74 : Sang Buddha dan Malaikat Dingin

97 20 14
                                        

Suasana pagi di kediaman utama keluarga Khajornborirak tampak berbeda hari ini. Para pelayan membersihkan setiap sudut halaman dengan lebih hati-hati, bunga-bunga taman ditata ulang, dan bahkan JD dan Azzu—dua harimau Benggala kebanggaan keluarga—dimandikan sejak subuh oleh tim khusus, walau akhirnya hanya dimandikan sebagian karena JD ngambek.

Namun, hari ini bukan tentang harimau. Hari ini tentang seseorang yang akan datang... dan seseorang yang akan pergi bersamanya.

Maxky.

Perth, dengan setelan santainya yang tetap terlihat mahal, berdiri di balik tirai jendela kaca besar ruang tamu, mengintip seperti anak kecil yang baru pertama kali ikut lomba mengintip tetangga. Di sebelahnya, berdiri Pin—anak bungsunya yang berkepribadian seperti matahari yang overdosis vitamin D. Sementara suaminya, masih berada di luar negeri bersama Theo.

"Papa, kenapa kita sembunyi kayak agen rahasia?" bisik Pin, walau suaranya tetap terlalu cerah untuk ukuran bisikan.

"Ssttt. Ini momen penting," balas Perth tanpa mengalihkan pandangan. "Jangan berisik, nanti ketahuan."

Pin memonyongkan bibirnya yang merah muda alami. "Papa nggak kasih JD dan Azzu ikut? Kasian mereka... dari pagi udah duduk di samping Kakak kayak penjaga kerajaan."

Perth menoleh singkat, "Kalau perlu, papa ikat semua makhluk hidup di rumah ini. Termasuk kamu, kalau kamu ganggu mereka berdua."

Pin tertawa geli, lalu kembali mengintip. Di halaman depan, terlihat Kritt, sang kakak kembar duduk di bangku taman. Posturnya tegap, mengenakan kemeja putih gading dengan celana linen krem yang jatuh pas di pinggang rampingnya. Wajahnya tenang seperti biasanya, namun ada sorot mata berbeda... yang hanya bisa ditangkap oleh mereka yang mengenalnya lebih dari sepuluh tahun.

Itu adalah ekspresi: "Aku sedang menunggu seseorang yang membuatku gugup, tapi tidak akan aku akui."

Di sisi kakinya, JD dan Azzu berbaring dengan tenang, sesekali mengendus koper besar di samping Kritt yang sudah tertata rapi. Di dalam koper itu, terselip satu benda istimewa hasil 'perhatian' seorang ayah: sebungkus kondom dan pelumas. Perth memasukkan sendiri saat Kritt mandi. Bukan karena dia 'mendorong' apa-apa, hanya... berjaga-jaga. Siapa tahu.

Lalu, suara mesin mobil terdengar dari kejauhan. Sedan hitam elegan meluncur perlahan ke arah pelataran, lalu berhenti manis tepat di depan Kritt.

Maxky turun dari mobil.

Senyap.

Perth dan Pin menahan napas.

Maxky terlihat luar biasa hari itu. Jaket kulit tipis dipadukan dengan kaos putih dan celana jeans gelap. Rambutnya yang selalu rapi kini agak berantakan, tapi justru membuat auranya seperti model editorial majalah pria kelas atas. Sepatu sneakers-nya bersih, seperti baru keluar dari kotak. Bahkan kuncir kecil di pergelangan tangannya, yang biasa dia pakai untuk mengikat rambut saat membaca terlihat menambah daya tariknya.

Tapi itu semua tidak ada apa-apanya dibanding ekspresi wajahnya saat matanya bertemu dengan Kritt.

Maxky yang dikenal sebagai Buddha hidup, manusia paling logis, realistis, dan sulit terpancing emosi, mendadak seperti komputer yang salah booting. Hatinya melayang. Otaknya error. Nafasnya tercekat.

Kritt terlihat... terlalu cantik. Terlalu tenang. Terlalu mematikan.

Tapi tentu saja, Maxky menjaga semua itu di dalam. Wajahnya tetap datar. Bahkan sedikit lebih dingin dari biasanya, hanya untuk menjaga image-nya.

"Kamu siap?" tanyanya sambil membuka pintu mobil untuk Kritt. Suaranya terdengar tenang, padahal jantungnya sudah menggebuk seperti konser rock dalam dada.

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang