manja, warna jingganya merekah indah seperti pipi Pin setiap kali dicium tiba-tiba. Dan sore ini tak terkecuali.

Sebuah mobil mewah Audi RS7 warna hitam mengilat berhenti di depan gerbang rumah besar keluarga Khajornborirak. Mesin mendengung pelan seperti binatang buas yang bersolek. Di dalamnya, duduk seorang pria muda berwajah tampan tapi datar, mengenakan kemeja putih bersih yang digulung sampai siku dan jam tangan sport hitam di pergelangan kiri. Itu Type—duplikat Gulf yang keras kepala dengan lidah sepedas cabai rawit dan kesabaran setipis tisu basah.

Begitu pintu pagar terbuka, mata Type langsung tertuju pada satu sosok yang sedang turun dari tangga depan rumah. Tubuhnya mungil, dengan sweater biru muda kebesaran dan rambut coklat lembut yang agak berantakan karena angin. Itu Pin. Si cerewet kesayangannya.

Type otomatis tersenyum, senyum paling lembut yang hanya pernah ditunjukkan pada satu orang di dunia ini.

"Cepetan! Udah telat lima menit, tahu nggak?" seru Type sambil mencondongkan badan ke arah jendela mobil yang terbuka.

Pin mengerucutkan bibir. "Ih, kamu tuh nggak pernah nungguin dengan sabar, ya!"

Hari ini mereka mau nongkrong di kafe, berdua.

"Nunggu kamu tuh kayak nunggu hujan turun di musim kemarau. Bisa, sih. Tapi ya... kering."

Pin mendesah dramatis, melompat kecil ke dalam mobil, dan mengempaskan tubuhnya di jok penumpang. "Tahu nggak, semalam kak Kritt bilang aku terlalu impulsif."

"Dia bener."

Pin menoleh cepat. "Kok kamu dukung dia sih?! Bukannya belain pacar sendiri?!"

"Kalau kamu bener, aku belain. Kalau kamu bego, ya aku kasih tahu kamu bego."

"Hah?!"

Type mengulurkan tangan, menarik dagu Pin dengan dua jari, lalu mengecup pipi bulatnya yang mendadak memerah.

"Makanya jangan terlalu manis. Nanti disalahpahami kayak dessert gratis."

Pin cuma bisa mengeluh sambil menyentuh pipinya. "Pipi aku udah memar tau nggak, kamu tiap lampu merah pasti cium."

Type nyengir. "Makanya aku bawa mobil. Kalau naik motor, susah nyium kamu tiap lampu merah."

Pin ingin protes, tapi mulutnya malah membentuk senyum kecil. "Duh, kenapa cowok ini bisa nyebelin dan manis dalam waktu bersamaan sih?" Gerutunya dalam hati.

Mobil pun melaju keluar dari area rumah Khajornborirak yang luasnya seperti taman kota. Di kejauhan, suara deru mesin Lamborghini Aventador kuning mencuri perhatian. Kritt, sang kakak sulung, melintas dengan kecepatan sedang. Mobilnya mengkilap, dengan desain aerodinamis dan bunyi yang seperti singa baru bangun tidur.

Pin melambaikan tangan dari dalam mobil, walau Kritt tidak melihat. Type melirik ke spion, lalu bergumam, "Kalau dia bukan kakak kamu, aku udah tanding keren dari lama."

Pin terkikik. "Kamu kalah gaya."

"Tapi menang ciuman," balas Type santai, membuat Pin langsung memukul bahunya dengan gemas.

Begitu mereka sampai di jalan raya, seperti yang sudah diduga, lampu lalu lintas menyala merah. Type langsung menoleh, tanpa aba-aba. "Pipi kanan, sekarang."

Pin memasang wajah waspada. "Jangan, banyak orang liat!"

"Satu, dua..."

"Type! Jangan hitung!"

"Tiga."

Chu~
Satu kecupan mendarat mulus. Pin mengerang malu sambil memalingkan wajah ke jendela. Tapi pipinya tak bisa berbohong, merahnya mencolok seperti stroberi ranum.

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang