Malam turun pelan-pelan di Pattaya. Laut yang tadi riuh dengan suara manusia dan kapal wisata kini hanya bergumam tenang di kejauhan. Angin pantai membawa aroma asin bercampur wangi bunga melati dari taman vila. Dan di dalam ruangan utama vila keluarga Khajornborirak, dua pemuda yang seharian keliling kota akhirnya menjatuhkan diri di sofa besar, masing-masing dengan rambut basah dan pakaian santai.
Kritt memakai sweater lembut berwarna biru muda dan celana pendek. Rambutnya masih sedikit basah, pipinya merah muda karena mandi air hangat. Sementara Maxky, dalam kaus putih dan celana panjang training hitam, duduk dengan gaya santai yang sangat tidak santai secara emosional. Mata tajamnya terus mencuri pandang ke arah Kritt, berusaha sekeras mungkin untuk tidak terlihat seperti remaja haus kasih sayang.
"Aku pengin nonton film," gumam Kritt sambil menyender di sofa.
"Boleh." Suara Maxky terdengar normal, tapi jantungnya sudah berdetak seperti drum festival. "Kamu mau genre apa?"
"Random aja. Apapun, asal jangan horor. Aku bisa mimpi buruk," sahut Kritt sambil menarik selimut tipis ke atas pahanya.
Maxky berdiri dan mengambil remote. Dengan langkah hati-hati dia menghidupkan proyektor pintar yang sudah terpasang di ruangan itu.
Begitu layar besar menyala, tampilan antarmuka muncul, dengan hanya lima pilihan film.
Dan semuanya... adalah film romantis semi dewasa.
Maxky terdiam. Matanya menyipit. Lima detik.
Kritt mengangkat alis. "Ini filmnya semua begini ya?"
Maxky meraih remote dan mencoba mencari katalog lain. Tak ada. Hanya folder Romance Adult Selection.
"...Kayaknya ini settingan," gumamnya.
"Settingan?" Kritt memiringkan kepala. "Siapa yang nyetting?"
Maxky memejamkan mata sebentar. "Orang tua kita," jawabnya dengan suara datar penuh nalar dan luka batin. "Ini sudah direncanakan. Tentu saja."
"Kenapa?" Kritt masih polos, menatap layar dengan ekspresi netral.
Maxky menoleh cepat. "Karena mereka berdua sangat berharap kita... melakukan hal yang hanya bisa dilakukan dengan film begini sebagai latar belakang."
Kritt mengangguk paham. "Ah..."
Hening.
Kritt mengambil bantal kecil, memeluknya, lalu duduk merapat ke Maxky. "Ya udah, yang ini aja. Love Under the Moonlight."
Maxky menoleh, ragu. "Kamu yakin?"
Kritt mengangguk. "Yah... toh mereka udah setting semua ini. Kalau kita gak nonton, kasihan juga."
"Kamu kasihan sama siapa?" tanya Maxky, nyaris panik.
"Ya sama papaku. Sama papamu. Mereka pasti berharap keras."
Maxky menatap layar. Lalu menghela napas panjang seperti orang yang hendak melangkah ke jalur sutra neraka. "Oke. Kita nonton."
Dan film pun dimulai.
Dua karakter utama langsung tampil di layar dengan tatapan penuh hasrat dan tubuh nyaris basah karena hujan. Musiknya pelan, sensual, dan cahaya ruangan makin redup karena sensor otomatis menyesuaikan ambience dengan suasana film.
Kritt menonton dengan ekspresi netral. Sesekali tersenyum saat karakter pria memberi jasnya ke karakter wanita. Sementara Maxky... tidak lagi bernafas.
Dia duduk kaku seperti patung Buddha yang sedang dihukum karena pikiran duniawinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
2Moons
FanfictionKapal yang berlayar : JossKritt & PinSanta Ghostship Area ⏩ LGBT area☠️ so, HOMOPHOBIA dilarang mendekat. ⏩Area dewasa🔞 ⏩MPreg Area ⏩Kapal hantu bertaburan ☠️, jangan harap kapal benar berlayar disini. ⏩TYPO & kata yang hilang bertebaran. ⏩ Update...
