32 : Aran?

126 19 11
                                        

Maxky Ratchata Pichetshote dikenal sebagai pribadi yang dingin, tertutup, dan tidak tertarik pada apa pun selain dirinya sendiri dan mimpinya. Di pergelangan tangannya, melingkar untaian tasbih Buddha berwarna hitam yang mencolok—membuatnya tampak seolah siap meninggalkan dunia dan menjadi biksu.

Saat melihat teman-temannya tergila-gila pada gairah dan kemewahan duniawi, dia hanya berkata tenang, "Aku nggak tertarik, juga tidak mengerti kenapa kalian suka. Tapi aku menghormati pilihan kalian." Itulah jawaban jelas yang dia berikan saat Pond bertanya mengapa dia tidak memiliki ketertarikan pada siapa pun.

Namun hari ini, ada sesuatu yang berbeda di dadanya. Jantungnya berdebar-debar tak seperti biasanya—padahal dia tidak punya riwayat penyakit jantung.

"Dengan siapa kalian ke sini?" tanya Krist senang saat melihat si kembar datang ke klinik kecantikannya.

"Dengan pacar adek!" jawab Pin sumringah sambil merangkul lengan Type dengan mesra. Yang dirangkul hanya tertawa cengengesan, sementara Kritt tersenyum manis melihat dua sejoli yang tengah dimabuk asmara itu.

"Om pikir kalian datang bareng papa kalian," imbuh Krist, mencubit gemas pipi Pin.

"Karena hari ini pacar adek yang bayarin semuanya, tolong berikan adek dan kakak pelayanan yang paling mahal ya, om~" oceh Pin, langsung dilirik oleh Type.

"Kok gitu sih, yank? Uang Kritt jauh lebih banyak dariku. Jadi dia yang seharusnya—"
Ucapan Type terhenti saat sorot mata Pin berubah sinis.

"Jadi namanya Kritt," batin Maxky, yang masih berdiri diam sambil memandangi sosok elegan dan berwibawa itu dari kejauhan.

"Ya udah deh... apa sih yang nggak buat kamu," ucap Type akhirnya pasrah. Dia tahu kalau Pin merajuk, biaya untuk menyenangkan hatinya bisa lebih besar dari biaya perawatan kecantikan hari ini.

Pin terkekeh, lalu melirik pria gagah yang berdiri di samping Krist. "Dia putra om, ya?" tebaknya dengan polos. Dia berpikir positif—mustahil Krist berselingkuh, karena semua orang tahu betapa besar cinta Singto padanya. Jika Krist mencari cinta yang lebih besar dari cinta Singto, maka dia takkan pernah menemukannya.

Krist mengangguk ringan dan merangkul lengan putranya. "Perkenalkan, ini putra semata wayang om. Namanya Maxky. Dokter muda. Rencananya dia akan ambil S2 di luar negeri, spesialis penyakit jantung," jelasnya dengan penuh kebanggaan.

Maxky memang sedang pulang, tapi hanya sebentar. Setelah ini, dia akan kembali melanjutkan pendidikannya ke luar negeri.

Maxky tersenyum kikuk—malu karena diperkenalkan dengan begitu resmi.

"Aku Pin, kembaranku namanya Kritt, dan ini pacarku... Type," ujar Pin tak kalah semangat dari Krist. Ia tampak sangat bahagia. Bagaimana tidak? Kekasihnya begitu patuh. Bahkan baru bangun tidur saja, Type sudah memikirkan hal apa yang bisa dia lakukan hari ini agar Pin tersenyum.

Krist terkekeh melihat putra bungsu Meen itu—sikapnya lucu sekali. Sementara yang diperkenalkan sebagai pacar hanya bisa tersipu malu.

Kritt menerima uluran tangan Maxky dengan ramah. Tak lama, asisten Krist datang memberitahu bahwa giliran mereka hampir tiba.

Klinik kecantikan ini memang milik Krist. Sesekali, ia bahkan menjadikan putranya sendiri sebagai bintang iklan klinik.

"Permisi," ucap Kritt sopan pada Maxky yang sedari tadi terus memperhatikannya. Pin memang mirip Kritt, tapi Maxky lebih menyukai aura Kritt yang seperti lautan tenang—menenggelamkan dan misterius. Sangat berbeda dari Pin yang seperti langit biru cerah dengan matahari yang hangat dan menyilaukan. Lagi pula, Pin sudah punya pacar.

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang