36 : Malam yang Penuh Kekhawatiran

77 22 2
                                        


Pukul 20:30.

Kamar apartemen Joss dipenuhi aroma peppermint dari diffuser yang sengaja ia hidupkan untuk menenangkan suasana. Di bawah cahaya kuning lampu baca, tubuh Gawin yang kecil tampak meringkuk di atas ranjang, mengenakan kaos abu milik Joss yang kebesaran. Kedua lututnya ditarik hingga menyentuh dada, pergelangan kakinya masih diperban. Napasnya tenang, tapi matanya belum lepas dari bayang-bayang kejadian sore tadi.

Joss duduk di tepi ranjang, mengambil selimut lalu menyelimuti tubuh Gawin dengan hati-hati. Tangannya bergerak seperti sedang menyentuh porselen rapuh.

"Jangan pergi kayak tadi lagi," ucapnya pelan tapi tegas, seolah itu satu-satunya hal yang tersisa dari akal sehatnya. "Buruan minum, kamu harus tetap hangat."

Gawin mengangguk kecil, meraih cangkir putih berisi air jahe hangat yang disodorkan Joss. Ia meneguknya perlahan, berusaha tidak membuat wajahnya meringis meski hangat air itu membuat tenggorokannya perih. Tapi kehangatan itu juga menyelusup masuk ke dadanya—meluruhkan sedikit demi sedikit rasa malu dan takut yang sempat menguasainya.

"Maaf," gumam Gawin lirih, menunduk.

Namun Joss menggeleng cepat. "Aku yang harus minta maaf sama kamu," katanya sambil menatap wajah Gawin. Wajah itu masih terlihat lelah, dengan pipi sedikit merah karena suhu tubuhnya yang belum stabil.

Tadi siang, ketika teman sekelas Gawin menelpon dengan panik memberitahu bahwa Gawin kabur dari kampus—tanpa arah, tanpa kabar—Joss langsung meninggalkan semua urusannya. Ujian terakhir yang seharusnya ia jalani pun terlupakan. Ia menyusuri kampus, rumah sakit tempat Gawin sempat dirawat, hingga jalanan yang biasa mereka lewati bersama.

Joss benar-benar kehilangan arah sampai akhirnya menemukan Gawin duduk di belakang taman kampus, menyembunyikan diri di balik bangku, menggigil, dan matanya sembab. Ia tidak tahan melihat Gawin dalam kondisi seperti itu—terluka secara fisik dan mental karena dilabrak seseorang yang tidak mengenalnya, yang mempermalukannya di depan umum.

"Enggak mual?" tanya Joss pelan. Joss membawa Gawin ke asramanya.

Gawin menggeleng sambil mengelus perutnya. "Nggak. Ini enak dan seger..."

Joss mengangguk, mengembuskan napas lega. Ia meletakkan cangkir ke meja samping, lalu tanpa berpikir lebih lama, ia merengkuh tubuh Gawin ke dalam pelukannya. Mendekap erat. Dekapan yang tidak meminta izin, hanya memohon agar tidak ditolak.

Gawin terkejut. Tubuhnya menegang beberapa detik, tetapi ia tidak menjauh. Rasa takutnya reda ketika merasakan kehangatan dada Joss. Lengan pria itu membungkusnya seperti pelindung dari semua kebisingan dunia.

"Jangan pergi lagi," bisik Joss. Suaranya bergetar. "Jangan pergi. Aku bisa gila kalau kamu pergi kayak tadi."

Pelukannya menguat. "Aku janji, aku akan berusaha jadi sahabat dan abang yang baik untuk kamu. Aku janji... Kedepannya, nggak akan aku biarkan orang lain menghina dan menyakitimu."

Kata-kata itu keluar terbata, nyaris tersangkut di tenggorokan karena emosi yang mengendap terlalu lama. Cemas. Sayang. Semua jadi satu.

Gawin menggigit bibir bawahnya, menahan isak. "Maaf, Bang..." gumamnya. "Aku nggak mau jadi beban buat abang... tapi kayaknya aku udah bikin abang panik..."

Joss perlahan melepaskan pelukannya, menatap wajah Gawin yang kini mulai basah oleh air mata. Ia mengusap bahu Gawin dengan lembut, lalu membelai rambutnya.

"Kamu bukan beban..." ucapnya tulus. "Justru aku yang nggak kompeten jagain kamu..."

Gawin cepat menggeleng. "Abang gak salah! Jadi berhentilah menyalahkan diri abang..."

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang