33 : Kasmaran

131 24 10
                                        

Kengkla duduk di kursi belakang, tubuhnya bersandar ke jendela, tatapannya kosong. Primily dan Tontawan duduk di sebelahnya, menjaga keheningan agar tak menambah beban pikirannya.

Blue yang mengemudi di depan, berkonsentrasi penuh pada jalan. Tapi hatinya tidak tenang.

"Gak sakit kan tadi?" akhirnya dia bicara, tanpa menoleh.
Suaranya pelan, namun berat. Emosi seorang ayah yang bingung antara ingin memarahi atau memeluk anaknya.

Kengkla menggeleng pelan, meski sebenarnya dia masih bisa merasakan sisa cekalan tangan Arthit di pergelangan tangannya.

"Kenapa kamu gak langsung bilang ke Daddy?"
Kini Blue menepi, mematikan mesin, lalu menoleh ke belakang. "Kenapa kamu diam aja waktu dipeluk sama orang asing begitu? Itu... pelecehan, Nak."

Kengkla mengatupkan bibir. "...Dia gak asing, Daddy. Dia nyebut nama orang... Aran... dengan tatapan seolah dunia dia hancur."
Nadanya pelan, lebih banyak berbicara pada dirinya sendiri.

Blue memejamkan mata sejenak. Menenangkan diri.

"Kamu itu bukan tempat orang menyembuhkan luka masa lalu mereka. Bukan pengganti siapa pun."
Ucapannya lembut tapi sangat tegas.

Tontawan dan Primily saling pandang, tapi memilih tidak ikut campur.

"Mulai besok, kamu gak boleh keluar sendiri. Daddy akan minta Meen tuk memberimu bodyguard biar ada yang jagain kamu kalau Daddy kerja. Dunia ini bukan tempat main. Orang seperti Arthit itu bukan cuma butuh bantuan. Dia bisa berbahaya."

Kengkla mengangguk pelan, suaranya nyaris tak terdengar, "Maaf... bikin Daddy khawatir."

Blue menghela napas, lalu meraih tangan putranya. "Kamu cuma satu-satunya yang Daddy punya, Kengkla. Kamu ngerti gak maksud Daddy? Daddy gak bisa kehilangan kamu."

Dan di dalam mobil yang terparkir di sisi jalan, keduanya larut dalam pelukan panjang—bukan karena takut, tapi karena sadar bahwa dunia tak pernah benar-benar aman... apalagi bagi seseorang yang dicintai banyak orang, bahkan oleh yang belum bisa melepaskan masa lalunya.

⏩️⏩️

Langit mulai gelap ketika Maxky akhirnya sampai di mansion milik keluarganya. Lampu-lampu gantung menyala dengan tenang, menciptakan suasana megah sekaligus mencekam. Dia tahu, ayahnya tak pernah memanggilnya "ke ruang kerja" kecuali jika benar-benar penting... atau jika dia telah melampaui batas.

Maxky mengetuk pintu ruang kerja, lalu membukanya dengan hati-hati. Di dalam, Singto duduk di belakang meja kayu besar yang dipenuhi dokumen. Kacamatanya bertengger di batang hidung, dan ada segelas wine di samping tangan kanannya.

"Masuk," ucap Singto tanpa menatapnya.

Maxky masuk dan menutup pintu. Langkahnya pelan, seperti seorang prajurit yang tahu dia akan dimarahi jenderalnya.

"Duduk."

Maxky duduk.

Sunyi.

Hanya suara detik jam yang terdengar. Hingga akhirnya...

"Apa yang kalian pikirkan, hah? Membiarkan sahabatmu nyaris menyerang putra dari Blue Mark—di tempat umum pula?"

Nada suara Singto tenang, tapi tajam seperti belati. Maxky menunduk, tak berani menatap mata ayahnya.

"Arthit itu... kehilangan akal sehatnya sejak Aran meninggal, Pa. Kami juga kaget dia bisa... seobsesif itu."
Maxky mencoba menjelaskan, tapi terdengar lemah di telinga Singto.

"Jadi kalian membiarkan orang dengan gangguan trauma berat berkeliaran begitu saja? Membiarkan dia menyakiti orang lain hanya karena kalian merasa 'kasihan'?"
Singto menegakkan tubuhnya, kini menatap Maxky lurus-lurus. "Kalau Kengkla benar-benar terluka tadi, kau pikir Blue akan diam?"

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang