Malam ini, Meen memanggil Pin ke ruang kerjanya.
Ada sesuatu yang ingin ia perlihatkan kepada putra bungsunya.
Pin segera datang dan duduk di kursi depan meja Meen. Begitu Pin duduk, Meen langsung bertanya,
"Apa kamu jadi menyelamatkan Santa?"
Pin mengangguk cepat, semangat bersinar di wajahnya. "Jadi, Daddy, aku dan teman-temanku sudah menyusun rencana untuk menyelamatkannya." Namun semangat itu segera berubah menjadi kebingungan saat Meen menyodorkan setumpuk dokumen kepadanya.
"Jangan lakukan apa pun. Tetap diam."
Perintah Meen terdengar tenang, tapi tegas. Pin mengerutkan kening.
"Kenapa? Bukankah beberapa hari yang lalu Daddy sudah mengizinkan aku menyelamatkan Santa, asalkan tidak melibatkan keluarga?" protes Pin.
Rencananya sudah hampir dieksekusi.
"Bacalah dokumen itu. Maka kamu akan tahu kenapa Daddy memintamu untuk tidak melakukan apa pun."
Pin segera membuka dan membaca dokumen itu.
Isinya membuat matanya membesar—laporan lengkap tentang keruntuhan keluarga Luangsodsai.
Tentang bagaimana Gawin menghancurkan mereka satu per satu dengan strategi media sosial yang terstruktur, rapi, dan bersih.
Dan dalam dokumen itu disebutkan, jika keluarga Luangsodsai jatuh miskin dan kehilangan pengaruh, maka otomatis Santa akan bebas. Para wartawan akan menyelamatkannya, dan keluarga Luangsodsai takkan mampu lagi menyentuhnya dalam bentuk apa pun, bahkan meski kontrak Santa belum habis.
"Wah... Apa ini benar, Daddy? Santa benar-benar akan keluar dari rumah mengerikan itu?"
Semangat Pin terpancar jelas dari wajahnya.
Meen mengangguk ringan dan mengulas senyum.
"Benar."
Pin menatap papanya penuh rasa penasaran.
"Apa ini rencana Daddy? Bukankah Daddy bilang tidak bisa membantu Santa? Lalu kenapa sekarang Daddy membantu? Katakan padaku, Daddy!"
Cercanya, senang sekaligus heran. Membuat Meen tertawa kecil—putra bungsunya memang selalu ekspresif.
"Berterima kasihlah pada kakakmu."
"Eh?" Pin melongo. Tidak percaya.
Kakaknya pun pernah berkata tak bisa membantu Santa, lalu kenapa sekarang hasilnya seperti ini?
Meen melipat tangan di meja, menjelaskan dengan tenang,
"Sebenarnya, kakakmu tidak berniat menyelamatkan Santa. Keselamatan Santa hanyalah bonus dari keberhasilan rencananya."
Pin makin bingung.
"Lalu, siapa sebenarnya sasaran kakak, kalau bukan untuk menyelamatkan Santa?"
Meen menatap mata Pin.
"Kehancuran Gawin dan keluarganya. Esther dan keluarga Luangsodsai hanya bidak dalam permainannya. Mereka adalah umpan untuk mengelabui Gawin. Permainan kakakmu baru saja dimulai. Kamu, Papa, maupun Daddy—kita semua—tidak boleh mengusik jalannya permainan itu."
Meen menyipitkan mata, seolah ingin memastikan pesan itu tertanam kuat dalam benak putranya.
"Kamu masih ingat kan, betapa mengerikannya kakakmu kalau marah?"
Pin merinding seketika.
"Tentu! Bagaimana mungkin aku lupa, Daddy! Aku lebih baik dimarahi Daddy... daripada kakak!"
Sahutnya horor, mengingat satu peristiwa lama yang sampai sekarang masih menghantui pikirannya.
Meen terkekeh kecil, puas melihat ekspresi itu.
"Bagus. Sekarang belajarlah dari kakakmu. Lihat bagaimana dia mempermainkan musuhnya sampai hancur. Pelajari caranya bermain... lalu modifikasi. Agar kelak, jika ada yang mengusikmu, kamu bisa membalas mereka dengan cara yang lebih manis daripada kakakmu."
Pin mengangguk pelan, mulai memahami.
Malam itu, ia belajar satu hal: kadang menyelamatkan seseorang bukan tentang menjadi pahlawan... tapi tentang menjatuhkan musuh dengan cara paling halus dan menyakitkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
2Moons
FanfictionKapal yang berlayar : JossKritt & PinSanta Ghostship Area ⏩ LGBT area☠️ so, HOMOPHOBIA dilarang mendekat. ⏩Area dewasa🔞 ⏩MPreg Area ⏩Kapal hantu bertaburan ☠️, jangan harap kapal benar berlayar disini. ⏩TYPO & kata yang hilang bertebaran. ⏩ Update...
