60 : Cermin Yang Retak

94 24 17
                                        

"Dalang tidak turun ke panggung. Cukup menarik benang dari atas." Biarkan mereka terlihat sebagai penjahat, sementara kamu tetap malaikat.

❄️❄️❄️💙💙💙❄️❄️❄️

Cahaya matahari pagi menyusup perlahan ke dalam kamar luas yang menghadap pantai, melewati tirai tipis yang bergoyang pelan. Gawin duduk di ranjang besar berbalut linen putih, dengan laptop terbuka di pangkuan dan secangkir kopi mahal di tangannya. Pandangannya menatap tenang ke arah jendela yang memperlihatkan laut luas, seolah ia sedang menikmati hidup yang selalu ia impikan.

Ia tersenyum kecil. Bukan senyum polos, tapi senyum penuh arti. Senyum puas yang hanya dimiliki oleh seseorang yang telah memenangkan permainan.

Akhirnya, semua yang ia rancang berjalan sesuai rencana. Ia bukan lagi anak yatim piatu dari panti asuhan kecil di Bangkok. Ia adalah anggota resmi keluarga Sangngern—keluarga terpandang, kaya raya, dan memiliki sejarah panjang dalam dunia bisnis Thailand.

Ia memiliki segalanya sekarang: nama belakang Sangngern, rumah megah, rekening bank yang selalu terisi, dan yang terpenting... Joss.

Meski hubungan mereka tak lebih dari ikatan keluarga di atas kertas, Gawin tahu satu hal pasti: tidak akan ada satu orang pun yang bisa mendekati Joss lagi tanpa melewati dirinya terlebih dahulu. Apalagi Kritt. Ia pastikan nama itu terkubur di dalam masa lalu Joss selamanya.

Namun pagi itu, ketenangannya terganggu oleh suara pelayan yang mengetuk pintu dengan ragu. "Khun Gawin... ada tamu. Wanita. Mengaku mengenal Khun Joss."

Gawin menaikkan alis. "Namanya?"

"Esther, Khun. Dia tidak membuat janji sebelumnya."

Gawin tersenyum tipis. Nama itu belum pernah ia dengar langsung dari Joss, tapi ia tahu siapa Esther. Si wanita cantik yang tega membuang anaknya sendiri demi menikah dengan pria kaya, dan tak pernah kembali kecuali saat butuh sesuatu.

Gawin mengenakan jubah sutranya dan melangkah turun dengan langkah tenang. Ia ingin tahu, mengapa ibu kandung Joss tiba-tiba ingin menemuinya.

———...———

Esther duduk di ruang tamu seperti seorang ratu yang tak sabar menyingkirkan debu dari sandalnya. Gaun pastel yang ia kenakan tampak mahal, rambutnya disanggul rapi, dan wajahnya... tak menua sedikit pun meski usia tak lagi muda. Saat Gawin masuk, Esther menatapnya dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan menilai—dan jelas, tidak menyukai apa yang ia lihat.

"Jadi, kamu Gawin," ucap Esther tanpa basa-basi. Suaranya halus, tapi dingin seperti kaca.

Gawin hanya tersenyum dan duduk dengan elegan, seolah ia tak terganggu oleh aura superioritas Esther. "Benar. Senang akhirnya bisa bertemu dengan ibu kandung Joss."

Esther mengangkat alis, seakan tersinggung Gawin menyebut dirinya seperti itu. "Aku datang bukan untuk basa-basi. Aku tahu siapa kamu sebenarnya."

"Oh?"

"Aku tahu masa lalumu. Diadopsi, lalu dibuang. Merusak keluarga angkatmu sampai bangkrut. Kamu bukan siapa-siapa, Gawin. Kamu cuma remah roti yang nyangkut di meja makan keluarga Sangngern."

Gawin masih tersenyum, tenang. Tapi matanya mulai menajam. "Dan nyonya datang ke sini untuk...?"

"Untuk memberitahumu, dengan sangat halus, bahwa kamu harus keluar dari kehidupan Joss. Anak itu punya masa depan cerah, dan kamu bukan bagian dari masa depan itu."

Gawin menyandarkan punggungnya. "Sayangnya, negara ini sudah mencatat aku sebagai bagian dari keluarganya."

Esther mencondongkan tubuhnya, wajahnya seperti patung porselen penuh keangkuhan. "Kau pikir aku tidak bisa mengubah itu? Dengan satu perintah, aku bisa membuat surat adopsimu ditinjau ulang. Aku punya pengacara, hakim, dan sistem yang bekerja untukku."

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang