Sudah hampir dua puluh menit Joss menemani Gawin di ruang perawatan itu. Hening menyelimuti kamar bernomor sepuluh itu, hanya suara mesin pendingin udara dan detak jantung monitor yang terdengar samar.
Joss duduk di samping tempat tidur, sesekali memperbaiki selimut Gawin agar tetap menutupi perutnya. Tangan Joss tak pernah lepas dari tangan adiknya—seperti ingin memastikan bahwa Gawin tetap ada di sana, tetap hangat, tetap hidup.
Gawin melirik diam-diam. Ia tahu momen ini tepat. Wajahnya menunduk, dan ia menarik napas panjang—menyiapkan kalimat yang akan menyalakan kembali bara kasih sayang Joss padanya.
"Bang..." gumamnya lirih, nyaris seperti bisikan.
"Hmm?"
"Kalau aku... nggak ada, abang bakal sedih, gak?"
Pertanyaan itu membuat Joss menoleh, menatap Gawin dengan alis terangkat.
"Apa sih? Kenapa nanya kayak gitu?"
Gawin mengulas senyum kecil, matanya mulai berkaca-kaca. Dia menatap Joss tanpa berkedip, seolah sedang mengukir wajah kakaknya itu dalam memorinya.
"Soalnya... tadi waktu jatuh, aku sempat ngerasa kayak... 'oh, mungkin ini terakhir.' Aku takut, Bang... banget. Aku mikir, kalau aku pergi, abang bakal terus jagain siapa? Siapa yang bakal abang rawatin kayak rawat aku?"
Joss terdiam. Hatinya seperti diremas. Nafasnya tertahan, tak bisa menjawab langsung.
"Jangan ngomong gitu. Kamu gak akan ke mana-mana. Aku di sini, kan?"
Gawin mengangguk pelan, matanya mulai basah.
"Aku cuma... takut, Bang. Kalau suatu hari nanti, abang gak sayang aku lagi. Kalau abang lebih milih orang lain buat dijagain. Bukan aku."
Kalimat terakhir itu—tersampaikan lembut tapi tajam. Ia tahu tepat ke mana harus menusuk. Dan seperti yang diprediksi, Joss mencengkeram tangan Gawin sedikit lebih kuat.
"Hei. Dengar, ya." Suara Joss mulai berat. "Abang mungkin punya orang-orang lain di hidup abang... tapi kamu, Win, kamu tuh prioritas abang. Selalu."
Gawin memejamkan mata sebentar. Senyum tipis penuh kemenangan nyaris menyelinap di wajahnya, namun ia segera mengubahnya menjadi ekspresi lega bercampur haru. Satu butir air mata jatuh dari sudut matanya.
"Jadi... abang gak bakal ninggalin aku?"
"Gak akan. Selama aku hidup, kamu gak akan sendirian."
Ucapan itu membuat Gawin berpura-pura terisak pelan. Lalu, dengan gerakan hati-hati, ia menarik lengan Joss agar tubuh kakaknya itu menunduk.
"Peluk aku, Bang..."
Dan Joss, tanpa ragu, meraih tubuh adiknya yang kurus itu ke dalam pelukan. Ia membenamkan wajahnya di bahu Gawin, mengelus pelan punggungnya, mengabaikan segala logika yang berusaha menanyakan kenapa Gawin bisa se-dramatis ini.
Dalam pelukan hangat itu, Gawin tersenyum diam-diam. Perhatian Joss kembali sepenuhnya padanya.
Dan dia tahu, selama ia bisa terlihat lemah...
Joss akan selalu memilihnya lebih dulu dari siapa pun.
Termasuk dari Kritt.
⏩️⏩️
Sementara di rumah sakit, Joss tenggelam dalam pelukan Gawin yang penuh sandiwara, di bioskop itu Kritt duduk termenung di kursi tunggu dengan sisa popcorn yang tadi dibelinya bersama Joss. Ia menggenggam satu tiket film yang kini tak berarti apa-apa. Pandangannya kosong menatap layar ponselnya yang masih menunjukkan pesan terakhir dari Joss: "Maaf ya, dek. Keknya kita gak jadi nonton. Gawin masuk rumah sakit."
KAMU SEDANG MEMBACA
2Moons
FanfictionKapal yang berlayar : JossKritt & PinSanta Ghostship Area ⏩ LGBT area☠️ so, HOMOPHOBIA dilarang mendekat. ⏩Area dewasa🔞 ⏩MPreg Area ⏩Kapal hantu bertaburan ☠️, jangan harap kapal benar berlayar disini. ⏩TYPO & kata yang hilang bertebaran. ⏩ Update...
