05:18 AM
Embun masih melekat di dedaunan halaman rumah keluarga Khajornborirak. Matahari belum sepenuhnya bangkit, tapi langit sudah mulai menunjukkan semburat keemasan. Jalanan utama menuju mansion keluarga itu masih sepi, hanya sesekali terdengar suara burung hutan atau mobil dinas pelayan yang baru masuk.
Dan di depan gerbang besi berukir itu, berdirilah Joss.
Wajahnya tampak letih. Mata sembab. Pakaian tak sempat diganti—masih yang ia kenakan semalam. Ia berdiri diam, membawa sepasang kunci mobil dan sebuah ponsel yang kini penuh dengan pesan-pesan tak terkirim.
Ia ingin meminta maaf.
Ia ingin menjelaskan.
Ia ingin Kritt tahu bahwa ia salah... dan betapa ia menyesal telah menyia-nyiakan waktu yang seharusnya ia habiskan dengan Kritt.
Namun harapan Joss buyar... saat pintu utama rumah terbuka, dan dari sana muncul Meen.
Bukan pelayan. Bukan Perth.
Tapi Meen sendiri. Masih mengenakan jubah sutra tidur berwarna navy dan sandal rumah, rambutnya rapi, matanya jelas tak tidur semalaman.
Joss langsung menunduk begitu Meen mendekat. "Daddy Meen... saya minta maaf. Saya..."
Meen mengangkat satu tangannya. "Berhenti di situ."
Langkah Joss terhenti. Ia mendongak sedikit, tapi tak berani menatap mata pria yang selama ini menyayanginya seperti anak sendiri.
"Tak perlu pakai 'Daddy' lagi," ucap Meen dingin. "Kamu kehilangan hak itu sejak semalam."
Joss menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. "Tolong izinkan saya bicara sama Kritt. Hanya sebentar. Saya mohon..."
Meen melipat tangan di dada. "Bicara? Setelah kamu membuatnya berdiri berjam-jam di perpustakaan, lalu pulang sendiri dengan hujan membasahi tubuhnya? Setelah kamu membiarkan dia mencari kamu dengan hati panik, hanya untuk melihat kamu—" suaranya tercekat—"berciuman dengan orang lain?"
"Bukan begitu... saya gak bermaksud... itu semua terjadi tiba-tiba, saya..." suara Joss pecah. "Saya panik semalam karena Gawin hilang, saya gak sempat—"
"Dan Kritt?" potong Meen tajam.
"Dia tidak hilang. Dia menunggu. Dia menepati janjinya. Tapi kamu tidak."
Nada Meen rendah, tapi dingin seperti es. "Joss, tahu apa yang paling menyakitkan? Bukan ciumanmu. Bukan pengkhianatanmu. Tapi fakta bahwa kamu bahkan tidak menyadari bahwa orang yang kamu cintai sedang terluka."
Joss menggertakkan giginya, matanya mulai berkaca-kaca. "Saya mencintai Kritt. Saya benar-benar mencintainya, Daddy Meen. Saya... saya tahu saya brengsek. Tapi saya ingin memperbaiki semuanya."
Meen melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Joss sekarang. "Dan saya tahu kamu bisa bersikap manis. Tapi sebagai ayah—saya tidak bisa membiarkan anak saya dekat dengan orang yang menyakitinya sebanyak itu... dalam satu malam."
Suara gerbang otomatis mulai terbuka pelan, seperti simbol penolakan yang sopan namun tegas.
"Pulanglah, Joss," ujar Meen, lebih tenang tapi tak kalah menusuk. "Simpan penyesalanmu untuk dirimu sendiri. Kritt tak butuh air mata palsu, dia butuh ketenangan. Dan kehadiranmu... bukan sumber ketenangan itu."
Joss menggenggam kunci mobilnya erat.
"Kalau dia bangun dan tanya aku—"
"Dia tidak akan tanya." Meen memotong lagi. "Karena tadi malam dia menangis dalam diam. Dan air mata yang seperti itu, Joss, butuh waktu lama untuk sembuh."
Hening.
Burung mulai berkicau pelan. Matahari akhirnya naik sedikit.
Joss mundur satu langkah. Ia tahu.
Tak ada ruang untuknya di rumah ini. Bukan sekarang.
Ia menunduk dalam. "Saya mengerti..."
Meen memandangi pemuda itu untuk terakhir kalinya, lalu berbalik tanpa kata. Ia masuk kembali ke dalam rumah, pintu utama ditutup pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
2Moons
FanfictionKapal yang berlayar : JossKritt & PinSanta Ghostship Area ⏩ LGBT area☠️ so, HOMOPHOBIA dilarang mendekat. ⏩Area dewasa🔞 ⏩MPreg Area ⏩Kapal hantu bertaburan ☠️, jangan harap kapal benar berlayar disini. ⏩TYPO & kata yang hilang bertebaran. ⏩ Update...
