52 : Rencana Besar

79 21 3
                                        


Namaku Type Kanawut.

Kalau kamu tanya, bagaimana hidupku, aku akan bilang: sempurna. Aku punya wajah yang katanya tampan, otak yang katanya cerdas, dan keberuntungan yang mungkin bikin iri sebagian orang. Tapi bukan itu yang membuatku merasa paling beruntung. Yang membuatku benar-benar bersyukur adalah keluarga yang kupunya. Papa dan papi yang saling mencintai dengan cara mereka yang unik, dan seorang abang yang meski tak sedarah, sudah kuanggap bagian dari jiwaku sendiri.

Papi—Mew Suppasit—adalah definisi Casanova pensiun. Wajahnya manis, pembawaannya halus, tapi kalau lihat cara dia menatap papa... kamu akan tahu siapa raja sebenarnya di rumah. Papi ini Casanova yang takut istri. Sedangkan papa, Gulf Kanawut, adalah kebalikan dari semua definisi lembut. Bar-bar, blak-blakan, dan tidak pernah menyaring ucapannya. Kalau dia berpikir sesuatu itu tolol, dia akan bilang langsung di depan orangnya, tanpa peduli mereka tersinggung atau tidak. Tapi anehnya, semua ucapan pedas itu justru kadang tepat sasaran. Menohok, tapi jujur. Mungkin itu juga alasan kenapa papi tetap bertahan bersamanya. Dan jujur saja, aku pun tumbuh jadi mirip papa.

Aku bukan tipe orang yang suka berbasa-basi. Kalau aku suka, aku bilang suka. Kalau aku muak, wajahku sudah lebih dulu bicara sebelum mulutku terbuka. Wajahku ini, sialnya, punya subtitle sendiri yang tak bisa aku kendalikan. Dan sabarku? Setipis tisu basah dibelah tujuh. Jadi kalau kamu berharap aku jadi orang yang kalem dan tahan banting, maaf, kamu salah alamat.

Tapi ada satu orang yang selalu bisa memahami aku, bahkan ketika aku sedang diam seribu bahasa. Namanya Kritt Kaiden—sahabatku sejak kecil, anak sahabat papi dan papa. Kami tumbuh bersama, mengenal satu sama lain seperti bayangan yang selalu mengikuti cahaya. Kritt itu... rumit. Untuk orang yang baru mengenalnya, dia seperti dinding es yang tak bisa ditembus. Tatapannya datar, ekspresinya minim, ucapannya dingin, dan nyaris tanpa emosi. Kalau kamu cukup ceroboh untuk menilai seseorang dari penampilan pertama, kamu pasti akan berpikir Kritt adalah iblis tanpa hati.

Tapi aku tahu lebih dari itu.

Di balik semua kebekuannya, Kritt adalah orang paling lembut dan tulus yang pernah aku kenal. Dia punya cara mencintai yang tenang, cara memperhatikan yang diam-diam, dan kemampuan membaca isi hati tanpa perlu kata-kata. Dan mungkin karena itu, aku bisa tetap waras hidup bersamanya sebagai sahabat. Dia menjadi cermin tempatku melihat sisi diriku yang tak bisa orang lain pahami.

Kritt punya saudara kembar. Namanya Pin Wonka.

Secara fisik, mereka identik. Tapi secara kepribadian, langit dan bumi. Jika Kritt adalah malam yang tenang dan dingin, maka Pin adalah siang yang cerah dan bising. Pin itu... manja, lucu, polos, dan cerewet. Dia suka bicara tanpa henti, suka merengek, suka memeluk, dan suka tertawa untuk hal-hal yang menurutku bahkan tidak lucu. Tapi justru di situlah daya tariknya.

Aku jatuh cinta padanya.

Awalnya aku kira hanya rasa suka biasa. Tapi semakin aku mengenalnya, semakin aku tak bisa mundur. Pin bukan sekadar manis di mata—dia manis di hati. Murni. Lugu. Dan untuk orang sepertiku yang sudah terbiasa menyimpan amarah dan bersikap sinis terhadap dunia, Pin seperti pelangi yang datang setelah badai.

Tapi untuk mendapatkan hatinya, bukan perkara mudah. Dia terlalu dijaga. Terutama oleh Kritt. Dan aku paham kenapa. Bukan hanya karena mereka keluarga, tapi karena dunia ini terlalu keras untuk orang seperti Pin. Dan Kritt... sebagai saudara yang pernah merasakan kerasnya dunia, tentu tidak akan membiarkan Pin tergores sedikit pun.

Hubungan kami diuji dari segala sisi. Aku harus meyakinkan Kritt bahwa aku cukup layak. Aku harus menahan diri setiap kali ingin menyentuh Pin lebih dari sekadar pelukan. Aku harus mengingatkan diriku sendiri bahwa cinta bukan tentang memiliki secepatnya, tapi menjaga sedalam-dalamnya. Dan sekarang, Pin adalah milikku—secara sah dan penuh perjuangan. Kami berpacaran.

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang