Gawin menyusul Joss yang berhenti di tangga eskalator.
"Bang Jo, kamu kenapa? Tadi aku cuma—"
"Cukup," potong Joss, suaranya pelan tapi dingin. Matanya tak berpaling dari arah kepergian Kritt dan Pin, yang sudah lenyap dari pandangan.
Gawin terdiam, agak kaget. Joss jarang berbicara seperti itu. Selalu tenang, selalu pengertian. Tapi kali ini berbeda. Kali ini ada kemarahan yang terasa ditahan.
"Aku tahu apa yang kamu lakukan," lanjut Joss sudah terlambat mengetahui niat busuk Gawin, masih dengan nada yang sama. "Sejak dari asrama, dari latihan, bahkan dari malam itu... Kamu masuk di celah yang kamu tahu sedang rapuh."
Gawin mencoba tersenyum. "Bang Jo, aku cuma pengen dekat sama kamu. Kita kan pernah—"
"Ikatan itu hanya sebatas sahabat dan saudara Gawin," Ptong Joss tegas. "Aku tak bisa memberimu lebih. Please, jangan rusak hubunganku seperti kamu merusak hubunganku dengan Fah." Lanjut Joss emosional. "Dan berhentilah masuk di saat hubungan kami sedang renggang..."
"Abang salah paham, aku cuman peduli sama abang, sungguh tidak ada maksud lain." Gawin membela diri. "Aku cuman pengen nemenin abang pas abang butuh seseorang seperti yang telah abang lakukan padaku selama ini."
"Kalau kamu peduli, kamu nggak akan sengaja bikin orang yang aku sayang salah paham."
Gawin terdiam.
Tanpa menambahkan sepatah kata pun lagi, Joss berbalik dan berlari kecil menuruni tangga eskalator. Langkahnya cepat, matanya menyisir setiap lorong di lantai bawah tempat terakhir ia melihat Kritt dan Pin. Ia tidak akan membiarkan kesalahan ini berlanjut. Tidak malam ini.
Dan benar saja, tak jauh dari sana, dia melihat sosok Kritt yang duduk di bangku depan gerai seafood bersama Pin.
Nafas Joss terhenti sesaat. Ada jeda panjang di dadanya, ketakutan menyelinap saat matanya dan mata Kritt bersirobok. Tapi sebelum ia bisa menyusun kata, Kritt berdiri. Wajahnya tenang, dingin, tidak sehangat dulu. Tapi dia tidak berbalik. Tidak juga melarikan diri.
"Pin, tunggu di sini. Aku mau bicara sebentar," ucap Kritt pada saudara kembarnya.
Pin memandang bergantian antara Joss dan Kritt dengan wajah bingung, tapi akhirnya mengangguk. "Oke. Tapi jangan lama, aku udah laper banget!"
Kritt berjalan lebih dulu, menuju gerai es krim tepat di sebelah seafood corner. Joss mengikutinya, dan mereka duduk berseberangan di kursi booth warna pastel, di bawah lampu yang redup dan musik jazz yang hampir tak terdengar.
Es krim cokelat dan stroberi tersaji di depan mereka. Tak ada yang menyentuh.
"Aku nggak tahu harus mulai dari mana," kata Joss perlahan.
"Kalau begitu, aku yang mulai," balas Kritt tanpa ekspresi. "Apa kamu bahagia dengan Gawin?"
Joss menggeleng cepat. "Aku nggak pernah pilih dia. Aku... aku salah. Aku biarkan dia terlalu dekat waktu aku sedang kacau. Tapi itu bukan berarti aku—"
"Kamu cium dia," potong Kritt, lirih.
Joss terdiam. Rahangnya mengeras. Ia ingin menyangkal. Ingin menjelaskan. Tapi Kritt layak menerima kebenaran, bukan pembenaran.
"Iya," bisiknya. "Dan itu kesalahan. Besar. Aku nyesel."
Kritt menghela napas, pandangannya menunduk menatap es krim yang mulai mencair. "Dan kamu datang kemari... buat apa?"
"Karena aku masih cinta kamu," jawab Joss jujur. "Karena aku nggak bisa tidur, nggak bisa latihan, nggak bisa jalan ke tempat yang biasa kita datangi tanpa ngerasa kosong. Karena... aku masih berharap kamu kasih aku satu kesempatan buat betulin semuanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
2Moons
FanfictionKapal yang berlayar : JossKritt & PinSanta Ghostship Area ⏩ LGBT area☠️ so, HOMOPHOBIA dilarang mendekat. ⏩Area dewasa🔞 ⏩MPreg Area ⏩Kapal hantu bertaburan ☠️, jangan harap kapal benar berlayar disini. ⏩TYPO & kata yang hilang bertebaran. ⏩ Update...
