Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

72 : Lagu dari Kotak yang Tak Seharusnya Dibuka

78 19 5
                                        


Langit Bangkok tertutup awan kelabu. Lampu-lampu taman menyala remang, membentuk bayangan panjang di sepanjang jalur setapak menuju ruang kerja utama keluarga Khajornborirak.

Kritt duduk dengan tenang di belakang meja kayu jati berukir. Di karpet—ada dua ekor harimau Benggala—JD dan Azzu goleran malas.

Di depannya juga, beberapa dokumen terbuka, seolah ia tengah memeriksa laporan keuangan atau membaca artikel dari jurnal hukum. Tapi matanya tidak benar-benar melihat. Ia sedang menunggu.

Dan seperti yang telah dijanjikan, pintu diketuk dua kali dengan ritme khas.

Masuklah Bastian, pria berpakaian gelap, rambut rapi, ekspresi datar—satu-satunya orang yang bisa berdiri di hadapan Kritt tanpa merasa gentar, karena kesetiaannya sudah terbukti puluhan kali.

Ia menunduk sedikit. "Tuan Muda," ucapnya singkat.

"Bagaimana laporan terakhir tentang Arthit?" tanya Kritt tanpa basa-basi.

"Dia tidak masuk penjara, seperti yang kita curigai. Ayahnya, Ken, memalsukan semua rekam medis. Saat ini dia berada di rumah sakit jiwa khusus, tapi semua staf di sana dibayar. Arthit sadar sepenuhnya."

Kritt menyeringai tipis, lalu menutup dokumen di mejanya dengan pelan. "Bagus."

Bastian menatapnya, sedikit bingung. "Tuan senang dia tidak masuk penjara?"

"Ya, karena penjara mengurung. Tapi rumah sakit jiwa? Itu membuatnya bebas... dan semakin lapar."

Bastian menunggu arahan berikutnya.

Kritt berdiri, berjalan ke jendela, melihat ke luar. "Bantu dia."

Bastian menaikkan alisnya. "Maaf, Tuan?"

"Permudah Arthit untuk meneror Gawin," ulang Kritt dengan nada sangat tenang. "Pastikan dia mendapat bahan, ruang, dan momentum. Kita arahkan kembali sorotan media ke Gawin. Tagar yang sempat redup karena dihapus oleh orang tua Gawin... kita hidupkan kembali."

Ia berbalik, menatap Bastian dengan mata tajam.

"Naikkan kembali tagar #GawinPembohong, #YayasanPalsu, #JossSegeraPergi, dan terutama... #pantiasuhanbundamaria."

Bastian mencatat cepat di ponselnya.

"Fokus pada #GawinPembohong. Pastikan tagar itu menggema, bahkan sampai ke luar negeri. Pakai jaringan internasional. Gunakan berita dalam berbagai bahasa. Konten pendek, cepat viral. Potong video, cuplikan suara. Rancang trending dalam dua hari."

"Siap, Tuan."

Kritt berjalan kembali ke meja, mengambil secarik kertas kecil berisi tulisan tangan. "Setelah semuanya mulai ramai, kirimkan satu pesan ke Gawin. Kirim lewat email dan juga kirimkan fotonya lewat akun palsu yang terlihat seperti milik salah satu wartawan lama."

Ia menyerahkan kertas itu pada Bastian:
"Ada mata yang melihatmu. Dan kamu tak bisa lari darinya."

Bastian membaca cepat, lalu menyimpan kertas itu ke dalam map hitamnya.

"Dan esok harinya," lanjut Kritt, "kirimkan ini."

Ia membuka laci, mengeluarkan amplop putih bersih tanpa cap, tanpa label. Di dalamnya, hanya ada satu lembar kertas tebal berisi kalimat pendek dan satu foto blur dari tangkapan video.

"Pastikan dikirim langsung ke ruang kerja Gawin. Tak boleh lewat kurir biasa. Gunakan jaringan internal kantor atau pelayan pribadinya. Harus terlihat natural. Seolah dikirim dari seseorang di dalam rumah atau kantor itu sendiri."

Bastian membaca isi surat:

[Surat Tanpa Nama – The Echo]

Tidak semua topeng tahan panas.

2MoonsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang