Alur chapter kali ini maju mundur
❄️❄️❄️💙💙💙❄️❄️❄️
Malam yang Gelisah – Di Berbagai Kediaman Elite Bangkok
1. Kediaman Keluarga Luangsodsai – Rumah Besar yang Kini Terasa Seperti Penjara
Telepon Arthit berdering tanpa henti. Nama Maxky. Lalu Bever. Lalu Ponlawit.
Tapi semuanya hanya berakhir di layar—karena tidak ada yang bisa diangkat.
Ken Luangsodsai berdiri dengan wajah dingin di depan meja kerja, memegang ponsel Arthit dan tablet miliknya. Semua alat komunikasi disita. Semua akses diputus. Bahkan televisi di kamar Arthit dicabut. Ia kini dikurung secara diam-diam di kamar sayap timur.
"Kamu tidak akan keluar sampai semua ini reda. Jangan buat semuanya tambah buruk," ucap Ken dengan suara penuh tekanan sebelum meninggalkan kamar itu.
Arthit hanya bisa menatap ke luar jendela. Langit mendung. Sama seperti hidupnya kini.
Ia mencoba mengingat wajah Santa, lalu wajah Joss. Dan itu hanya membuat hatinya semakin berat.
⸻
2. Rumah Keluarga Peraya
Maxky berjalan mondar-mandir di ruang tamu dengan wajah gelisah, napasnya memburu seperti sedang berlari maraton tanpa garis akhir. Jari-jarinya mengepal di sisi tubuh, berulang kali melirik ke arah ponselnya yang kini tergeletak mati di meja. Papanya berdiri di depan pintu, tubuh tegap dengan tangan bersilang di dada, tatapan tajam yang menyiratkan keputusan final.
"Kamu tidak akan keluar rumah," ucap Krist dengan suara berat dan mantap. Suaranya bukan lagi suara seorang papa, tapi suara seorang pemimpin keluarga bangsawan yang kata-katanya tak bisa ditawar.
"Pa! Dia teman aku! Aku harus tahu dia baik-baik aja!" Maxky berteriak, nada suaranya pecah oleh emosi.
"Dan kamu juga harus ingat siapa dirimu, Maxky!" sahut Papanya keras. "Kita bukan rakyat biasa yang bisa asal komentar di internet. Nama baik keluarga kita bisa runtuh kalau kamu salah langkah. Arthit sekarang... bukan lagi teman yang sama seperti dulu."
Maxky membeku. Nama Arthit terucap seperti duri yang menancap dalam di dadanya. Arthit, sahabat masa kecilnya. Arthit, orang pertama yang mengajarinya bagaimana rasanya dihargai bukan karena gelar atau nama keluarga. Dan sekarang... nama Arthit menghiasi halaman depan berita gosip dan pengadilan digital.
Maxky menggigit bibir, menahan diri agar tidak berteriak lebih keras. Air matanya menggantung, tapi dia tak ingin menunjukkannya di depan Papanya. Ia tahu, Papanya tak akan bergeming. Satu per satu aplikasi media sosialnya dihapus dari ponselnya. Duniaya yang semula luas dan penuh warna, kini seperti kandang emas—megah tapi pengap.
Saat malam turun dan sunyi menyelimuti rumah, Maxky hanya bisa meringkuk di tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang terasa seperti langit kuburan. Di dinding, masih tergantung foto Kritt—seseorang yang diam-diam mengisi hatinya. Senyuman Kritt dalam foto itu menenangkan, seperti sinar bulan menembus kabut tebal.
Dan saat rasa sepi hampir menelannya, seseorang datang.
Tok tok tok...
Kritt berdiri di depan pintu kamar Maxky. Tangannya memegang nampan berisi makanan, minuman, dan potongan buah yang ditata rapi. Tatapannya kosong, tak berharap banyak.
"Abang... ini aku, Kritt," suaranya lirih. Bahkan lebih pelan dari ketukan pintunya.
Ia menarik napas dalam-dalam sebelum berkata lagi, "Kata paman Krist, abang belum makan sejak semalam. Sekarang sudah jam dua siang..."
Tak ada jawaban. Hening menyelimuti. Kritt menunduk, mencoba menelan kecewa yang tak bisa ia tunjukkan.
"Ya udah... kalau abang gak mau buka pintu, makanannya aku letakkan di sini ya," katanya pelan. Ia pun berbalik, bersiap melangkah pergi. Tapi baru saja ia hendak mengangkat kaki dari lantai marmer itu, suara berderit dari engsel pintu menghentikannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
2Moons
Fiksyen PeminatKapal yang berlayar : JossKritt & PinSanta Ghostship Area ⏩ LGBT area☠️ so, HOMOPHOBIA dilarang mendekat. ⏩Area dewasa🔞 ⏩MPreg Area ⏩Kapal hantu bertaburan ☠️, jangan harap kapal benar berlayar disini. ⏩TYPO & kata yang hilang bertebaran. ⏩ Update...
