Langit sore Bangkok mulai berwarna jingga keemasan ketika Pin keluar dari pintu rumah sakit. Angin sore membelai rambutnya yang sedikit acak karena sibuk seharian. Matanya masih menyimpan sisa kejadian di kamar Santa, tapi senyum kecil muncul begitu pandangannya menangkap mobil hitam mewah yang sudah terparkir sempurna di dekat pintu masuk parkiran.
Di sana, bersandar santai pada pintu mobil, berdiri sosok yang membuat jantung Pin berdetak lebih kencang—Type Kanawut.
Dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, celana hitam rapi, dan jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangan kirinya, Type terlihat seperti pangeran yang turun dari langit sore demi menjemput sang kekasih. Aura gagah, tenang, dan protektifnya begitu mencolok. Tapi, begitu Pin menghampirinya, semua elegansi yang ia bangun runtuh oleh satu serangan.
"TYPE!!" seru Pin, lalu langsung memeluk tubuh kekasihnya dengan kedua tangan mengunci pinggang pria itu seperti tak ingin dilepas.
Tanpa memperdulikan bahwa mereka masih di area parkiran rumah sakit dan masih ada Ponlawit yang berjalan di belakangnya sambil tersenyum simpul, Pin mencium pipi Type dengan keras. "Aku kangen kamu banget!!" ujarnya sambil mendongak, wajahnya ceria seperti anak kecil yang baru saja pulang sekolah dan melihat orang tuanya menunggu di gerbang.
Type mengangkat alis, senyumnya menawan, tangannya membalas pelukan itu dengan erat. "Baru tadi pagi ketemu, Pin."
"Delapan jam tuh lamaaa~" rengek Pin dengan suara manja, lalu menyenderkan kepalanya di dada Type. "Kamu lama banget sih datangnya..."
"Kan kamu yang minta dijemput sore." Type mencubit pelan pipi kekasihnya. "Ayo masuk, nanti kamu masuk angin."
Ponlawit hanya melambaikan tangan kecil dari kejauhan, seolah berkata, "Good luck, lovebirds," sebelum masuk ke mobil ojek online yang menunggunya.
Pin pun duduk di kursi penumpang depan dengan ekspresi puas. Type masuk lewat sisi pengemudi dan menyalakan mesin mobil. Aroma parfum mahal dan semerbak bunga mawar dari hiasan kecil di dashboard langsung mengisi kabin mobil. Lagu jazz romantis mengalun pelan dari speaker, seolah menjadi soundtrack bagi dua insan yang sedang diliputi cinta.
"Aku mau cerita banyaaak," ujar Pin, sambil memutar tubuhnya ke arah Type, duduk bersila di jok mewah seolah dia duduk di sofa rumah sendiri. "Tapi aku gak tahu harus mulai dari mana."
"Mulai dari kecup pipi yang barusan dulu, itu bikin aku pengen nambah." Type menoleh cepat saat mobil berhenti di lampu merah, dan tanpa aba-aba, dia langsung mencium pipi Pin yang sudah merah karena malu dan senang sekaligus.
"TYPEEE!!" pekik Pin, tapi tawanya meledak. "Nakalll!"
"Kamu juga kok yang mulai," goda Type. "Cuma kamu yang bikin aku senang nunggu lampu merah."
Dan benar saja. Setiap lampu merah berikutnya, Type selalu mencuri ciuman—entah di pipi, di kening, atau di ujung hidung. Di antara ciuman itu, Pin hanya bisa tertawa, memukul-mukul manja lengan Type, dan terus mengoceh tentang makanan enak yang ia lihat di rumah sakit, tentang sepatu suster yang lucu, bahkan tentang paku kecil di tangga yang ia injak tanpa sengaja.
Semua cerita Pin mengalir dengan gaya khasnya yang lucu dan menggemaskan. Tapi, tidak sekali pun dia menyebut nama Santa. Bukan karena lupa. Tapi karena dia tahu, tak semua luka bisa langsung dibagi. Namun, matanya yang kadang menerawang ke luar jendela, tangannya yang sesekali menggenggam jemarinya sendiri dengan erat, itu semua cukup jadi tanda: ada satu janji yang ia genggam rapat di hati.
Type tahu betul, Pin sedang menyimpan sesuatu. Tapi dia tidak bertanya. Dia tahu, jika saatnya tiba, Pin akan bercerita. Yang terpenting sekarang adalah menjaga senyum di wajah orang yang paling ia cintai.
KAMU SEDANG MEMBACA
2Moons
FanfictionKapal yang berlayar : JossKritt & PinSanta Ghostship Area ⏩ LGBT area☠️ so, HOMOPHOBIA dilarang mendekat. ⏩Area dewasa🔞 ⏩MPreg Area ⏩Kapal hantu bertaburan ☠️, jangan harap kapal benar berlayar disini. ⏩TYPO & kata yang hilang bertebaran. ⏩ Update...
